Doctor men
Ditulis oleh
HONESTDOCS EDITORIAL TEAM
Doctor men
Ditinjau oleh
VINA SETIAWAN

Thiamphenicol: Manfaat, Dosis, & Efek Samping

Update terakhir: NOV 14, 2019 Tinjau pada NOV 14, 2019 Waktu baca: 3 menit
Telah dibaca 1.401.978 orang

Jika Anda pernah mengalami sakit tipes, Anda pasti pernah diresepkan obat antibiotik oleh dokter. Biasanya dokter akan meresepkan obat Chloramphenicol, karena sesuai pedoman pengobatan tipes, obat antibiotik pilihan utamanya adalah Chloramphenicol.

Tetapi dewasa ini, pengobatan tipes menggunakan Chloramphenicol agak mulai berkurang, mengapa?

Iklan dari HonestDocs
Blackmores Pregnancy Breast Feeding Gold

Nutrisi esensial bagi kesehatan ibu dan perkembangan bayi selama 1000 hari pertama kehidupan. Dapatkan GRATIS ongkir* ke seluruh wilayah Indonesia!

Blackmores pregnancy   breat feeding gold sku

Karena penggunaan Chloramphenicol dinilai kurang efektif karena kebanyakan kasus sakit tipes yang mendapatkan pengobatan Chloramphenicol akan mengalami kekambuhan.

Oleh karena itu penggunaan antibiotik Chloramphenicol mulai dikurangi dalam penanganan tipes dan diganti dengan antibiotik dengan golongan yang sama yaitu Thiamphenicol. Untuk lebih jelasnya mengenai penggunaan obat ini, mari disimak artikel yang satu ini.

Apa saja kegunaan obat Thiamphenicol?

Thiamphenicol adalah obat antibiotik yang memiliki spektrum aktivitas yang luas mirip dengan Chloramphenicol.

Thiamphenicol memiliki zat aktif yang lebih sedikit jika dibandingkan dengan Chloramphenicol tetapi memiliki efektifitas yang sama dan lebih aktif terhadap bakteri Haemophilus dan Neisseria spp.

Thiamphenicol secara reversibel mengikat 50-an subunit ribosom bakteri yang menghalangi transpeptidation dan menghambat sintesis protein dari bakteri yang rentan, sehingga menghambat pertumbuhan sel.

Kegunaan Thiamphenicol adalah untuk pengobatan kondisi-kondisi berikut :

  • Untuk mengobati sakit tipes yang dikenal dengan istilah demam tifoid, paratifoid, infeksi Salmonella sp sp, H. influenzae, terutama infeksi meningeal, Rickettsia, Lympogranulloma psittacosis, bakteri gram negatif penyebab bakteri meningitis, infeksi kuman yang resisten terhadap antibiotik lain.
  • Antibiotik ini sangat umum digunakan untuk pengobatan infeksi saluran pernafasan, infeksi saluran pencernaan, dan infeksi saluran kemih misalnya gonore.

Thiamphenicol tidak dianjurkan digunakan pada kondisi-kondisi seperti :

  • Alergi antibiotik thiamphenicol dan antibiotik derivat chloramphenicol lainnya.
  • Sebaiknya tidak diberikan kepada pasien dengan gangguan fungsi ginjal dan hati.
  • Penderita depresi sumsum tulang
  • Baru saja menjalani imunisasi aktif
  • Perlu diketahui antibiotik ini digunakan untuk mengobati infeksi bakteri, tidak dianjurkan untuk pengobatan influenza, batuk pilek dan infeksi lain yang disebabkan oleh virus.

Bagaimana dosis dan cara penggunaan obat ini?

Berdasarkan kemasannya, antibiotik ini memiliki komposisi sebagai berikut:

Iklan dari HonestDocs
Mau Pesan Obat? Beli Aja via HonestDocs!

Klik di sini dan beli obat via HonestDocs, langsung dapat GRATIS ongkir* ke seluruh wilayah Indonesia!

Iklan obat

Kemasan sirup

  • Antibiotik ini mengandung 125 mg Tiamfenikol dalam setiap 5 ml sirup atau satu sendok takar.

Kemasan kapsul

  • Kapsul yang mengandung 500 mg Tiamfenikol
  • Kapsul yang mengandung 250 mg Tiamfenikol

Untuk dosisnya sendiri, Thiamphenicol biasanya digunakan seperti di bawah ini, namun yang perlu Anda ketahui tentang penggunaan antibiotik yaitu, Antibiotik tidak boleh sembarangan digunakan karena memerlukan resep dokter dalam penggunaannya.

