Doctor men
Ditulis oleh
HONESTDOCS EDITORIAL TEAM
Doctor men
Ditinjau oleh
DR VINA SETIAWAN

Antipsikotik: Obat Untuk Mengobati Skizofrenia

Update terakhir: Jul 6, 2019 Tinjau pada Apr 20, 2019 Waktu baca: 5 menit
Telah dibaca 866.060 orang

Obat antipsikotik (juga disebut obat neuroleptik, atau obat penenang utama) digunakan terutama untuk mengobati skizofrenia, gangguan bipolar, gangguan kecemasan dan depresi

Skizofrenia sendiri merupakan penyakit kejiwaan yang ditandai dengan adanya berbagai macam halusinasi seperti halusinasi visual, auditorik, dan lain-lain, dan adanya perubahan perilaku dan gejala psikotik lainnya seperti rasa merasa adanya kelebihan dibanding orang lain, paranoia yang menunjukkan adanya rasa takut berlebihan dan delirium

Diagnosis skizofrenia sendiri pun muncul setelah pasien datang dan konsultasi pada psikiater. Tetapi obat antipsikotik juga efektif dalam keadaan psikotik lainnya, seperti mania atau perubahan mood menjadi berlebihan dalam berperilaku dengan gejala psikotik.           

Semua obat antipsikotik yang tersedia saat ini yang meringankan gejala skizofrenia dengan menurunkan efek neurotransmiter dopamin dan serotonin dalam otak. Obat-obatan neuroleptik tradisional adalah inhibitor kompetitif pada berbagai reseptor, tetapi efek antipsikotik mereka mencerminkan pemblokiran reseptor dopamin yang kompetitif. 

Obat-obatan ini bervariasi dalam potensinya. Sebagai contoh, klorpromazin adalah obat dengan potensi rendah, dan fluphenazine adalah agen dengan potensi tinggi.

Tidak ada satu obat yang secara klinis lebih efektif daripada yang lain. Sebaliknya, obat antipsikotik yang lebih baru disebut sebagai atipikal (atau antipsikotik generasi kedua). Obat atipikal memiliki efek samping ekstrapiramidal (efek samping berupa gerakan motorik akibat inhibisi neurotransmiter dopamin dalam otak) yang lebih sedikit daripada obat generasi awal. 

Obat neuroleptik tidak menyembuhkan dan tidak menghilangkan gangguan pikiran yang mendasar dan kronis, tetapi obat tersebut sering menurunkan intensitas halusinasi dan delusi.

Mengenai Antipsikotik

Golongan:

Obat resep

Kandungan:

Antipsikotik 

Apa saja macam-macam jenis Antipsikotik yang beredar di pasaran ?

Secara umum, antipsikotik terbagi menjadi obat antipsikotik tipikal atau generasi pertama dan antipsikotik atipikal atau generasi yang lebih baru. Tabel dibawah ini menunjukkan jenis-jenis anti psikotik tersebut,

Antipsikotik Tipikal

Anti psikotik potensi rendah seperti Chlorpromazine, Prochlorperazine dan Thioridazine. 

Anti psikotik potensi rendah memiliki efek samping yang lebih banyak dibandingkan potensi tinggi, seperti efek kardiotoksik atau gangguan pada jantung, hipotensi postural yang dapat menyebabkan kemungkinan cedera akibat terjatuh pada pasien, dan gangguan pada kulit. 

Antipsikotik Potensi Tinggi atau obat yang hanya memerlukan dosis kecil untuk mencapai efek obat potensi rendah (chlorpromazine 100 mg). Obat-obat yang termasuk antispikotik potensi tinggi yaitu Fluphenazine, Haloperidol, Pimozide, dan Thiothixene.

Antipsikotik Atipikal

Obat-obat antipsikotik atipikal pada umumnya lebih dipilih untuk pengobatan skizofrenia saat ini karena resiko efek samping gejala ekstrapiramidalnya yang lebih ringan dibanding obat antipsikotik generasi pertama walaupun adanya peningkatan efek samping kenaikan berat badan dan gangguan seksual

Obat antipsikotik atipikal yang tersedia yaitu Aripriprazole, Clozapine, Olanzapine, Quetiapine, Paliperidone, Risperidone, dan Ziprasidone.

