Kanker Kolorektal : Penyabab, Gejala, dan Penanganan

Update terakhir: Jul 6, 2019 Waktu baca: 3 menit
Telah dibaca 681.120 orang

Definisi Kanker Kolorektal

Kanker kolorektal, sering disebut kanker bowel, kanker usus besar atau kanker rektum, yaitu kanker yang terdapat pada usus besar dan/atau rektum. Kanker ini sering digabungkan karena memiliki banyak kesamaan. 

Pada kebanyakan kasus, kanker usus besar terjadi dimulai dengan sel yang berukuran kecil yang tidak bersifat kanker yang disebut adenomatous polyps. Seiring waktu, polip dapat berkembang menjadi kanker.

Penyebab Kanker Kolorektal

Penyebab dari kanker kolorektal masih belum jelas. Menurut dokter, kanker kolorektal terjadi karena sel yang sehat pada kolorektal mengalami kerusakan pada DNA nya. Sel yang sehat tumbuh dan membelah dalam pla yang seragam sehingga tubuh dapat berfungsi normal

Namun, saat DNA rusak dan menjadi bersifat kanker, sel akan terus membelah, bahkan saat pembelahan tersebut tidak diperlukan. Sel akan terakumulasi dan membentuk tumor. 

Seiring berjalannya waktu, sel kanker akan terus tumbuh, menyerang dan menghancurkan jaringan yang tergolong normal di dekatnya, dan sel kanker dapat berpindah ke bagian tubuh yang lain dan membentuk sel lain di sana (metastasis).

  • Mutasi gen turunan dapat meningkatkan risiko kanker kolorektal
    Mutasi gen turunan tidak menyebabkan kanker menjadi tidak dapat dihindarkan, akan tetapi dapat meningkatkan risiko seseorang terkena kanker secara signifikan.

    Jenis sindrom kanker kolorektal turunan yang paling umum antara lain:
    - Kanker kolorektal herediter nonpoliposis
    - Familial Adenomatous Polyposis (FAP)
  • Hubungan antara diet dengan peningkatan risiko kanker kolorektal
    Orang-orang yang makan makanan banyak mengandung lemak dan sedikit serat memiliki peningkatan risiko kanker yang signifikan.

Faktor risiko Kanker Kolorektal

  • Usia yang semakin tua. Kebanyakan orang yang terdiagnosa kanker kolorektal adalah orang berumur lebih dari 50 tahun. Kanker kolorektal cukup jarang terjadi pada usia muda.
  • Ras Afrika-Amerika.
  • Riwayat kanker kolorektal atau polip.
  • Peradangan pada usus. Contohnya ulcerative colitis dan Crohn’s disease.
  • Sindrom turunan yang menyebabkan peningkatan risiko kanker kolorektal. Contohnya Lynch Syndrome.
  • Mengonsumsi makanan yang rendah serat dan tinggi lemak.
  • Gaya hidup yang tidak aktif secara fisik.
  • Diabetes.
  • Obesitas
  • Merokok
  • Alkohol
  • Terapi radiasi untuk kanker

Gejala Kanker Kolorektal

  • Perubahan kebiasaan buang air besar
  • Diare atau sembelit
  • Merasa perut tidak kosong bahkan setelah buang air besar
  • Darah pada feses yang menyebabkan feses berwana kehitaman
  • Darag segar keluat dari rektum
  • Rasa sakit dan kembung pada perut
  • Rasa kenyang bahkan belum makan untuk waktu yang lama
  • Rasa lelah
  • Berat badan yang turun secara tiba-tiba
  • Adanya gumpalan di perut atau punggung saat diperiksa oleh dokter
  • Terjadi kekurangan zat besi yang tidak dapat dijelaskan pada pria atau wanita yang menopause

Pencegahan Kanker Kolorektal

  • Pemerikasaan secara rutin. Terutama untuk orang-orang yang pernah mengalami kanker kolorektal, orang yang berumur 50 tahun, orang yang memiliki riwayat kanker yang sama pada keluarga, atau memiliki Crohn’s Disease.
  • Nutrisi. Mengonsumsi makanan yang mengandung banyak serat, buah, sayut dan karbohidrat dengan kualitas yang baik dan mengurangi konsumsi daging merah dan masak. Berpindah dari lemak jenuh ke lemak yang baik seperti alpukat, minyak zaitun, minyak ikan dan kacang-kacangan.
  • Olahraga. Olahraga yang moderat dan rutin dapat menurunkan risiko berkembangnya kanker kolorektal.
  • Berat badan. Orang yang memiliki kelebihan berat badan memiliki risiko terkena kanker, termasuk kanker kolorektal.

Diagnosa Kanker Kolorektal

  • Pengecekan adanya darah pada feses. Namun, hasil tidak terlalu akurat, karena bisa jadi diakibatkan kondisi lain seperti hemoroid.
  • Tes DNA pada feses. Tes ini menganalisa adanya jejak DNA kanker kolorektal atau polip yang belum bersifat kanker pada feses. Tes ini lebih akurat untuk mendeteksi adanya kanker kolorektal daripada polip, tetapi tidak dapat mendeteksi mutasi DNA yang menyebabkan tumor.
  • Flexible sigmoidoscopy.
  • Barium enema X-ray.
  • Colonoscopy
  • CT Colonography
  • Imaging Scans

Penanganan Kanker Kolorektal

  • Operasi pengangkatan kanker kolorektal. Bagian yang terpengaruh kanker dan nodus limpa didekatnya diangkat, untuk mengurangi risiko penyebaran kanker.
  • Kemoterapi. Kemoterapi menggunakan obat atau zat kimia untuk menghancurkan sel kanker, sangat umum untuk mengobati kanker kolorektal. Sebelum prosedur operasi, kemoterapi dapat mengecilkan ukuran kanker.
  • Terapi radiasi. Terapi ini menggunakan energi sinar radiasi yang tinggi untuk menghancurkan kanker untuk mencegah penggandaan kanker, cukup umum digunakan pada kanker rektum.
  • Ablasi. Merupakan metode untuk menghancurkan tumor tanpa mengangkat tumor tersebut dengan menggunakan radiofrequecy, ethanol, atau cyrosurgery, yang dimasukkan dengan jarum yang diarahkan dengan ultrasound atau teknologi CT Scan.

Referensi

American Cancer Society (2018). Colorectal Cancer.

Kuipers, et al. (2015). Colorectal Cancer. Nature Reviews Disease Primers, doi:10.1038/nrdp.2015.65.

Marley, AR. Nan, H. (2016). Epidemiology of Colorectal Cancer. International Journal of Molecular Epidemiology and Genetics, 7(3), pp. 105-114.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Pertanyaan dan jawaban lain tentang kondisi ini

Punya pertanyaan? Tanyakan kepada dokter di bawah ini

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.
Submit