Siapa Saja yang Berisiko Terkena Kutil Kelamin?

Dipublish tanggal: Nov 11, 2019 Update terakhir: Nov 10, 2020 Waktu baca: 3 menit
Siapa Saja yang Berisiko Terkena Kutil Kelamin?

Kondiloma akuminata atau kutil kelamin adalah sejenis kutil yang muncul di daerah kelamin. Penyakit ini ditularkan oleh orang yang telah terinfeksi virus HPV (Human Papillomavirus), terutama lewat hubungan seksual. Itulah sebabnya, orang-orang yang sudah aktif secara seksual lebih berisiko terkena kutil kelamin. Agar lebih jelas, ketahui tipe-tipe orang yang berisiko terkena kutil kelamin pada ulasan berikut ini.

Siapa saja yang berisiko terkena kutil kelamin?

Kondiloma akuminata atau kutil kelamin biasanya berukuran kecil yang berupa benjolan menyerupai bunga kol. Penyakit ini dapat menyerang daerah vulva, vagina, perineum, leher rahim, penis, kantong zakar, dan kulit di area sekitar anus

Iklan dari HonestDocs
Beli Onkologi via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 19

Baca Juga: Meski Mirip, Kenali 6 Bentuk dan Jenis Kutil Pada Tubuh

Tak hanya itu, jenis kutil ini juga bisa muncul di mulut dan tenggorokan akibat seks oral. Kondiloma akuminata ini akan menimbulkan rasa gatal di area kelamin dan bisa menimbulkan perdarahan saat berhubungan seksual. 

Jenis kelamin adalah salah satu faktor risiko kutil kelamin. Sebab bila dilihat dari jenis kelaminnya, kondiloma akuminata lebih sering menyerang wanita daripada pria, terutama pada usia 15-30 tahun. 

Kutil kelamin memang rentan menular lewat kontak fisik seksual langsung. Itulah sebabnya, orang-orang yang aktif berhubungan seksual cenderung lebih rentan terpapar virus HPV yang mengarah pada kutil kelamin.

Selain itu, ada juga beberapa hal lainnya yang dapat meningkatkan risiko kutil kelamin atau kondiloma akuminata, di antaranya:

  • Sering gonta-ganti pasangan seksual, apalagi dengan pasangan seksual yang tidak diketahui riwayat kesehatan seksualnya.
  • Pernah mengalami penyakit menular seksual sebelumnya.
  • Aktif secara seksual di usia muda.

Baca Selengkapnya: Sering Terlewatkan, Waspadai Gejala Kutil Kemaluan

Iklan dari HonestDocs
Beli Onkologi via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 19

Bagaimana cara mengatasi kutil kelamin?

Kutil kelamin atau kondiloma akuminata tidak selamanya harus dilakukan pengobatan karena bisa saja hilang dengan sendirinya. Namun bagaimanapun, kutil kelamin yang diobati sejak dini akan memberikan efek positif terhadap penderitanya, antara lain:

  • Dapat meredakan rasa gatal dan sakit
  • Dapat menurunkan resiko menyebarnya virus HPV
  • Meningkatkan kepercayaan diri pada pasien bahwa kondisi yang dialaminya bukanlah kanker
  • Mengangkat kutil kelamin yang tidak bisa sembuh dengan sendirinya

Maka dari itu, pemeriksaan dokter sangat penting untuk mengobati kutil kelamin. Usahakan untuk menghindari penggunaan obat secara bebas, justru sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter spesialis kulit dan kelamin (Sp.KK) untuk mendapatkan pengobatan yang tepat.

Pengobatan kutil kelamin berbeda dengan pengobatan kutil biasa, karena penyebab dan organ yang diserang pun tak sama. Kutil kelamin cenderung memerlukan pengobatan khusus, biasanya dokter spesialis kulit akan menilai kondisi kesehatan pasien dan juga menilai jumlah serta posisi kutil kelamin yang menyerang penderitanya.

Berikut beberapa cara yang mungkin digunakan dokter untuk mengatasi kutil kelamin atau kondiloma akuminata, yakni:

1. Pemberian obat-obatan

Ada beberapa jenis obat-obatan yang dapat membantu menghilangkan kutil kelamin, antara lain:

  • Podofilox, dioleskan pada kutil bagian luar kelamin untuk menghentikan pertumbuhan sel kutil. 
  • Imiquimod, digunakan untuk meningkatkan sitem kekebalan tubuh saat terinfeksi kondiloma akuminata.
  • Salep ekstrak teh hijau (sinecatechins), dioleskan pada kutil sekitar anus dan alat kelamin.

2. Tindakan bedah

Walau sering kali bisa hilang dengan sendirinya, kutil kelamin yang cukup parah hanya dapat diatasi dengan tindakan pembedahan atau operasi. Hal ini bertujuan untuk menghilangkan atau membuang kutil.

Iklan dari HonestDocs
Beli Onkologi via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 19

3. Krioterapi

Krioterapi adalah salah satu cara yang dapat ditempuh untuk menghilangkan kutil kelamin. Prosedur medis ini menggunakan nitrogen cair untuk membekukan kondiloma akuminata.

4. Terapi sinar laser

Selain dengan krioterapi, dokter dapat juga melakukan terapi sinar laser untuk menghancurkan kutil kelamin.

5. Kauterisasi

Kauterisasi adalah terapi dengan arus listrik untuk menghancurkan kutil.

6. Penggunaan suntikan interferon

Suntik interferon digunakan sebagai terapi tambahan yang masih memerlukan evaluasi lebih lanjut.

Selain dengan pengobatan, Anda juga perlu melakukan upaya pencegahan agar kutil tak lagi menyerang organ intim Anda. Ada banyak cara yang bisa dilakukan, antara lain dengan menggunakan kondom saat berhubungan seks, menghindari perilaku seks berisiko, dan melakukan vaksinasi kanker serviks yang selain mencegah kanker serviks juga dapat mencegah timbulnya kondiloma akuminata.

Beberapa jenis HPV cenderung tidak berbahaya, tetapi ada beberapa jenis virus yang diam-diam dapat mengakibatkan kanker pada serviks, penis, anus, tenggorokan, ataupun mulut. Oleh karena itu, penting untuk memeriksakan diri ke dokter jika terdapat gejala kutil kelamin agar mendapatkan pengobatan dan penanganan yang tepat. Apalagi bila Anda termasuk kelompok berisiko.

Baca Juga: 3 Jenis Pemeriksaan untuk Memastikan Gejala Kutil Kelamin

14 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Genital warts: Overview. American Academy of Dermatology. (Accessed via: https://www.aad.org/public/diseases/a-z/genital-warts-overview)
Grennan D. Genital Warts. JAMA. 2019;321(5):520. doi:10.1001/jama.2018.20181. JAMA Network. (Accessed via: https://jamanetwork.com/journals/jama/fullarticle/2724027)
Yanofsky, V. R., Patel, R. V., & Goldenberg, G. (2012). Genital warts: a comprehensive review. The Journal of clinical and aesthetic dermatology, 5(6), 25–36. National Center for Biotechnology Information. (Accessed via: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3390234/)

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app