Kupas Tuntas Kultur Darah yang Perlu Anda Ketahui

Dipublish tanggal: Agu 16, 2019 Update terakhir: Des 17, 2021 Tinjau pada Mar 6, 2020 Waktu baca: 4 menit
Kupas Tuntas Kultur Darah yang Perlu Anda Ketahui

Ringkasan

Buka

Tutup

  • Kultur darah adalah metode pemeriksaan yang bertujuan untuk mengidentifikasi adanya mikroorganisme di dalam darah, seperti jamur, bakteria atau parasit;
  • Kultur darah dilakukan jika terjadi bakteremia dan direkomendasikan bagi seseorang yang telah selesai menjalani pembedahan, operasi katup jantung, atau sedang melakukan pengobatan dengan obat imunosupresif;
  • Risiko kultur darah yang dapat terjadi antara lain infeksi, pingsan, hematoma, perdarahan, hingga phlebitis;
  • Jika hasil pemeriksaan menunjukkan ada bakteri di dalam darah pasien, dokter dapat menguji ketahanan bakteri dengan antibiotik;
  • Klik untuk membeli paket tes darah lengkap dengan harga bersahabat dan dokter berpengalaman melalui HDmall;
  • Gunakan fitur chat untuk berkonsultasi dengan apoteker kami secara gratis seputar obat dan paket kesehatan yang Anda butuhkan.

Anda pasti pernah melakukan tes darah lengkap yang bertujuan untuk mengetahui golongan darah dan beberapa hal lain. Namun, ada satu metode pemeriksaan darah yang berbeda dari tes yang biasa Anda jalani, yakni kultur darah. Sama-sama menggunakan darah sebagai sampel, apa bedanya kultur darah dan tes darah lengkap?

Apa itu kultur darah? 

Kultur darah adalah metode pemeriksaan yang bertujuan untuk mengidentifikasi adanya mikroorganisme di dalam darah, seperti jamur, bakteria atau parasit. 

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Antibiotik via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 24

Dalam kondisi normal, darah seharusnya bersih dari berbagai mikroorganisme. Namun, jika terdapat mikroorganisme di dalam darah, akan terjadi infeksi yang disebut dengan bakteremia atau septikemia. 

Nah, apabila kondisi ini tidak segera ditangani, mikroorganisme akan terus menyebar sehingga memyebabkan penderita mengalami sepsis, yaitu reaksi peradangan diseluruh tubuh. 

Terdapat beberapa bakteri yang dapat sembuh dengan sendirinya jika tidak menimbulkan gejala yang serius atau tidak terdeteksi, seperti Streptococcus pneumoniae atau Salmonella. Namun, apabila bakteremia muncul dengan infeksi yang serius, seperti pneumonia atau meningitis, segera konsultasikan ke dokter. Pasalnya, bakteremia yang tidak segera ditangani dapat menimbulkan kematian. 

Indikasi kultur darah 

Tes kultur darah biasanya dilakukan jika terjadi bakteremia dalam darah. Gejala bakteremia yang kerap muncul di antaranya sakit kepala, lemas, sesak napas, menggigi, demam, jantung berdebar, dan nyeri otot

Kondisi bakteremia harus ditangani dengan baik agar tidak berkembang menjadi sepsis. Bila dibiarkan, peradangan yang terjadi diseluruh tubuh dapat memicu kerusakan berbagai organ dalam tubuh. 

Gejala sepsis yang muncul dapat berupa pusing, mual, kulit berbintik-bintik, tekanan darah menurun, penurunan kesadaran, dan berkurangnya produksi urin karena turunnya fungsi organ tubuh. 

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Antiseptik via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 31

Meskipun demikian, pemeriksaan kultur darah lebih direkomendasikan bagi seseorang yang telah selesai menjalani pembedahan, operasi katup jantung, atau sedang melakukan pengobatan dengan obat imunosupresif. Hal ini karena setelah menjalani beberapa prosedur medis tersebut, pasien lebih berisiko untuk mengalami peradangan di seluruh tubuh (sepsis). 

Tidak hanya bagi pasien pasca operasi, bayi dan anak-anak juga sangat dianjurkan untuk menjalani kultur darah apabila diduga terdapat infeksi. Pemeriksaan ini juga disarankan untuk orang-orang yang menderita diabetes, kanker, penyakit autoimun, dan HIV/AIDS. 