Apa saja efek samping yang dapat muncul setelah pengobatan Antipsikotik ?

Gejala yang paling sering muncul sebagai bentuk efek samping anti psikotik yaitu gejala ekstrapiramidal seperti:

  • dystonia,
  • akathisias (ketidakmampuan untuk tetap duduk karena kelemahan otot),
  • gejala seperti Parkinson (bradikinesia, kekakuan dan tremor),
  • tardive dyskinesia (pasien menunjukkan gerakan tidak disadari seperti pergerakan dagu dan lidah).

 Efek samping yang paling fatal yaitu sindrome neuroleptik maligna yang ditandai dengan:

  • kekakuan otot,
  • demam,
  • gangguan status mental, dan stupor,
  • tekanan darah tidak stabil,
  • myoglobinemia.

 Efek samping lain yang dapat muncul yaitu:

  • mulut kering,
  • rasa mengantuk,
  • retensi urine,
  • konstipasi,
  • tekanan darah rendah,
  • hipotensi ortostatik,
  • amenorea,
  • galaktorea,
  • ginekomastia,
  • infertilitas,
  • impotensi.

Pasien apa yang dikontraindikasikan untuk konsumsi Antipsikotik ?

Pasien dengan epilepsi dikontraindikasikan dalam pemberian antipsikotik karena neuroleptik menurunkan ambang kejang (seizure threshold).

Bagaimana penggunaan terapi Antipsikotik pada kehidupan sehari-hari ?

Neuroleptik atau anti psikotik dianggap satu-satunya pengobatan yang berkhasiat untuk skizofrenia. Tidak semua pasien merespon, dan normalisasi perilaku yang lengkap jarang tercapai. Neuroleptik tradisional paling efektif dalam mengobati gejala positif skizofrenia (delusi, halusinasi, pengolahan pikiran, dan agitasi). 

Agen baru dengan aktivitas memblokir reseptor 5-HT2A pada otak mungkin efektif pada banyak pasien yang resisten terhadap agen tradisional/tipikal, terutama dalam mengobati gejala negatif skizofrenia (penarikan sosial, emosi tumpul, ambivalensi, dan berkurangnya kemampuan untuk berhubungan dengan orang-orang.

Pengobatan skizofrenia atau penyakit kejiwaan lain dengan gejala psikotik membutuhkan terapi antipsikotik dalam jangka waktu lama. 

Obat antipsikotik tidak menyembuhkan dan tidak menghilangkan gangguan pikiran yang mendasar dan kronis, tetapi mereka sering menurunkan intensitas halusinasi dan delusi dan memungkinkan orang dengan skizofrenia berfungsi dalam lingkungan yang mendukung. Sehingga butuh terapi pemeliharaan setidaknya lima tahun dan kontrol pada psikiater berkelanjutan serta rutin dalam penggunaan antipsikotik dianjurkan.

Dosis Obat Antipsikotik

Antipsikotik Tipikal

Chlorpromazine

  • Intramuskular:  Dewasa: 25-50 mg tiap 6-8 jam. Lansia: 1/3 – ½ dosis dewasa. Anak-anak 1-12 tahun: 500 mcg/kgBB tiap 4-6 jam. Dosis maksimal 40 mg/hari (usia 1-5 tahun), 75 mg/hari (>5 tahun).
  • Oral (minum):  Dewasa: 25 mg 3 kali sehari. Dapat ditingkatkan sampai ≥ 1g per hari. Lansia: 1/3 – ½ dosis dewasa. Anak-anak 1-12 tahun: 500 mcg/kgBB tiap 4-6 jam. Dosis maksimal 40 mg/hari (usia 1-5 tahun), 75 mg/hari (>5 tahun).
  • Melalui Dubur: Dewasa: 100 mg setiap 6-8 jam.

