Keju Untuk Bayi, Aman Tidak? Kapan Boleh Memberikannya?

Dipublish tanggal: Feb 22, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Tinjau pada Jun 13, 2019 Waktu baca: 4 menit
Keju Untuk Bayi, Aman Tidak? Kapan Boleh Memberikannya?

Siapa yang tidak kenal dengan Mickey Mouse? Tom and Jerry?. Tokoh kartun nan jenaka ini terutama Mickey dan Jerry mempunyai kesamaan perihal makanan favorit mereka lo, ada yang tau? Ya, keju! Keju tidak hanya lezat, tapi juga mengandung banyak zat gizi yang dibutuhkan bayi. Bayi biasanya akan sangat lahap memakan keju sebagai cemilan mereka.

Keju bisa dibilang masih menjadi makanan asing bagi sebagian besar orang Indonesia, terutama kelas menengah ke bawah yang masih memandang keju sebagai makanan mewah. Keju bahkan dikategorikan sebagai makanan "kelas atas". Namun, keju yang mempunyai rasa dan tekstur menggoda ini hampir disukai semua orang, dikarenakan rasa nya yang lezat dan kandungan gizi nya yang melimpah. Lalu, bagaimana keju untuk bayi? Apakah aman keju dikonsumsi bayi?

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Antiseptik via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 31

Keju adalah jenis makanan yang terbuat dari susu, bisa dari susu murni, susu rendah lemak, maupun susu tanpa lemak, yang telah melewati tahap pasteurisasi sehingga steril. Keju biasanya akan dikelompokkan berdasarkan bahan susu pembuatnya seperti, susu sapi, susu kambing, atau susu domba. Juga bisa dari proses produksi atau pembuatannya, tingkat kekerasan, negara penghasil, penampilan (ukuran, bentuk dan warna), serta zat gizi yang dikandungnya.

Kapan Waktu Terbaik Memberi Keju untuk Bayi Anda?

Menurut The American Academy of Pediatrics (AAP), waktu yang tepat memberikan keju untuk bayi adalah setelah mereka dibiasakan mengonsumsi makanan padat, seperti sereal (khusus bayi), daging, sayuran dan buah-buahan, kemudian tidak ada alergi yang muncul. Bahkan bagi anak-anak yang keluarganya memiliki riwayat alergi terhadap makanan, dapat diberikan keju apabila sebelumnya telah mengonsumsi makanan padat tersebut dan tidak ada tanda-tanda alergi.

Jadi, kalau diperkirakan berdasarkan usianya, maka waktu yang tepat memberikan keju untuk bayi adalah sekitar usia 6 sampai 9 bulan. Untuk mencegah agar bayi tidak tersedak, sajikan keju dalam bentuk potongan-potongan kecil seukuran ujung jari bayi. Hal ini akan memudahkan mereka untuk mengunyah dan menelannya.

Merujuk pada the American Dietetic Association, keju dapat mulai diperkenalkan kepada bayi ketika telah selesai masa pemberian ASI eksklusif (6 bulan). Adapun jenis keju yang aman dan baik untuk bayi adalah keju Cheddar dan keju Swiss.

Tapi jika bayi Anda mempunyai penyakit eksim kronis atau alergi makanan, lebih baik bicarakan dulu dengan dokter sebelum memberi keju untuk bayi Anda. Keju walaupun bukan termasuk salah satu makanan yang sering mengakibatkan alergi, tapi tetap saja mencegah itu lebih baik. Apalagi mengingat keju tetap bisa menimbulkan alergi karena mengandung protein susu.

Eksim (Eczema) atau dikenal juga sebagai dermatitis merupakan salah satu tanda adanya alergi. Eksim ditandai dengan peradangan atau bengkak, kemerahan, dan rasa gatal pada kulit. Walaupun tidak menular, kelainan ini akan membuat rasa tidak nyaman pada bagian kulit yang terkena.

Iklan dari HonestDocs
Blackmores Pregnancy Breast Feeding Gold

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Blackmores pregnancy   breat feeding gold sku

Coba berbagai makanan sebelum memberikan keju untuk bayi...

Sebelum mencoba memberikan keju untuk pertama kalinya, sebaiknya dilakukan percobaan terlebih dahulu terhadap makanan-makanan yang mungkin menimbulkan alergi pada bayi.  The American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan ketika Anda ingin mencobanya lakukanlah di rumah, bukan di sekolah, tempat penitipan anak-anak, atau restoran. Sajikanlah makanan tersebut selama tiga sampai lima hari, dengan cara seperti itu Anda dapat memonitor makanan mana yang akan menyebabkan alergi pada bayi Anda.

