Cara Mencegah dan Mengatasi Mual Setelah Olahraga

Penyebab mual setelah olahraga umumnya adalah berkurangnya suplai darah di organ pencernaan. Ketika sedang intens berlatih, darah lebih banyak mengalir masuk ke otot yang sedang dipakai, termasuk jantung, paru-paru, serta otak. Ini membuat suplai darah ke organ pencernaan berkurang.
Dipublish tanggal: Agu 26, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Tinjau pada Mar 24, 2020 Waktu baca: 3 menit
Cara Mencegah dan Mengatasi Mual Setelah Olahraga

Jangan biarkan mual setelah olahraga menghentikan Anda untuk tetap melakukan kebiasaan sehat ini. Sebaliknya, mari cari tahu bersama soal bagaimana cara mencegah dan mengatasi mual setelah olahraga.

Pada umumnya, tak semua orang mengalami sensasi mual setelah berolahraga. Kondisi ini biasanya hanya dirasakan oleh mereka yang berlatih terlalu keras saja. Efek inipun tak ada kaitannya dengan apakah seseorang merupakan olahragawan baru atau atlet yang sudah kawakan sekalipun. Semuanya bisa mengalami mual. 

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Elektrolit via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 41

Penyebab mual setelah olahraga

Penyebab mual setelah olahraga umumnya adalah berkurangnya suplai darah di organ pencernaan. Ketika sedang intens berlatih, darah lebih banyak mengalir masuk ke otot yang sedang dipakai, termasuk jantung, paru-paru, serta otak. Ini membuat suplai darah ke organ pencernaan berkurang. 

Kondisi tersebut otomatis membuat proses pencernaan terganggu sehingga muncullah sensasi mual. 

Penyebab mual lainnya ialah dehidrasi atau cuaca panas yang membuat tubuh berkeringat lebih banyak. Di satu sisi, keadaan ini memang baik karena dapat membantu proses detoksifikasi tubuh. 

Tapi di sisi lain, tubuh jadi dehidrasi dan tekanan darah pun menurun karenanya. Bila tekanan darah turun, maka itu artinya suplai darah jadi berkurang.  

Cara mengatasi mual setelah olahraga

Tak jarang, sensasi mual juga bisa muncul ketika sedang berolahraga. Kondisi tersebut sebaiknya tidak diabaikan karena ini merupakan peringatan tubuh kalau latihannya terlalu keras atau Anda kurang istirahat. Oleh sebab itu, lakukan beberapa tips berikut:

  • Segeralah minum air atau cairan elektrolit untuk mengatasi dehidrasi
  • Beristirahat di tempat teduh dan sejuk selama beberapa saat.
  • Jangan langsung latihan lagi begitu mualnya mereda, tunggu beberapa waktu lagi.
  • Segera periksa ke dokter bila mualnya tak kunjung reda, apalagi kalau disertai deretan gejala seperti demam, kram perut, nyeri dada, hingga air seni berwarna coklat.

Cara mencegah mual setelah olahraga

Yang jadi pertanyaan sekarang, adakah cara mencegah mual setelah olahraga? Tentu saja ada, dan berikut adalah tipsnya:

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Elektrolit via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 41

1. Jangan makan sembarangan

Cara mencegah mual setelah olahraga yang pertama adalah perhatikan baik-baik apa yang masuk ke dalam mulut. Lebih baik konsumsi makanan yang mengandung lemak baik, protein, serta karbohidrat kompleks seperti pisang, alpukat, atau roti gandum. 

Contoh jenis makanan lain yang efektif mencegah mual setelah olahraga adalah:

  • Kue jahe - ampuh meredakan gangguan lambung
  • Kraker/ pretzel - kandungan tepungnya membantu menyerap asam lambung
  • Sedikit selai kacang - muatan sodiumnya efektif meredakan mual
  • Air kelapa - mengandung elektrolit berupa potasium, magnesium, sodium, kalsium, serta fosfor yang baik untuk menghidrasi tubuh
  • Yogurt - kandungan probiotiknya dapat mencegah mual

Sebaliknya, jauhi gorengan, fast food, kafein, makanan pedas maupun yang tinggi kandungan asamnya. Selain butuh waktu lama untuk dicerna, gorengan dan makanan berlemak juga merangsang tubuh mengeluarkan cairan empedu untuk membantu proses pencernaan. Nah empedu ini juga bisa memperparah mual. 

Tips penting lainnya adalah sesudah makan, tunggu 1-3 jam sebelum mulai berolahraga. Momen ini bisa memberikan kesempatan pada sistem tubuh untuk mencerna makanan. 

2. Sering minum

Dikarenakan dehidrasi merupakan salah satu penyebab mual setelah olahraga, maka tubuh harus terus terhidrasi. Oleh sebab itu, minumlah air minimal 1 jam sebelum berlatih. 

Konsumsi secukupnya saja, karena kalau terlalu banyak juga bisa bikin mual. Sesudah itu, saat berlatih, tetap minum 200 ml air setiap 10-20 menit sekali.

Iklan dari HonestDocs
Beli Domperodine IF 10mg Tab via HonestDocs

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Domperidone if 10mg tab 1

3. Utamakan pemanasan dan pendinginan 

Ketika berolahraga, sebenarnya bukan hanya latihan inti saja yang penting, tapi pemanasan dan pendinginan juga. Baik pemanasan maupun pendinginan, tak hanya efektif mencegah cedera tapi juga mual. 

Melalaikan keduanya sama saja memberi kesempatan bagi otot untuk ‘terkaget-kaget’ karena langsung dibawa masuk latihan inti. Nah, hal inilah yang kemudian menimbulkan mual. 

4. Lebay

Segala sesuatu yang berlebihan tidak baik, termasuk dalam hal berolahraga. Tak hanya meningkatkan peluang cedera, lebay sewaktu berolahraga juga dapat memicu mual. Buat yang belum terbiasa berlatih intens, mulailah dari yang ringan lebih dulu dan lakukan tanpa memaksakan diri. 

Pada prakteknya nanti, Anda bisa menambah intensitasnya secara bertahap. 

Jadi, itulah tadi beberapa cara mencegah dan mengatasi mual setelah olahraga. Selamat mencoba!

10 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Samborski P, et al. (2013). Exercise-induced vomiting. DOI: (https://dx.doi.org/10.5114%2Fpg.2013.39924)
Kondo T, et al. (2001). Exercise-induced nausea is exaggerated by eating. Appetite, 36(2), 119-25. (http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/11237347)
King KS, et al. (2010). Exercise induced nausea and vomiting: Another sign of pheochromocytoma and paraganglioma preferably in young patients? DOI: (https://dx.doi.org/10.1007%2Fs12020-010-9319-3)

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app