  • Dewasa : 4 kali sehari 250-500 mg.
  • Anak-anak atau bayi berusia lebih dari 2 minggu : 50 mg/kg berat badan/hari dibagi menjadi 3-4 kali pemberian.
  • Bayi berusia kurang dari 2 minggu : 25 mg/kg berat badan/hari dibagi menjadi 4-6 kali pemberian.
  • Bayi prematur : 25 mg/kg berat badan/hari dibagi menjadi 2 kali pemberian.

Apakah aman mengkonsumsi Thiamphenicol selama kehamilan atau menyusui?

Thiamphenicol adalah obat dengan kategori risiko kehamilan C, menurut Badan Pengolahan Obat dan Makanan di AS (FDA). Artinya pada penelitian yang dilakukan pada hewan, menunjukan adanya gangguan pada kehamilan, tetapi tidak ada studi yang dilakukan pada manusia yang membuktikan adanya resiko saat menggunakan Thiamphenicol selama masa kehamilan atau saat menyusui.

Harap selalu berkonsultasi dengan dokter Anda untuk mempertimbangkan manfaat dan risiko potensial sebelum menggunakan obat ini.

Apa efek samping yang dapat ditimbulkan dari penggunaan Thiamphenicol?

Thiamphenicol dapat menyebabkan berbagai efek samping seperti:

  • Hipersensitivitas atau reaksi alergi
  • Gangguan pencernaan seperti mual, muntah,diare dan sebagainya
  • Sariawan
  • Radang tenggorokan
  • Kebingungan
  • Peradangan saraf mata 
  • Kelainan darah seperti thrombositopenia, anemia aplastik
  • Reaksi Jarish-Herxheimer dimana bakteri yang mati terbawa masuk ke dalam aliran darah dan sistem kekebalan tubuh mengenalinya sebagai benda asing, sehingga menimbulkan gejala peradangan
  • Penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan perdarahan, perifer, dan neuritis optic
  • Gray baby syndrome pada bayi

Tidak semua orang akan mengalami efek samping ini. Mungkin ada beberapa efek samping yang tidak tercantum di atas. Jika Anda memiliki efek samping lain, silakan berkonsultasi dengan dokter atau apoteker Anda.

Obat apa yang dapat berinteraksi dengan Thiamphenicol?

Thiamphenicol dapat berinteraksi dengan obat lain yang Anda gunakan saat ini, yang dapat mengubah cara kerja obat yang Anda gunakan atau meningkatkan risiko efek samping yang serius. Interaksi obat yang sering dilaporkan adalah:

  • Thiamphenicol dapat mengubah efek tolbutamide, phenytoin, dicoumarol, dan obat lain yang dimetabolisme di hati.
  • Thiamphenicol dapat meningkatkan efek warfarin dan sulfonylurea.
  • Thiamphenicol meningkatkan kadar fenitoin plasma.
  • Metabolisme Tiamfenikol meningkat oleh fenobarbital dan rifampisin.

Untuk menghindari kemungkinan interaksi obat, Anda harus menyimpan daftar semua obat yang Anda gunakan (termasuk obat resep, obat non resep, dan produk herbal) dan memberitahukannya kepada dokter dan apoteker Anda. Demi keselamatan, jangan memulai, menghentikan, atau mengubah dosis obat apapun tanpa persetujuan dari dokter Anda.


Referensi

Antimicrobe (2010). Salmonella typhi and S. paratyphi (Paratyphoid Fever).

Belda Jr., et al. (2000). Thiamphenicol in the Treatment of Chancroid. Revista do Instituto de Medicina Tropical, 42(3), pp. 133-135.

Belda, Jr., et al. (2009). A Comparative Study of Single-Dose Treatment of Chancroid Using Thiamphenicol versus Azithromycin. The Brazilian Journal of Infection Diseases, 13(3), pp. 218-220.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Punya pertanyaan? Tanyakan kepada dokter di bawah ini

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.
Submit

Pesan Pengiriman Obat Ini

Ingin beli obat ini? Chat dengan kami di WhatsApp! Kami dapat membantu mengantarkan obat ke rumah Anda se-Indonesia dengan pembayaran via bank transfer, kartu kredit, COD (di sebagian besar kota), Alfamart, dan OVO. Catatan: Kami bukanlah apotek atau toko obat dan kami tidak menjual obat secara langsung. Jasa pengiriman kami bertujuan untuk memberikan kenyamanan kepada pasien dengan pengambilan pesanan obat Anda di apotek. Perlu diketahui bahwa ada obat-obatan tertentu yang tidak dapat dikirimkan sesuai dengan ketentuan hukum.

Chat di WhatsApp
Pencarian yang sering mengarah ke halaman ini