HONESTDOCS EDITORIAL TEAM
Ditulis oleh
HONESTDOCS EDITORIAL TEAM
DR.VINA SETIAWAN
Ditinjau oleh
DR.VINA SETIAWAN

Apakah Ada Risiko Terkait Makan Terlalu Banyak Protein?

Dipublish tanggal: Agu 15, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Tinjau pada Feb 25, 2020 Waktu baca: 4 menit
Apakah Ada Risiko Terkait Makan Terlalu Banyak Protein?

Anda mungkin terbiasa dengan diet tinggi protein, yang sedang banyak diminati orang-orang belakangan ini. Diet seperti diet Caveman atau Paleo dapat bervariasi dalam hal rasio makronutrien, tetapi biasanya merupakan diet tinggi protein. 

Sementara diet ketogenik standar (atau "keto") menekankan pada lemak.

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Diet via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 38

Protein adalah bagian penting dari diet sehat. Protein membantu untuk membangun dan memperbaiki otot, organ, dan tulang. Diet tinggi protein juga terbukti membantu mengurangi lemak, menurunkan berat badan, meningkatkan rasa kenyang, atau perasaan kenyang, dan mempertahankan otot.

Namun, diet tinggi protein juga telah dikaitkan dengan beberapa risiko yang penting untuk diperhatikan dan dipahami. Pakar gizi tidak menganjurkan untuk mengkonsumsi protein melebihi jumlah harian yang disarankan.

Saat menghitung berapa total protein yang saat ini Anda makan atau harus makan, Anda juga harus memperhitungkan suplemen, jika suplemen yang Anda gunakan mengandung protein dalam jumlah besar, seperti bubuk protein.

Simak terus artikel berikut untuk mempelajari lebih lanjut tentang diet protein tinggi.

Risiko mengonsumsi terlalu banyak protein

Mengkonsumsi sejumlah besar nutrisi untuk jangka waktu yang lama biasanya disertai dengan risiko, seperti halnya dengan protein. Konsumsi yang berlebihan dapat menyebabkan peningkatan risiko komplikasi kesehatan tertentu, menurut penelitian.

Meskipun protein sangat bermanfaat bagi tubuh, namun penting untuk memahami masalah kesehatan terkait dengan kelebihan protein dalam tubuh, terutama jika Anda mengikuti diet tinggi protein untuk jangka waktu yang lama.

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Diet via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 38
  • Penambahan berat badan

Diet tinggi protein dapat mempromosikan penurunan berat badan, tetapi jenis penurunan berat badan ini mungkin hanya bersifat jangka pendek.

Kelebihan protein yang dikonsumsi biasanya disimpan sebagai lemak, sedangkan kelebihan asam amino akan diekskresikan. 

Hal ini dapat menyebabkan kenaikan berat badan dari waktu ke waktu, terutama jika Anda mengonsumsi terlalu banyak kalori saat mencoba meningkatkan asupan protein.

Sebuah studi tahun 2016 menemukan bahwa kenaikan berat badan secara signifikan dikaitkan dengan diet di mana protein menggantikan karbohidrat.

Makan protein dalam jumlah besar dapat menyebabkan bau mulut, terutama jika Anda membatasi asupan karbohidrat.

Hal ini mungkin disebabkan sebagian karena tubuh masuk ke keadaan metabolisme yang disebut ketosis, yang menghasilkan bahan kimia yang mengeluarkan bau mulut yang tidak menyenangkan.

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Diet via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 38

Menyikat dan membersihkan gigi tidak dapat menghilangkan gejala ini. Anda dapat menggandakan asupan air, menyikat gigi lebih sering, dan mengunyah permen karet untuk mengatasi beberapa efek ini.

Dalam studi yang sama, 44 persen partisipan melaporkan keluhan sembelit. Diet tinggi protein yang membatasi karbohidrat biasanya merupakan diet rendah serat. Meningkatkan asupan air dan serat dapat membantu mencegah sembelit.

  • Diare

Makan terlalu banyak susu atau makanan olahan, ditambah dengan kekurangan serat, dapat menyebabkan diare. Hal ini terjadi jika Anda mengonsumsi sumber protein seperti daging goreng, ikan, dan unggas. Sebaliknya, makanlah protein yang menyehatkan jantung.

Untuk menghindari diare, minumlah banyak air, hindari minuman berkafein, batasi makanan yang digoreng dan konsumsi lemak berlebih, dan tingkatkan asupan serat Anda.

