Mengenali Penyakit Autoimun dari Gejala Hingga Cara Mencegahnya

Dipublish tanggal: Jul 20, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Waktu baca: 3 menit
Mengenali Penyakit Autoimun dari Gejala Hingga Cara Mencegahnya

Penyakit autoimun adalah suatu kondisi kesehatan yang terjadi ketika sistem pertahanan alami tubuh tidak dapat membedakan sel-sel sendiri dan sel asing, sehingga menyebabkan tubuh secara keliru menyerang sel-sel normal. Ada lebih dari 80 jenis penyakit autoimun yang mempengaruhi berbagai bagian tubuh.

Ada begitu banyak penyakit autoimun, tetapi ada beberapa penyakit autoimun yang paling sering terjadi, yaitu:

Iklan dari HonestDocs
Beli Pendukung Gizi & Nutrisi via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 8
  • Rheumatoid arthritis, suatu bentuk peradangan sendi yang disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh yang menyerang sendi.
  • Psoriasis, suatu kondisi yang ditandai oleh adanya bercak kulit yang tebal dan bersisik.
  • Artritis psoriatik, sejenis artritis yang menyerang beberapa orang dengan kondisi psoriasis.
  • Lupus, penyakit yang merusak area tubuh yang meliputi persendian, kulit dan organ dalam lainnya.
  • Penyakit tiroid, termasuk penyakit Graves, di mana tubuh membuat terlalu banyak hormon tiroid (hipertiroidisme), dan tiroiditis Hashimoto, di mana tubuh tidak dapat membuat cukup hormon tiroid.

Apa Penyebab Terjadinya Penyakit Autoimun?

Dokter tidak tahu persis apa yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh menyerang sel tubuh sendiri. Namun beberapa orang memiliki kemungkinan lebih tinggi menderita penyakit autoimun dibandingkan dengan orang lain.

Menurut sebuah studi pada tahun 2014, seorang wanita memiliki kemungkinan 3 kali lipat lebih tinggi menderita penyakit autoimun dibandingkan dengan seorang pria.

Beberapa penyakit autoimun lebih sering terjadi pada kelompok etnis tertentu. Sebagai contoh, lupus mempengaruhi lebih banyak orang Afrika-Amerika dan Hispanik daripada Kaukasia.

Penyakit autoimun tertentu, seperti multiple sclerosis dan lupus, adalah penyakit autoimun yang diturunkan dalam silsilah keluarga. Tidak setiap anggota keluarga memiliki penyakit yang sama, tetapi mereka mewarisi kerentanan terhadap kondisi autoimun yang sama.

Gejala Penyakit Autoimun

Gejala awal dari banyak penyakit autoimun sangat mirip, seperti:

Penyakit tertentu juga dapat memiliki gejala uniknya sendiri. Misalnya, diabetes tipe 1 dapat menyebabkan rasa haus yang ekstrem, penurunan berat badan, dan kelelahan. Sedangkan IBD dapat menyebabkan sakit perut, kembung, dan diare.

Iklan dari HonestDocs
Beli IMBOOST FORCE 10TAB 1 STRIP via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Imboost force tablet 4

Beberapa penyakit autoimun seperti psoriasis atau RA, gejalanya mungkin datang dan pergi. Saat sedang kambuh, gejalanya disebut flare-up. Sedangkan ketika gejalanya hilang, kondisi ini disebut dengan remisi.

Bagaimana Cara Mencegah Terjadinya Penyakit Autoimun? 

Hingga saat ini para ahli masih belum mengetahui secara pasti apa penyebab terjadinya penyakit autoimun. Namun penyakit autoimun dapat dikendalikan dengan mengontrol faktor risiko seperti:

  • Kelebihan berat badan : Kelebihan berat badan atau obesitas dapat meningkatkan risiko terkena rheumatoid arthritis atau radang sendi psoriatik. Hal ini disebabkan karena berat badan yang berlebih dapat memberi tekanan lebih besar pada persendian atau karena peradangan yang disebabkan oleh jaringan lemak. Oleh karena itu, untuk menurunkan risiko terjadinya penyakit autoimun, disarankan bagi Anda untuk menjaga berat badan pada kisaran Indeks Massa Tubuh yang ideal
  • Merokok: Penelitian telah mengaitkan merokok dengan sejumlah penyakit autoimun, termasuk lupus, rheumatoid arthritis, hipertiroidisme, dan MS. Mengurangi atau berhenti merokok dapat mengurangi risiko terjadinya penyakit autoimun.
  • Obat-obatan tertentu: Beberapa penggunaan obat-obatan tertentu dapat memicu terjadinya reaksi autoimun, oleh karena itu, hindari penggunaan obat-obatan tanpa anjuran langsung dari dokter.

Bagaimana Penanganan Penyakit Autoimun?

Diagnosis

Tidak ada tes tunggal yang dapat mendiagnosis sebagian besar penyakit autoimun. Dokter Anda akan menggunakan kombinasi tes dan ulasan gejala dan pemeriksaan fisik untuk mendiagnosis penyakit autoimun.

Tes antibodi antinuklear (ANA) adalah salah satu pemeriksaan pertama yang digunakan oleh dokter ketika gejalanya menunjukkan penyakit autoimun. Jika tes menunjukan hasil positif, berarti Anda mungkin menderita salah satu dari penyakit ini, tetapi tes tersebut tidak akan mengkonfirmasi dengan pasti penyakit mana yang Anda miliki atau jika Anda memilikinya.

Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan yang mencari autoantibodi spesifik yang diproduksi pada penyakit autoimun tertentu. Dokter juga mungkin perlu melakukan pemeriksaan non spesifik untuk memeriksa peradangan yang dihasilkan oleh penyakit ini di dalam tubuh.

Pengobatan Penyakit Autoimun

Perawatan tidak dapat menyembuhkan penyakit autoimun, tetapi mereka dapat mengontrol respon imun yang terlalu aktif dan menurunkan peradangan atau setidaknya mengurangi rasa sakit dan peradangan. Obat yang digunakan untuk mengobati kondisi ini meliputi:

  • obat anti inflamasi nonsteroid (NSAID), seperti ibuprofen (Motrin, Advil) dan naproxen (Naprosyn)
  • obat penekan kekebalan tubuh
  • Perawatan juga diperlukan untuk meredakan gejala seperti rasa sakit, bengkak, kelelahan, dan ruam kulit.
  • Makan makanan yang seimbang dan berolahraga secara teratur juga dapat membantu Anda merasa lebih baik.

17 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Stiemsma L, et al. (2015). The hygiene hypothesis: Current perspectives and future therapies. DOI: (https://www.dovepress.com/the-hygiene-hypothesis-current-perspectives-and-future-therapies-peer-reviewed-article-ITT)
Ritchlin CT, et al. (2017). Psoriatic arthritis. DOI: (https://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMra1505557)

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app