Atasi Penyebab Bayi Sering Muntah Sebelum Bertambah Parah

Dipublish tanggal: Feb 22, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Tinjau pada Jun 13, 2019 Waktu baca: 5 menit
Atasi Penyebab Bayi Sering Muntah Sebelum Bertambah Parah
Para orang tua tentunya sering menyaksikan anak bayinya mengalami muntah. Muntah pada bayi sering terjadi akibat terlalu sering mendapat goncangan, cegukan, maupun faktor lainnya. Lantas, apa sajakah faktor-faktor yang menyebabkan bayi sering muntah? Sebagian besar bayi baru lahir dan beberapa bulan awal kehidupannya seringkali kita dapati mengalami muntah dalam jumlah yang sedikit dari waktu ke waktu, dan mengeluarkan kembali susu yang mereka minum saat bersendawa. Di Indonesia kondisi ini dikenal dengan istilah 'gumoh' dan biasanya tidak perlu dikhawatirkan. Akan tetapi bagaimana jika bayi Anda mulai merasa kesakitan, atau jika dia mulai muntah dalam jumlah banyak, hal tersebut perlu diwaspadai bagi para orang tua. Karena gumoh dengan muntah adalah kasus yang berbeda. Apa perbedaan muntah dan gumoh pada bayi? Gumoh terjadi pada bayi yang berusia beberapa bulan dan sering terjadi setelah menyusu dengan cairan yang keluar hanya sedikit dan mungkin hanya menetes. Sedangkan muntah ditandai dengan keluarnya cairan dari mulut yang banyak dan terkadang menyembur, seringkali membuat bayi menjadi menangis atau rewel dan mungkin disertai dengan gejala lainnya. Berikut ini ulasan tentang penyebab muntah, gejala yang ditimbulkan dan bagaimana cara mengatasinya.

Apa Penyebab Muntah pada Bayi?

Refluks

Kepanjangan refluks adalah gastro-esophageal reflux disesae (GERD) adalah kembalinya isi lambung ke kerongkongan hingga menimbulkan muntah. Bayi mengalami refluks karena katup berotot yang terletak antara kerongkongan dan lambung masih belum berkembang sempurna. Ini berarti saat perut bayi Anda kenyang, makanan dan asam lambung dapat mengalir kembali ke esofagus. Refluks dapat menyebabkan bayi muntah setelah menyusu, dan juga dapat menyebabkan cegukan. Kadang-kadang bayi batuk hingga mengeluarkan isi perutnya. Jika bayi Anda muntah dalam jumlah yang sedikit, maka hal ini normal dan selama bayi Anda dinyatakan sehat, Anda tidak perlu khawatir. Namun, kasus refluks yang lebih parah dapat menyebabkan bayi Anda sakit. Seringkali setelah menyusu, bayi Anda terus menangis hingga terbatuk-batuk. Jika bayi Anda tidak menyusu dengan baik atau tampak rewel, maka hubungilah dokter. Dokter Anda mungkin akan meresepkan antasida yang dirancang untuk bayi, atau mungkin obat pengental makanan yang dapat ditambahkan ke ASI atau susu formula yang dianjurkan.

Alergi atau intoleransi susu sapi 

Jika bayi Anda alergi terhadap susu sapi, berarti bahwa sistem kekebalan tubuhnya bereaksi terhadap protein susu sapi karena menganggapnya sebagai zat yang berbahaya bagi tubuh. Sedangkan Intoleransi berarti ia mengalami kesulitan dalam mencerna laktosa. Laktosa merupakan gula alami yang ditemukan dalam susu. Protein susu sapi dan laktosa ditemukan dalam banyak susu formula. Kandungan tersebut juga akan masuk ke dalam ASI jika ibu menyusui makan atau minum susu sapi atau produk susu sapi lainnya, seperti keju dan yoghurt. Bayi yang memiliki alergi atau intoleransi susu sapi biasanya akan mengalami muntah setelah menyusu. Memang sulit membedakan antara alergi atau intoleransi susu sapi dengan refluks. Akan tetapi jika bayi Anda bermasalah dengan susu sapi, maka biasanya disertai dengan gejala lain seperti: Bagaimana mengatasi bayi sering muntah akibat susu sapi? Ada beberapa langkah yang dapat Anda lakukan, yaitu:
  • Konsultasi dengan dokter. Tanyakan kepada dokter bagaimana menghentikan konsumsi susu sapi maupun produk yang terbuat dari susu sapi seperti yoghurt dan keju untuk sementara waktu.
  • Coba susu formula hypoallergenic. Jika Anda memberikan susu formula pada bayi, cobalah susu formula hypoallergenic atau susu khusus alergi yang cocok dengan bayi Anda.
Berdiskusilah dengan dokter sebelum mencoba salah satu dari hal tersebut. Dokter pasti akan memeriksa gejala bayi Anda terlebih dahulu, sehingga dia dapat memastikan apakah penyebabnya dan bagaimana solusinya. Jika dokter menduga bahwa bayi Anda memiliki alergi atau intoleransi susu sapi, maka dia mungkin akan menganjurkan agar sang bayi dibawa ke dokter spesialis anak.