Tubuh Anda mengeluarkan nitrogen berlebih dengan cairan dan air. Hal ini bisa membuat Anda mengalami dehidrasi walaupun Anda mungkin tidak merasa lebih haus dari biasanya.

Sebuah penelitian kecil tahun 2002 yang melibatkan atlet menemukan bahwa ketika asupan protein meningkat, tingkat hidrasi menurun. Namun, sebuah penelitian tahun 2006 menyimpulkan bahwa mengonsumsi lebih banyak protein memiliki dampak minimal pada hidrasi.

Risiko atau efek ini dapat diminimalkan dengan meningkatkan asupan air Anda, terutama jika Anda adalah orang yang aktif. Terlepas dari konsumsi protein, selalu penting untuk minum banyak air sepanjang hari.

  • Kerusakan ginjal

Sementara tidak ada penelitian utama, beberapa sumber terpercaya menghubungkan asupan protein tinggi dengan kerusakan ginjal pada orang sehat. Kelebihan protein dapat menyebabkan kerusakan pada orang dengan penyakit ginjal yang sudah ada sebelumnya.

Ini karena kelebihan nitrogen yang ditemukan dalam asam amino yang membentuk protein. Ginjal yang rusak harus bekerja lebih keras untuk menyingkirkan nitrogen tambahan dan produk sisa metabolisme protein.

Secara terpisah, sebuah studi tahun 2012 mengamati efek diet rendah karbohidrat, tinggi protein, dan rendah lemak pada ginjal.

Studi ini menemukan bahwa pada orang dewasa gemuk yang sehat, diet rendah karbohidrat, tinggi protein, dan penurunan berat badan lebih dari dua tahun tidak dikaitkan dengan efek berbahaya pada penyaringan ginjal, albuminuria, atau keseimbangan cairan dan elektrolit dibandingkan dengan diet rendah lemak.

Sumber penelitian telah menunjukkan bahwa diet tinggi protein tertentu yang sangat tinggi protein berbasis daging merah, terkait dengan peningkatan risiko berbagai masalah kesehatan, termasuk kanker. 

Makan lebih banyak daging merah dan / atau olahan dikaitkan dengan kanker kolorektal, payudara, dan prostat.

Sebaliknya, mengonsumsi protein dari sumber lain telah dikaitkan dengan penurunan risiko kanker.

Mengonsumsi banyak daging merah dan makanan olahan susu berlemak sebagai bagian dari diet tinggi protein dapat menyebabkan penyakit jantung. Ini bisa terkait dengan asupan lemak jenuh dan kolesterol yang lebih tinggi.

Menurut sebuah studi 2010, mengkonsumsi sejumlah besar daging merah dan produk susu berlemak tinggi terbukti meningkatkan risiko penyakit jantung koroner pada wanita. Sedangkan konsumsi makanan unggas, ikan, dan kacang-kacangan menurunkan risiko.

Sebuah studi 2018 juga menunjukkan bahwa konsumsi jangka panjang daging merah dapat meningkatkan trimethylamine N-oxide (TMAO), bahan kimia yang dihasilkan usus yang terkait dengan penyakit jantung.

Diet yang tinggi protein dan daging dapat menyebabkan kehilangan kalsium. Hal ini dikaitkan dengan osteoporosis dan kesehatan tulang yang buruk.

Sebuah tinjauan studi tahun 2013 menemukan hubungan antara tingkat konsumsi protein yang tinggi dan kesehatan tulang yang buruk. Namun, tinjauan 2013 lainnya menemukan bahwa efek protein pada kesehatan tulang tidak dapat disimpulkan. 

Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memperluas dan menyimpulkan temuan ini. 

Sumber protein terbaik

Saat Anda memilih makanan berprotein tinggi, pastikan untuk memilih pilihan yang lebih sehat. Ini dapat membantu menurunkan risiko Anda untuk beberapa efek negatif dari diet tinggi protein. 

Sumber protein sehat meliputi:

  • daging tanpa lemak dan unggas 
  • ikan 
  • telur
  • makanan organik
  • kacang polong-polongan
  • biji-bijian

29 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Wu G. (2016). Dietary protein intake and human health. DOI: (https://doi.org/10.1039/C5FO01530H)
Wang Z, et al. (2018). DOI: (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/30535398)

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app