3 Hal yang Bisa Meningkatkan Risiko Anda Terkena Kanker Usus

Dipublish tanggal: Agu 22, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Tinjau pada Mar 11, 2020 Waktu baca: 3 menit
3 Hal yang Bisa Meningkatkan Risiko Anda Terkena Kanker Usus

Kanker kolorektal, adalah kanker yang mempengaruhi usus besar dan dubur. 

Menurut Yayasan Kanker Indonesia, di Indonesia, kanker kolorektal menempati posisi ke-2 terbanyak pada pria, berada di bawah kanker paru di urutan pertama. 

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Diabetes via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 36

Sedangkan pada wanita, kanker kolorektal menempati urutan ke-3, di bawah kanker payudara dan kanker rahim.

Faktor Risiko Kanker Kolorektal

Faktor risiko adalah segala sesuatu yang mempengaruhi peluang Anda terkena penyakit seperti kanker. Kanker yang berbeda memiliki faktor risiko yang berbeda pula. 

Beberapa faktor risiko, seperti merokok, dapat diubah. Sedangkan beberapa faktor lainnya, seperti usia seseorang atau riwayat keluarga, tidak dapat diubah.

Tetapi memiliki satu faktor risiko, atau bahkan banyak faktor risiko, tidak berarti Anda akan terkena penyakit tersebut. Dan pada beberapa kasus, orang yang terkena penyakit ini bahkan tidak memiliki faktor risiko yang diketahui.

Faktor risiko Kanker Kolorektal yang bisa Anda ubah

Banyak faktor yang berhubungan dengan gaya hidup yang berkaitan dengan kanker kolorektal. Faktanya, hubungan antara diet, berat badan, dan olahraga dengan risiko kanker kolorektal adalah beberapa faktor yang terkuat untuk semua jenis kanker.

Kelebihan Berat Badan atau Obesitas

Jika Anda kelebihan berat badan atau obesitas (sangat gemuk), risiko Anda terkena dan meninggal akibat kanker kolorektal lebih tinggi. 

Iklan dari HonestDocs
Beli Onkologi via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 19

Kelebihan berat badan (terutama yang memiliki ukuran pinggang lebih besar) meningkatkan risiko kanker usus besar dan dubur pada pria dan wanita, tetapi kaitan dari kondisi ini tampaknya lebih kuat pada pria.

Kurang Berolahraga

Jika Anda tidak aktif secara fisik, Anda memiliki peluang lebih besar terkena kanker usus besar. 

Sebaliknya dengan rajin berolahraga, tidak hanya memperbaiki penampilan Anda, tetapi juga dapat membantu menurunkan resiko Anda menderita kanker usus.

Pola Makan

Mengkonsumsi terlalu banyak daging merah (seperti daging sapi, babi, domba, atau hati) dan daging olahan (seperti hot dog dan beberapa daging dalam kemasan kaleng) dapat meningkatkan risiko menderita kanker kolorektal.

Memasak daging pada suhu yang sangat tinggi (menggoreng atau memanggang) menciptakan bahan kimia yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker. 

Tetapi hingga saat ini, tidak jelas seberapa besar kondisi ini dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker kolorektal.

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Diabetes via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 36

Merokok

Orang yang telah merokok tembakau untuk waktu yang lama lebih mungkin mengembangkan dan meninggal akibat kanker kolorektal daripada yang bukan perokok. 

Merokok dikenal sebagai penyebab kanker paru-paru, tetapi kondisi ini juga dinilai dapat menyebabkan banyak jenis kanker lainnya. 

Rutin Mengkonsumsi Alkohol Dalam Jumlah Berlebihan

Kanker kolorektal telah dikaitkan dengan penggunaan alkohol sedang hingga berat. 

Membatasi penggunaan alkohol untuk tidak lebih dari 2 minuman sehari untuk pria dan 1 minuman sehari untuk wanita dapat memiliki banyak manfaat kesehatan, termasuk risiko yang lebih rendah dari berbagai jenis kanker.

Faktor Risiko Kanker Kolorektal yang tidak dapat Anda ubah

  • Usia. Risiko kanker kolorektal Anda meningkat seiring bertambahnya usia. Orang dewasa yang lebih muda bisa menderita kanker kolorektal, tetapi kanker kolorektal jauh lebih umum setelah berusia 50 tahun.
  • Riwayat menderita polip kolorektal atau kanker kolorektal.
  • Riwayat menderita penyakit radang usus.
  • Riwayat keluarga dengan kanker kolorektal atau polip adenomatosa.
  • Memiliki sindrom turunan. Lynch syndrome (kanker usus besar non-poliposis herediter atau HNPCC).
  • Latar belakang ras dan etnis Anda. 
  • Menderita diabetes tipe 2. Orang dengan diabetes tipe 2 (biasanya tidak tergantung insulin) memiliki peningkatan risiko kanker kolorektal. Kedua penyakit, baik diabetes tipe 2 dan kanker kolorektal memiliki beberapa faktor risiko yang sama (seperti kelebihan berat badan dan aktivitas fisik). Tetapi bahkan tanpa mempertimbangkan faktor-faktor ini, penderita diabetes tipe 2 masih memiliki resiko menderita kanker yang lebih tinggi dibandingkan dengan seseorang yang tidak menderita. Selain itu, mereka juga cenderung memiliki angka harapan hidup yang rendah setelah didiagnosis.

Faktor-faktor dengan efek yang tidak jelas pada risiko Kanker Kolorektal

Kerja shift malam

Beberapa penelitian menunjukkan bekerja shift malam secara teratur dapat meningkatkan risiko kanker kolorektal. 

Diperkirakan ini mungkin karena perubahan kadar melatonin, hormon yang merespons perubahan cahaya. Dibutuhkan lebih banyak penelitian mengenai kondisi ini.

18 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app