Pneumonia Aspirasi - Tanda, Penyebab, Gejala, Cara Mengobati

Dipublish tanggal: Mar 3, 2019 Update terakhir: Nov 6, 2020 Waktu baca: 5 menit

Istilah paru-paru basah tentu sudah sangat awam di telinga masyarakat. Penyakit yang dalam bahasa medis disebut dengan pneumonia ini disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya infeksi saluran pernapasan akut. Tak hanya itu, pneumonia juga bisa terjadi ketika makanan dan asam lambung bergerak naik sampai masuk ke saluran pernapasan. Kondisi ini disebut degan pneumonia aspirasi.

Apa itu pneumonia aspirasi?

Pneumonia aspirasi adalah komplikasi dari aspirasi paru. Pneumonia aspirasi terjadi ketika makanan, asam lambung, atau air liur masuk ke paru-paru. Bisa karena tersedak atau muntah, sehingga makanan yang sudah di perut kembali naik ke esofagus.

Kondisi ini dapat menimbulkan masalah karena bakteri-bakteri dari saluran pencernaan dapat ikut masuk. Jika seseorang tidak mampu mengeluarkan kembali zat-zat asing yang terhirup tadi, maka bakteri dapat tumbuh dan menginfeksi paru-paru.

Paru-paru yang sehat umumnya bisa mengatasi hal tersebut dan zat-zat tadi akan hilang dengan sendirinya. Namun lain ceritanya jika makanan, asam lambung, atau air liur ternyata cukup banyak dan paru-paru sedang bermasalah. Akibatnya, bisa memicu komplikasi berupa pneumonia aspirasi.

Pneumonia aspirasi dapat dialami oleh siapa saja, baik anak-anak hingga orang dewasa. Akan tetapi, risikonya lebih tinggi pada pria daripada wanita. Orang yang mengalami batuk, sedang sakit, atau masalah pada sistem imun lebih rentan mengalami pneumonia aspirasi.

Pneumonia aspirasi lebih sering terjadi di rumah sakit, di mana disebabkan oleh banyaknya kuman yang ada di rumah sakit. Penelitian menunjukkan bahwa dari semua kasus pneumonia yang terjadi di luar rumah sakit (pneumonia yang didapat masyarakat), sekitar 1 dari 10 kasus disebabkan oleh pneumonia aspirasi.

Mengenai pneumonia aspirasi

Penyebab pneumonia aspirasi

Seseorang dapat mengalami pneumonia aspirasi ketika makanan atau minuman "salah jalan". Makanan yang seharusnya berada di lambung malah bergerak naik dan masuk ke paru-paru.

Pneumonia aspirasi juga bisa terjadi ketika seseorang mampu menelan dengan normal, tapi mengalami refleks muntah secara teratur. Hal ini sebetulnya bisa dicegah dengan batuk, tapi beberapa orang tidak dapat melakukannya karena mengalami salah satu hal berikut:

  • Gangguan saraf
  • Kanker tenggorokan
  • Kondisi medis seperti myasthenia gravis atau penyakit Parkinson
  • Konsumsi alkohol secara berlebihan atau penggunaan obat-obatan terlarang
  • Menggunakan anestesi atau obat penenang
  • Sistem imun lemah
  • Gangguan esofagus
  • Masalah gigi dan mulut yang mengganggu proses mengunyah atau menelan

Selain itu, ada beberapa hal yang dapat meningkatkan risiko pneumonia aspirasi, di antaranya:

  • Otot yang membantu proses menelan mulai melemah akibat stroke, penyakit Alzheimer, dan penyakit lainnya
  • Sistem imun rendah karena diabetes, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), gagal jantung, dan masalah lainnya
  • Merokok
  • Menggunakan selang makan atau ventilator yang rentan memasukkan bakteri ke paru-paru
  • Operasi atau radiasi untuk mengobati kanker di kepala atau leher
  • Kesehatan mulut yang buruk, gigi copot, atau gigi palsu
  • Alkoholisme
  • Pemberian obat melalui infus (intravena)
  • Kejang, heartburn, atau GERD

Gejala pneumonia aspirasi

Tanda dan gejala pneumonia aspirasi meliputi:

  • Sakit dada
  • Sesak napas
  • Mengi (napas berbunyi lirih) pada pemeriksaan auskultasi
  • Cepat lelah
  • Batuk, mungkin dengan dahak hijau, darah, atau bau busuk
  • Sulit menelan
  • Bau mulut
  • Keringat berlebih
  • Kulit membiru

Segera konsultasikan ke dokter bila Anda mengalami salah satu atau beberapa gejala tersebut. Beri tahukan dokter jika baru-baru ini Anda merasa ada makanan atau minuman yang terasa masuk ke dalam saluran pernapasan. 

Anak-anak usia di bawah 2 tahun dan orang dewasa usia di atas 65 tahun memiliki refleks batuk yang kurang baik. Kelompok rentan ini membutuhkan perawatan medis dan diagnosis dengan cepat.

