HONESTDOCS EDITORIAL TEAM
Ditulis oleh
HONESTDOCS EDITORIAL TEAM
DR. KARTIKA MAYASARI
Ditinjau oleh
DR. KARTIKA MAYASARI

Patah Hati Bisa Berakibat Penyakit Jantung?

Dipublish tanggal: Feb 14, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Waktu baca: 2 menit
Patah Hati Bisa Berakibat Penyakit Jantung?

Jika selama ini Anda mengenal istilah patah hati sebagai istilah pengganti bagi keadaan putus cinta, maka faktanya secara medis patah hati -atau broken heart- merupakan penyakit jantung yang nyata dan benar terjadi. Terdapat keterkaitan antara kondisi depresi, kesehatan mental serta penyakit jantung yang mempengaruhi kondisi broken heart yang benar-benar menyebabkan penyakit jantung.

Sindrom broken heart dikenal juga sebagai kondisi cardiomyopathy akibat stres, dan dapat dialami oleh mereka yang ada dalam kondisi sehat sekalipun. Kondisi ini lebih umum dialami oleh wanita daripada pria, ditandai dengan rasa sakit pada dada yang mendadak dan intens karena adanya peningkatan pada hormon stres.

Peningkatan hormon stres ini dapat diakibatkan oleh adanya kejadian yang membuat emosi seseorang tertekan secara hebat, seperti adanya kematian atau peceraian, putus hubungan, pengkhianatan maupun penolakan, pendek kata, hal-hal yang membuat hati (jantung) serasa patah, entah karena kesedihan atau karena terkejut. 

Sindrom broken heart ini dapat disalahartikan sebagai serangan jantung karena gejala dan hasil tesnya yang hampir sama. Hasil tes kondisi ini biasanya menunjukkan adanya perubahan dalam ritme jantung yang disertai bukti penyumbatan pembuluh arteri pada jantung.

Dalam sindrom broken heart, yang terjadi adalah adanya bagian jantung yang mendadak membesar untuk sementara waktu dan tidak memompa dengan baik, sementara sisa jantung lainnya berfungsi secara normal dengan kontraksi yang lebih dipaksakan lagi.

Sindrom broken heart sendiri dapat menuntun kepada kondisi gagal otot jantung yang serius, meski dapat segera ditangani dengan kesembuhan total bagi orang yang mengalaminya dengan risiko kecil adanya kekambuhan kondisi. 

Gejala yang paling umum dan dapat diamati dari sindrom ini adalah adanya rasa sakit pada dada (angina) dan sesak napas yang dapat timbul tanpa didahului oleh adanya riwayat penyakit jantung sebelumnya. Terkadang, kondisi detak jantung yang tidak beraturan atau aritmia juga dapat dijumpai pada sindrom broken heart ini. 

Beberapa hal yang membedakan gejala sindrom broken heart dengan serangan jantung meliputi:

1.Gejala sindrom broken heart secara khas timbul mendadak setelah adanya tekanan fisik atau emosional yang ekstrem

2.EKG atau tes yang merekam aktivitas elektrik jantung pada orang yang mengalami sindrom broken heart akan menunjukkan gambaran aktivitas listrik jantung yang berbeda dengan gambaran khas EKG pada penderita serangan jantung.

3.Hasil pemeriksaan darah menunjukkan ketiadaan kerusakan otot jantung pada penderita sindrom broken heart.

4.Tidak terbukti adanya penyumbatan arteri koroner pada penderita sindrom broken heart. 

5.Tes menunjukkan adanya pembengkakan dan gerakan yang tidak biasa pada kamar jantung bagian kiri bawah atau left ventricle.

6.Waktu pemulihan pada penderita sindrom broken heart relatif cepat, hanya dalam beberapa hari atau minggu. Waktu pemulihan pada sindrom broken heart tergoologn lebih cepat bila dibandingkan dengan waktu pemulihan yang dibutuhkan pada penderita jantung. (PA)

Ditinjau oleh: dr.Defffy Leksani Anggar Sari


3 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Can you die from a broken heart?. Medical News Today. (https://www.medicalnewstoday.com/articles/273268.php)
Can You Actually Die of a Broken Heart?. Healthline. (https://www.healthline.com/health-news/can-you-die-of-broken-heart)
Can You Die of a Broken Heart?. WebMD. (https://www.webmd.com/heart-disease/broken-heart-syndrome)

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Buka di app