Haloperidol

  • Intramuskular (Suntikan Otot) : Dosis: Diberikan pada kondisi psikosis akut dengan dosis 2-10 mg, diberikan setiap 1-8 jam (dengan dosis maksimal 18 mg/hari) sampai gejala terkendali.
  • Oral (minum): Anak-anak di atas 3 tahun: 25-50 mcg/kg berat badan (BB) per hari yang dibagi dalam 2 dosis. Dosis maksimal 10 mg/kgBB per hari. Dewasa: 0,5-5 mg/hari, maksimal 100 mg/hari.

Sulpiride

  • Intramuskular Dewasa: 200-800 mg/hari.
  • Oral (minum) Dewasa: 200-400 mg, 2 kali sehari. Dapat ditingkatkan sampai 1200 mg, 2 kali sehari.  Anak-anak: Diberikan pada anak-anak usia ≥ 14 tahun dengan dosis yang sama dengan dewasa.

Antipsikotik Atipikal

Aripiprazole (Oral)

  • Skizofrenia : Anak-anak ≥ 15 tahun: 2 mg untuk dua hari, ditingkatkan setiap 2 hari sampai mencapai dosis 10 mg/hari. Dosis maksimal 30 mg/hari. Dewasa: 10-15 mg satu kali setiap hari. Dosis ditingkatkan setiap 2 minggu sampai mencapai dosis 15 mg/hari. Dosis maksimal: 30 mg/hari.
  • Gangguan bipolar:  Anak-anak ≥13 tahun: 2 mg untuk dua hari, ditingkatkan setiap 2 hari sampai mencapai dosis 10 mg/hari. Dosis maksimal 30 mg/hari. Dewasa: 15 mg, satu kali setiap hari. Dosis dapat ditingkatkan setiap 2 minggu sampai 30 mg/hari. Lansia: dosis awal dikurangi sesuai anjuran dokter.

Risperidone (Oral) 

  • Skizofrenia : Dewasa: 2 mg/hari, ditingkatkan 1-2 mg setiap minggu sampai mencapai 4-6 mg/hari. Dosis maksimal: 16 mg/hari. Lansia: 0,5 mg 2 kali sehari. Dosis ditingkatkan sampai 1-2 mg 2 kali sehari. 
  • Gangguan bipolarDewasa: 2-3 mg sekali sehari. Dapat ditingkatkan 1 mg setiap hari, sampai dosis maksimal 6 mg/hari. 

Peringatan

  • Beritahukan kepada dokter aika Anda memiliki riwayat penyakit paru-paru, gangguan hati, ginjal, jantung, diabetes, epilepsi, depresi, prostat, kelainan darah.
  • Lakukan pemeriksaan fisik dan tes medis seperti EKG, tes darah dan lainnya sebelum menggunakan obat antipsikotik.
  • Hindari konsumsi obat dengan alkohol
  • Beritahukan kepada dokter jika Anda memiliki alergi terhadap jenis obat antipsikotik.
  • Beritahukan kepada dokter jika sedang mengkonsumsi obat-obatan lain. 
  • Jangan menghentikan penggunaan obat antipsikotik secara tiba-tiba tanpa adanya saran dari dokter

Referensi

Gardner, D. et. al. (2005). Modern antipsychotic drugs: a critical overview. CMAJ. 172(13), pp. 1703–1711.

Holder, S. et. al. (2017). Psychotic and Bipolar Disorders: Antipsychotic Drugs. FP Essent. 455, pp. 23-29.

Mims Indonesia (2018). Aripupraziole,

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Punya pertanyaan? Tanyakan kepada dokter di bawah ini

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.
Submit

Pesan Pengiriman Obat Ini

Chat dengan kami di WhatsApp! Kami dapat membantu mengantarkan obat ke rumah Anda se-Indonesia dalam waktu 3 hari atau lebih cepat dalam 24 jam di wilayah DKI Jakarta dengan pembayaran melalui transfer bank atau Go-Pay. Catatan: Kami bukanlah apotek atau toko obat dan kami tidak menjual obat secara langsung. Jasa pengiriman kami bertujuan untuk memberikan kenyamanan kepada pasien dengan pengambilan pesanan obat Anda di apotek. Perlu diketahui bahwa ada obat-obatan tertentu yang tidak dapat dikirimkan sesuai dengan ketentuan hukum

Chat di WhatsApp