Jangan tunda ke dokter jika Anda mengalami batuk berdahak dengan lendir berwarna atau demam lebih dari 38°C, selain mengalami gejala pneumonia aspirasi di atas.

Bila tidak segera diatasi, penyakit ini bisa memicu komplikasi parah. Infeksi dapat berkembang lebih cepat dan menyebar ke bagiant ubuh lainnya. Bahkan, bakteri di paru-paru juga dapat mengalir di darah dan sangat berbahaya.

Kantong atau abses bisa terbentuk di paru-paru. Dalam beberapa kasus, pneumonia aspirasi dapat menimbulkan jaringan parut di paru-paru dan saluran udara utama hingga syok atau gagal napas.

Dampak fatalnya, pneumonia aspirasi dapat menyebabkan kematian jika tidak cepat-cepat ditangani. Risiko kematian juga lebih besar pada penderita yang memiliki gangguan sistem imun.

Pencegahan pneumonia aspirasi

Pneumonia aspirasi tidak selalu bisa dicegah. Akan tetapi, perubahan pola hidup menjadi lebih sehat bisa membantu menurunkan risikonya.

Kebiasaan minum minuman beralkohol atau konsumsi obat-obatan terlarang dapat meningkatkan risiko pneumonia aspirasi. Keduanya sama-sama memasukkan zat racun atau toksin yang bisa mengganggu kemampuan menelan.

Selain itu, obat-obatan tertentu juga dapat memengaruhi otot atau memberikan efek samping mengantuk. Hal ini juga dapat meningkatkan risiko pneumonia aspirasi.

Beberapa tips untuk menurunkan risiko atau mencegah pneumonia aspirasi adalah:

  • Selalu jaga kebersihan gigi dan mulut.
  • Hindari merokok, konsumsi alkohol, hingga obat-obatan terlarang.
  • Makan makanan yang lunak.
  • Makan sambil duduk, lalu kunyah makanan pelan-pelan dan tidak terburu-buru.
  • Konsultasikan mengenai efek samping setiap obat-obatan yang sedang dikonsumsi.

Pengobatan pneumonia aspirasi

Dokter akan melihat tanda dan gejala pneumonia yang utama meliputi penurunan aliran napas, detak jantung, dan suara abnormal di paru-paru. Sejumlah pemeriksaan yang dapat dilakukan antara lain:

  • Rontgen dada
  • Kultur dahak, untuk memastikan jenis bakteri penyebab penyakit. Diambil selama 3-5 hari
  • Hitung darah lengkap (CBC), untuk melihat seberapa parah infeksinya
  • Analisa gas darah
  • Bronkoskopi, untuk mengetahui seberapa parah sumbatan pada saluran napas
  • CT scan daerah dada, untuk melihat tingkat kerusakan atau infeksi pada paru-paru, seperti pembengkakan atau cairan di paru-paru.
  • Kultur darah, diambil selama 3-5 hari

Penanganan pneumonia aspirasi tergantung dari seberapa jauh pneumonia aspirasi tersebut berkembang. Jika ada sesuatu yang menghalangi jalan napas, seperti benda asing atau sepotong makanan, penanganan yang dapat dilakukan adalah mengangkatnya. 

Jika pneumonia aspirasi terjadi di rumah dan gejalanya cenderung ringan, pasien mungkin tidak perlu masuk rumah sakit. Namun, jika gejalanya parah, pasien butuh perlu dirawat di rumah sakit.

Beberapa pengobatan pneumonia aspirasi yang mungkin dilakukan antara lain:

  • Memasang ventilator untuk membantu pasien bernapas.
  • Pemberian antibiotik guna membantu mengatasi infeksi dan mencegah risiko komplikasi.
  • Pemberian cairan melalui infus dan obat-obatan (disebut bronchodilators) untuk merilekskan saluran napas.
  • Fisioterapi untuk membantu mengeluarkan dahak dari dada.
  • Terapi untuk membantu mengatasi kesulitan menelan yang mungkin menjadi penyebab aspirasi sejak awal.

Kemungkinan sembuh dari pneumonia aspirasi tergantung pada penyebab awalnya, seberapa jauh pneumonia aspirasi berkembang, dan keparahan komplikasi. Hal ini juga tergantung pada seberapa cepat penyakit terdeteksi dan seberapa cepat perawatan yang efektif dimulai.


31 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Barson WJ. Community-acquired pneumonia in children: Clinical features and diagnosis. http://www.uptodate.com/home.
Mycoplasma pneumoniae infection. Centers for Disease Control and Prevention. http://www.cdc.gov/pneumonia/atypical/mycoplasma/.
Chang CC, et al. Over-the-counter (OTC) medications to reduce cough as an adjunct to antibiotics for acute pneumonia in children and adults. Cochrane Database of Systematic Reviews. http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1002/14651858.CD006088.pub4/full.

Artikel ini hanya sebagai informasi awal mengenai kondisi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Pertanyaan dan jawaban lain tentang kondisi ini
Buka di app