Kusta: Penyebab, Gejala, dan Pengobatan

Dipublish tanggal: Mar 4, 2019 Update terakhir: Jan 21, 2020 Tinjau pada Agu 2, 2019 Waktu baca: 3 menit

Apakah Penyakit Kusta itu?

Penyakit kusta atau yang dikenal dengan lepra atau morbus hansen ini menyerang bagian saraf, kulit, mata, atau selaput lendir pada saluran pernapasan atas sehingga penderita kusta memiliki ciri khas yang dapat terlihat dengan jelas. Meski kusta tidak dapat menular dengan mudah, tetapi jika terkena kontak dengan cairan dari hidung atau mulut penderita kusta maka penularan dapat terjadi. Hal ini biasanya terjadi pada anak-anak dan lansia dibandingkan dengan orang dewasa.

Hari Kusta Sedunia (World Leprosy Day) diperingati setiap hari Minggu terakhir bulan Januari di mana tahun 2020 ini akan diperingati tanggal 26 Januari. Kusta sendiri bisa diobati dengan pemberian obat-obatan tetapi jika kusta tidak segera ditangani, maka dapat menimbulkan komplikasi berbahaya seperti kebutaan, kerusakan di bagian wajah, gagal ginjal, hingga kerusakan permanen di beberapa bagian wajah seperti hidung dan saraf.

Mengenai Penyakit Kusta

Penyebab Penyakit Kusta 

Penyakit kusta atau lepra adalah salah satu penyakit yang diakibatkan oleh mikroorganisme bernama Mycobacterium leprae (M. leprae). Bakteri ini merupakan jenis bakteri yang tumbuh secara lambat sehingga bakteri kusta sendiri dapat berkembang dalam tubuh hingga berbulan-bulan atau berpuluh tahun lamanya.

Penanganan penyakit kusta membutuhkan kepatuhan dalam mengonsumsi obat karena masa pengobatannya dapat mencapai waktu satu tahun. Hal ini dikarenakan pertumbuhan bakteri yang terjadi dalam waktu yang lama. Pertumbuhan penyakit kusta lebih mudah terjadi pada cuaca lembab dan suhu rendah. 

Orang yang terserang infeksi lepra di dalam tubuhnya tidak langsung menimbulkan gejala, tetapi bakteri Mycobacterium leprae akan berinkubasi selama kurun waktu kurang lebih hingga 5 tahun sebelum munculnya gejala yang sering terlihat, mulai dari area tangan, wajah, dan kaki. Hal ini membuat orang tidak menyadari bahwa dirinya menderita kusta jauh sebelum munculnya gejala selama 5 tahun tersebut.

Tak hanya disebabkan oleh penularan bakteri, tetapi faktor lingkungan dan kebersihan diri sendiri juga mempengaruhi rentannya serangan bakteri kusta. Faktor imunokompromis seperti pada daerah dengan populasi HIV yang tinggi dapat beresiko menyebabkan penyakit kusta pada orang lain di area tersebut.

Gejala Penyakit Kusta

Gejala awal kusta biasanya mulai muncul di ujung bagian tubuh seperti pada tangan, kaki, dan wajah. Gejala kusta lainnya bisa berupa katarak sekunder, ulserasi kornea, hepatosplenomegali, dan muntah. 

Selain itu, gejala kusta secara mudah dapat terlihat dari kondisi berikut:

  • Apigmentasi: Tahap awal kusta dengan munculnya bercak-bercak putih akibat perubahan warna kulit serta kulit kering. Perubahan dapat menjadi lebih terang, kemerahan, atau lebih gelap
  • Anestesi: Bakteri kusta yang telah menyerang saraf-saraf tepi akan menyebabkan kerusakan saraf seperti mati rasa dan kesemutan
  • Alopesia: Gejala kusta yang berlanjut bisa mengakibatkan kebotakan dan bulu mata rontok
  • Anhidrosis: Kerusakan saraf tepi juga membuat tubuh tidak sensitif dengan panas bahkan tidak dapat berkeringat
  • Atrofi otot: Kondisi kusta yang berat akan merusak bagian tubuh lain seperti otot sehingga menyebabkan kesulitan menggerakan otot

Pencegahan Penyakit Kusta

Pemberian informasi mengenai penyakit kusta terhadap masyarakat harus dilakukan agar dapat mencegah risiko terjadinya kusta. Diagnosis dan pencegahan sejak dini dapat membantu mengurangi risiko penyebaran bakteri penyakit yang lebih luas dan kecatatan yang dapat timbul. Hingga saat ini belum ada vaksin yang mampu mencegah penyakit kusta maka dibutuhkan pemeriksaan dini ketika munculnya gejala atau ketika berada di wilayah yang berisiko tinggi menularkan penyakit kusta.

Diagnosis Penyakit Kusta

Diagnosa awal untuk mengetahui penyakit kusta adalah dengan melihat gejala yang muncul serta melakukan pemeriksaan fisik. Dokter biasanya melakukan pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan histopatologi dan bakteriologi dengan mengambil kerokan kulit sebagai sampel untuk memastikan sel lepra dapat ditemukan pada tubuh. Kerokan biasa dilakukan di kedua cuping telinga atau tempat yang memiliki luka aktif.

Setelah melakukan pemeriksaan fisik dan hasil kerokan kulit pada pasien, dokter akan membedakan tipe kusta menjadi dua jenis, yaitu:

  • Pausibasiler di mana jumlah bercak kusta kurang dari 5, terdapat 1 gangguan saraf dan hasil kerokan BTA negatif
  • Multibasiler di mana jumlah bercak kusta lebih dari 5, terdapat lebih dari 1 gangguan saraf dan hasil kerokan BTA positif

Pengobatan Penyakit Kusta

Obat kusta biasanya membutuhkan kombinasi dari 2-3 obat sekaligus dengan obat utama yang diberikan yaitu rifampicin, dapsone, dan clofazimine. Penggunaan obat kusta harus sesuaikan dengan jenis kusta dan usia penderita.

Pengobatan pada penderita kusta tipe pausibasiler harus diselesaikan selama 6 bulan dengan pemberian obat sebagai berikut:

  • 2 kapsul Rifampicin + 1 tablet dapsone selama satu kali dalam satu bulan
  • 1 tablet dapsone mulai hari ke-2 hingga hari ke-28

Pengobatan pada penderita kusta tipe multibasiler harus diselesaikan selama 12 bulan dengan pemberian obat sebagai berikut:

  • 1 kapsul rifampicin + 3 kapsul clofazimine + 1 tablet dapsone selama satu kali dalam satu bulan
  • 1 kapsul clofazimine + 1 tablet dapsone mulai hari ke-2 higga hari ke-28

Metode pengobatan kusta pada anak-anak hampir sama dengan orang dewasa, hanya saja dosis obat yang digunakan harus lebih rendah. Untuk mengetahui dosis yang tepat ada baiknya untuk berkonsultasi dengan dokter agar mendapatkan penanganan yang tepat dalam mengatasi kusta.


18 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Leprosy: Symptoms, diagnosis, and treatment. Medical News Today. (https://www.medicalnewstoday.com/articles/308114)
Cassandra White, Carlos Franco-Paredes. Leprosy in the 21st Century. Clinical Microbiology Reviews Jan 2015, 28 (1) 80-94; DOI: 10.1128/CMR.00079-13. Clinical Microbiology Reviews. (https://cmr.asm.org/content/28/1/80)

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Pertanyaan dan jawaban lain tentang kondisi ini
Punya pertanyaan? Tanyakan kepada dokter di bawah ini

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.
Submit
Buka di app