Stomach bug (Flu Perut)

Jika muntah bayi Anda terjadi secara tiba-tiba atau dadakan, dengan disertai diare, dia mungkin memiliki stomach bug (flu perut) seperti gastroenteritis. Gastroenteritis dapat disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri. Jika hal ini terjadi pada bayi, segera hubungi dokter. Dokter akan meminta sampel kotoran bayi Anda agar dapat diperiksa untuk menentukan penyebab pastinya dan penanganan yang tepat. Apabila muntah dan diare berlanjut, maka bayi akan kehilangan banyak cairan. Cairan ini harus diganti, untuk mencegah dehidrasi. Untuk itu, berikanlah larutan oral rehidrasi (ORS), misalnya oralit, selama beberapa kali dalam satu jam. Anda pun bisa memberikan cairan tambahan di samping ASI atau susu formula, dan air. Lebih detil, Dokter atau apoteker akan menjelaskannya.

Penyakit atau infeksi lain

Bayi bisa sering muntah akibat infeksi atau penyakit tertentu. Pada kondisi demikian, Anda juga harus memperhatikan tanda-tanda atau gejala, seperti: Perlu diwaspadai, muntah juga bisa menjadi salah satu gejala dari: Bayi sering muntah juga bisa disebabkan oleh penyakit yang lebih serius seperti meningitis, pneumonia, radang usus buntu, dan dalam kasus yang jarang, sindrom Reye yang membutuhkan penanganan cepat. Jadi, segera bawalah bayi Anda ke dokter jika Anda merasa khawatir.

Stenosis pilorus

Stenosis pilorus adalah kelainan bawaan langka yang bisa menyebabkan bayi sering muntah secara paksa dalam waktu setengah jam setelah menyusu. Kelainan ini menunjukkan gejala dimulai saat bayi Anda berusia sekitar enam minggu, tapi bisa muncul kapan saja sebelum bayi mencapai usia empat bulan. Anak laki-laki memiliki kemungkinan mengalami Stenosis pilorus empat kali lebih besar dibandingkan dengan anak perempuan. Stenosis pilorus terjadi karena otot yang mengendalikan katup yang mengarah dari lambung ke usus menjadi menebal atau mengencang. Sebagai akibatnya makanan tidak dapat melaluinya sehingga makanan dan susu akan kembali naik dan keluar dalam bentuk muntah. Stenosis pilorus dapat diatasi dengan operasi minor. Segera hubungi dokter, jika Anda melihat gejala stenosis pilorus pada bayi Anda.

Mabuk Perjalanan

Bayi dan anak-anak juga bisa mengalami mabuk perjalanan, misalnya ketika bayi diajak bepergian jauh dengan mengendarai mobil, bus, atau kapal laut. Para ahli percaya bahwa mabuk perjalanan terjadi ketika adanya ketidakseimbangan antara apa yang bayi lihat dengan apa yang ia rasakan dengan pergerakan tubuhnya dan ini di atur oleh sensor keseimbangan yang ada pada telinga bagian dalam dan beberapa saraf di otak.

Keracunan

Penyebab bayi sering muntah lainnya yang sulit dideteksi adalah keracunan. Hal ini dapat terjadi ketika bayi menelan sesuatu yang beracun, seperti obat-obatan, tanaman, atau bahan kimia. Bisa juga melalui makanan atau air yang terkontaminasi. Pada kondisi ini, selain muntah, bayi juga biasanya akan mengalami diare. Ingin tahu bagaimana cara mengatasi dari masing-masing penyebab bayi sering muntah di atas. Simak artikel berikut: Penyebab Bayi Muntah dan Cara Mengatasinya Demikianlah ulasan tentang penyebab muntah pada bayi. Dengan membaca artikel ini, penulis berharap semoga artikel ini bisa menjadi petunjuk yang jelas ketika bayi Anda mengalami muntah. Sehingga Anda tidak perlu merasa cemas atau khawatir dan segera mengambil tindakan pengobatan yang tepat untuk si buah hati.
17 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Villarreal R, et al. (2018). Urticaria, nausea, and vomiting. (http://10.1016/j.anai.2018.09.393)

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Buka di app