Cermati tanda-tanda alergi,  apabila muncul segera temui dokter. Tanda alergi makanan pada bayi antara lain:

Jika bayi Anda menunjukkan tanda-tanda ini - ringan atau parah - atau sulit bernapas setelah makan makanan yang baru, hubungi dokter segera mungkin.

Jika terbukti bayi Anda memiliki alergi sebaiknya berhati-hati, tahan, jangan memberikan keju untuk bayi sebelum Anda berkonsultasi dengan dokter.

Keju apa yang baik untuk bayi?

Ada 3 jenis keju untuk bayi yang aman dikonsumsi, yaitu:

  • Keju cheddar. Pada umumnya, keju ini merupakan keju semi-keras (tidak terlalu lembut juga tidak terlalu keras). Jenis bakteri yang digunakan untuk memprosesnya ialah Streptococcus sp. Bakteri ini berfungsi menghasilkan asam laktat dari susu. Semakin lama proses yang bibutuhkan untuk mematangkan keju, maka rasa dan aroma keju akan semakin tajam.
  • Keju Swiss. Keju ini memiliki ciri khas ”bolong-bolong” alias berlubang-lubang (bagi penderita trypophobia bisa takut melihanya). Semakin bagus produk susu sapi nya, maka semakin banyak lubang yang akan terbentuk. Pembuatan keju Swiss menggunakan beberapa jenis bakteri. Salah satunya adalah Propionibacterium yang membuat keju ini berlubang-lubang dan memiliki rasa manis.
  • Keju cottage. Termasuk dalam kelompok keju yang rendah lemak, karena bahannya sendiri adalah susu tanpa lemak (nonfat). Sangat cocok untuk  balita yang mengalami kegemukan (obesitas). Biasanya ketika menyajikan keju ini, akan diberi tambahan rasa buah, seperti stroberi dan nanas. Keju cottage mudah rusak, sehingga harus disimpan di dalam lemari pendingin.

Bagaimana Menyajikan Keju untuk Bayi?

Menurut the American Dietetic Association jumlah yang direkomendasikan apabila Anda ingin memberikan keju untuk bayi adalah sebanyak 30 gram/hari. Bentuk variasi penyajiannya antara lain:

Iklan dari HonestDocs
Beli IMBOOST FORCE 10TAB 1 STRIP via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Imboost force tablet 4
  • Dapat Anda hidangkan sebagai campuran saus atau taburan yang sudah diparut (parutan) pada salad buah atau olahan pasta.
  • Bahan campuran atau diselipkan dalam sandwich keju atau roti.
  • Dapat dicairkan (dilelehkan) terlebih dahulu, kemudiam jadilah bahan pencelup untuk teman makan (finger food).

Saat memilih keju untuk bayi Anda - apakah itu terbuat dari susu sapi, domba, atau susu kambing - pastikan dulu kalau keju itu telah dipasteurisasi (biasanya terdapat pada label produk). Keju yang dibuat dengan susu yang tidak dipasteurisasi (atau mentah) sangat tidak disarankan untuk diberikan pada bayi karena dapat terkontaminasi bakteri Listeria monocytogenes, yang dapat mendatangkan penyakit dalam makanan dan menyebabkan sakit serius pada bayi.

Jangan khawatir tentang jumlah laktosa yang berlebihan. Tidak terdapat banyak laktosa dalam keju dan bayi biasanya tidak mengalami kesulitan mencerna laktosa.

Informasi Tambahan: Pasteurisasi adalah sebuah proses pemanasan makanan yang bertujuan membunuh organisme yang berpotensi mendatangkan penyakit seperti bakteri, protozoa, virus, dan jamur. Juga dapat dikatakan sebagai proses untuk memperlambat pertumbuhan mikroba pada makanan.

Apabila Anda masih kebingungan memilih jenis makanan bagi bayi Anda, keju dapat menjadi pilihan yang tepat. Selain rasanya yang enak, karena dibuat dari susu murni, keju tentu saja mengandung banyak manfaat.

6 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Baby's Eating Milestones: Solids, Finger Foods, and More. WebMD. (https://www.webmd.com/parenting/baby/baby-food-milestones#1)
When can my baby eat dairy products?. Parents. (https://www.parents.com/baby/feeding/when-can-my-baby-eat-dairy-products/)
Foods to avoid giving babies and young children. NHS (National Health Service). (https://www.nhs.uk/conditions/pregnancy-and-baby/foods-to-avoid-giving-babies-and-young-children/)

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app