Baca selengkapnya: Pemeriksaan Darah untuk Mendeteksi Kanker

Risiko kultur darah 

Meskipun tidak menimbulkan efek samping atau komplikasi yang serius, ada beberapa risiko yang harus diperhatikan sebelum menjalani prosedur kultur darah, seperti: 

  1. Infeksi 
  2. Pingsan 
  3. Hematoma, yakni terjadi pendarahan di bawah jaringan kulit 
  4. Pendarahan, hal ini bisa terjadi ketika pasien memiliki gangguan pembekuan darah atau mengonsumsi obat pengencer darah (aspirin atau warfarin)
  5. Phlebitis, kondisi dimana tempat pengambilan darah mengalami pembengkakan

Persiapan kultur darah 

Pada dasarnya, tidak ada hal-hal khusus yang harus dipersiapkan sebelum menjalani kultur darah. Yang terpenting, beri tahukan pada dokter mengenai obat-obatan maupun suplemen makanan yang dikonsumsi agar tidak memengaruhi hasil pemeriksaan. 

Prosedur pengambilan sampel darah 

Berikut beberapa langkah yang biasa dilakukan untuk mengambil darah guna mengetahui adanya mikroorganisme di dalam darah:

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Antibiotik via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 24
  • Sterilisasi kulit di lokasi pengambilan darah dengan cara dibersihkan menggunakan antiseptik. Hal ini bertujuan untuk mencegah terjadinya infeksi dan sampel darah terkena bakteri. Lokasi pengambilan biasanya di pembuluh vena pada lengan atas;
  • Setelah sterilisasi, dokter akan memasukkan jarum steril ke pembuluh vena pasien dan memasang botol kecil yang berguna untuk menampung darah pasien. Tidak hanya pada satu lokasi, dokter dapat mengambil darah pasien dari beberapa lokasi guna mendeteksi jamur atau bakteri dengan baik. Pada orang dewasa, lokasi pengambilan darah bisa di 2-3 tempat;
  • Setelah proses pengambilan darah selesai, titik pengambilan sampel akan ditutup dengan plester khusus agar tidak terjadi infeksi dan pendarahan. Sampel darah yang sudah diambil akan dibawa ke laboratorium untuk diperiksa. 

Baca juga: Bisakah Menentukan DBD Tanpa Periksa Darah?

Prosedur pemeriksaan kultur darah 

Pada proses pemeriksaan, sampel darah pasien yang sudah diambil biasanya akan ditempatkan dalam medium berbentuk cair. Medium ini kemudian akan disimpan di dalam ruangan khusus agar mikroorganisme yang diduga ada di dalam darah dapat bertumbuh. 

Waktu yang dibutuhkan untuk mengetahui ada tidaknya mikroorganisme dalam darah berbeda-beda, tergantung pada jenis jamur atau bakteri yang ingin dilihat. Rata-rata waktu yang dibutuhkan bakteri untuk berkembang biak adalah 5 hari. Namun, ada juga bakteri yang bahkan menghabiskan waktu hingga 4 minggu untuk dilihat pertumbuhannya. 

Apabila hasil pemeriksaan menunjukkan ada bakteri di dalam darah pasien, maka dokter dapat menguji ketahanan bakteri dengan antibiotik. Tindakan ini disebut dengan tes resistensi, dilakukan selama 24-48 jam untuk menentukan jenis antibiotik yang paling ampuh untuk membunuh bakteri yang tersebar di dalam darah. 

Jika sampel darah dari beberapa lokasi pengambilan menunjukkan hasil yang berbeda, kemungkinan telah terjadi infeksi pada kulit atau sampel telah terkontaminasi bakteri. Sedangkan bila tidak ada bakteri yang tumbuh setelah dibiarkan selama beberapa hari, maka darah pasien bersih dari mikroorganisme. 

Meskipun demikian, jika pasien tetap mengalami gejala-gejala yang sama dengan hasil positif, maka dokter bisa menyarankan pasien untuk menjalani tes tambahan guna memastikan adanya infeksi. 

Yang harus diketahui ialah medium yang digunakan sebagai tempat tumbuh virus berbeda dari medium tumbuh untuk bakteri atau jamur. Karenanya, pasien disarankan untuk melakukan tes tambahan apabila diduga terkena infeksi virus. 

Setelah kultur darah 

Jika ditemukan mikroorganisme dalam darah pasien, dokter akan memberikan antibiotik atau antijamur untuk membasmi bakteri yang ada. Bila penyebabnya karena bakteri, antibiotik diberikan melalui suntikan. 

Namun, apabila antibiotik yang efektif untuk membunuh bakteri sudah diketahui setelah tes resistensi, maka pengobatan antibiotik akan diberikan sesuai dengan hasil tes tersebut. 

11 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Susceptibility testing: At a glance. (2016, January 20) (https://labtestsonline.org/understanding/analytes/susceptibility/tab/glance/)
Ramachandran, G. (2014, January). Gram-positive and gram-negative bacterial toxins in sepsis. Virulence, 5(1), 213-218. Retrieved by (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3916377/)
Blood culture: The test. (2015, November 9) (http://labtestsonline.org/understanding/analytes/blood-culture/tab/test)

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app