Akathisia: Efek Samping Obat Antipsikotik yang Harus Segera Ditangani

Karena gejala utama yang terjadi membuat penderita merasa gelisah dan memiliki dorongan untuk terus bergerak yang tidak dapat dikendalikan, biasanya penderita akathisia akan melakukan gerakan secara berulang, seperti:
Dipublish tanggal: Sep 11, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Tinjau pada Mar 31, 2020 Waktu baca: 3 menit
Akathisia: Efek Samping Obat Antipsikotik yang Harus Segera Ditangani

Pernah mendengar istilah akathisia? Jadi, akathisia merupakan suatu gejala berupa perasaan gelisah, tidak bisa diam, dan dorongan yang tidak terkendali untuk menggerakan tubuh. 

Hal ini terjadi akibat penggunaan obat-obatan tertentu. Untuk mengetahui informasi mengenai penyebab, gejala, dan cara mengatasi akathisia, simak ulasannya di bawah ini! 

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Saraf & Otak via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 5

Akathisia merupakan suatu gangguan pergerakan yang membuat adanya gerakan yang dilakukan secara terus-menerus tanpa jeda. 

Kondisi ini merupakan efek samping dari penggunaan obat antipsikotik yang dipakai untuk mengobati gangguan kesehatan mental, seperti bipolar, skizofrenia, dan depresi berat. 

Berdasarkan perjalanan penyakitnya, akathisia di bagi menjadi 3 jenis, yaitu: 

  • Akathisia akut, memiliki gejala yang muncul segera setelah mengonsumsi obat antipsikotik, dan berlangsung selama kurang dari enam bulan. 
  • Akathisia kronis, memunculkan gejala yang akan bertahan selama lebih dari enam bulan. 
  • Akathisia tardif, gejala akan muncul beberapa bulan atau beberapa tahun setelah penggunaan obat antipsikotik. 

Gejala akathisia 

Saat seseorang mengalami efek samping dari obat antipsikotik, gejala utama yang muncul adalah perasaan gelisah dan dorongan untuk terus bergerak yang tidak dapat dikontrol. Gejala lain yang juga beriringan dengan gejala utama berupa: 

  • Memiliki rasa tidak sabar
  • Diserang kepanikan 
  • Mudah marah 

Karena gejala utama yang terjadi membuat penderita merasa gelisah dan memiliki dorongan untuk terus bergerak yang tidak dapat dikendalikan, biasanya penderita akathisia akan melakukan gerakan secara berulang, seperti: 

  • Berjalan mondar-mandir.
  • Tangan dan seluruh tubuh diayunkan, baik sambil berdiri maupun duduk. 
  • Memindahkan berat badan dari kaki yang satu ke kaki yang lainnya saat sedang berdiri. 
  • Berjalan sambil menyeret kaki.
  • Mengangkat lutut seperti sedang melakukan kegiatan baris-berbaris.
  • Mengulurkan tangan atau mengayunkan kaki sambil duduk. 

Waspada penggunaan obat-obatan penyebab akathisia 

Obat antipsikotik merupakan jenis obat-obatan yang dapat menimbulkan efek samping berupa akathisia. Obat antipsikotik tersebut termasuk chlorpromazine, fluphenazine, haloperidol, dan aripiprazole

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Langung Dikirim!

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads sept20

Selain itu, obat yang digunakan untuk menurunkan tekanan darah yang termasuk dalam golongan calcium channel blocker, antidepresan, dan obat pereda mual dan muntah juga dapat menyebabkan efek samping berupa akathisia. 

Meskipun berpotensi menyebabkan efek samping berupa rasa gelisah dan lainnya, pada beberapa pengguna, obat antipsikotik di atas tidak akan membuat mereka mengalami akthisia. 

Terdapat 20 hingga 70 persen pengguna obat-obatan antipsikotik di atas yang mengalami efek samping, terlebih selama beberapa minggi pertama setelah pengobatan dimulai. 

Sampai saat ini, penyebab dari munculnya efek samping ini masih belum diketahui secara pasti. 

Namun, beberapa ahli mengatakan bahwa efek samping ini bisa saja terjadi akibat terblokirnya reseptor otak yang sensitif terhadap zat dopamin oleh obat antipsikotik. 

Dopamin merupakan zat kimia yang terdapat di otak yang berfungsi untuk mengantarkan pesan agar membantu mengontrol gerakan. 

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Langung Dikirim!

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads sept20

Tidak hanya dopamin, terdapat beberapa zat kimia lainnya yang juga diduga berperan dalam kemunculan efek samping ini, seperti asetilkolin, serotonin, dan GABA. 

Faktor risiko akathisia 

Penggunaan obat antipsikotik generasi lama dalam jumlah yang tinggi akan meningkatkan risiko seseorang mengalami akathisia. 

Akathisia rentan terjadi pada orang dewasa dan lansia, dan juga pada pengguna yang menaikkan dosis obat antipsikotik secara tiba-tiba. 

Beberapa kondisi yang diduga memiliki hubungan dengan risiko terjadinya efek samping akibat obat antipsikotik, anata lain: 

Penanganan medis akathisia 

Penggunaan obat-obatan antipsikotik harus segera mendapatkan pertolongan atau penanganan medis apabila telah menunjukkan gejala-gejala efek samping. 

Pada sebagian besar kasus akathisia, dokter akan mengatasi kondisi ini dengan menurunkan dosis obat atau mengganti obat yang digunakan dengan jenis obat lain yang aman, atau tidak berisiko menimbulkan efek samping. 

Hingga saat ini, masih belum ditemukan pengobatan yang tepat untuk menyembuhkan akathisia.

 Akan tetapi, dokter akan memberikan obat tambahan, seperti obat penenang golongan benzodiazepin, obat penurun tekanan darah, obat antikolinergik, atau obat untuk penyakit parkinson

Beberapa obat tersebut diberikan guna memabntu meringankan gejala efek samping yang muncul. Selain itu, dalam beberapa penelitian, ditemukan bahwa vitamin B6 mampu meredakan gejala akathisia. 

Meskipun demikian, tidak semua kasus akathisia dapat diatasi dengan pemberian obat-obatan di atas. 

Oleh karena itu, pengguna obat antipsikotik yang mengalami akathisia perlu mendapatkan penanganan medis sesegera mungkin. 

Pasalnya, keterlambatan penanganan akan menyebabkan penderita mengalami stres, gangguan perilaku, psikosis berat, hingga muncul pikiran untuk bunuh diri atau melakukan tindak kekerasan. 

Jadi, segera konsultasikan dengan dokter apabila muncul gejala akathisia setelah mengonsumsi obat-obatan tertentu.  

11 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Wielenga-Boiten, J. E., Ribbers, G. M. (2012). Akathisia—rare cause of psychomotor agitation in patients with traumatic brain injury: Case report and review of literature. Journal of Rehabilitation Research & Development, 49(9), 1349-1354 (http://www.rehab.research.va.gov/jour/2012/499/wielenga499.html)
Sethuram, K., Gedzior, J. (2014, September 16). Akathisia: Case presentation and review of newer treatment agents. Psychiatric Annals, 44(8), 391-396 (http://www.healio.com/psychiatry/journals/psycann/2014-8-44-8/%7Bea0388e1-b8ea-4061-973a-fe3485f799f8%7D/akathisia-case-presentation-and-review-of-newer-treatment-agents#x00485713-20140806-07-bibr33)

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app