HONESTDOCS EDITORIAL TEAM
Ditulis oleh
HONESTDOCS EDITORIAL TEAM
DR. SCIENTIA INUKIRANA
Ditinjau oleh
DR. SCIENTIA INUKIRANA

Osteoporosis: Penyebab, Gejala, & Pengobatan

Dipublish tanggal: Feb 22, 2019 Update terakhir: Mar 13, 2020 Tinjau pada Mei 2, 2019 Waktu baca: 4 menit

Osteoporosis atau tulang keropos merupakan penyakit tulang dimana seseorang dengan osteoporosis memiliki tulang yang lemah dan mudah patah. Osteoporosis mempengaruhi semua tulang dalam tubuh. Namun, pengeroposan tulang paling sering terjadi pada tulang lutut, pinggul, pergelangan tangan, dan tulang belakang (vertebrae). Tulang belakang berfungsi menopang tubuh, membantu untuk berdiri dan duduk. Lihat gambar di bawah ini.

Osteoporosis di tulang belakang dapat menyebabkan masalah serius bagi perempuan. Fraktur atau patah tulang di daerah ini terjadi akibat kegiatan sehari-hari seperti naik tangga atau mengangkat barang saat membungkuk ke depan. Tanda-tanda Tulang keropos atau osteoporosis antara lain:

Iklan dari HonestDocs
Beli Alat Kontrasepsi & Hormon via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 7

Faktor risiko pengeroposan tulang (osteoporosis)

Ada beberapa faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan seseorang terkena osteoporosis. Beberapa faktor tersebut dibagi menjadi dua, yang dapat dikontrol dan tidak dapat dikontrol atau dikendalikan.

Faktor yang tidak dapat dikendalikan

  • Perempuan
  • Usia semakin tua
  • Menopause
  • Memiliki tubuh yang kecil
  • Berat badan berlebih
  • Memiliki riwayat keluarga osteoporosis
  • Menjadi wanita Amerika kulit putih atau Asia, tapi Afrika dan Latinas juga berisiko
  • Tidak mendapat haid (jika Anda harus mendapatkan itu)
  • Memiliki gangguan yang meningkatkan risiko terkena osteoporosis, (seperti rheumatoid arthritis, diabetes tipe 1, menopause dini, anoreksia nervosa)
  • Tidak mendapatkan cukup latihan
  • Penggunaan jangka panjang obat-obatan tertentu, termasuk:
    • Glukokortikoid, yakni obat-obatan yang digunakan untuk mengobati berbagai macam penyakit, termasuk radang sendi, asma, dan lupus
    • Beberapa obat-obatan anti kejang
    • Gonadotropin releasing hormone, digunakan untuk mengobati endometriosis
    • Antasida dengan aluminium (obat maag), sebab aluminium menghambat penyerapan kalsium.
    • Beberapa pengobatan kanker
    • Pengganti hormon tiroid yang berlebihan

Faktor-faktor risiko yang dapat dikendalikan

  • Merokok
  • Minum terlalu banyak alkohol. Para ahli merekomendasikan tidak lebih dari 1 gelas sehari untuk wanita.
  • Diet renah produk susu atau sumber kalsium dan vitamin D lainnya
  • Kurang olahraga

Mungkin saja Anda juga mengalami gejala yang merupakan tanda-tanda osteoporosis. Jika Anda mengalami gejala berikut, Konsultasilah dengan dokter tentang tes atau perawatan yang dibutuhkan, gejala-gejalanya antara lain:

  • Tinggi badan berkurang, perubahan postur tubuh (bungkuk), atau timbulnya nyeri punggung tiba-tiba yang tak dapat dijelaskan.
  • Usia lebih dari usia 45 atau pasca-menopause dan tulang patah.

Bagaimana saya bisa mengetahui apakah saya memiliki tulang keropos?

Ada tes yang bisa dilakukan untuk mengetahui kepadatan tulang. Tes osteoporosis ini disebut dual-energy X-ray absorptiometry (DXA or dexa scan). Scan DXA mengambil X-ray dari tulang Anda. Alat skrining ini juga dapat digunakan untuk memprediksi risiko memiliki kepadatan tulang rendah atau patah tulang. Bicarakan dengan dokter atau perawat tentang tes atau alat untuk menilai risiko.

Kapankah tes kepadatan tulang diperlukan?

Jika Anda berusia 50 tahun atau lebih, Anda harus mendapatkan tes kepadatan tulang untuk pemeriksaan osteoporosis. Jika Anda lebih muda dari 50 tahun dan memiliki faktor risiko untuk osteoporosis, tanyakan pada dokter apakah Anda perlu tes kepadatan tulang sebelum usia 50 tahun ini.

Untuk mengetahui risiko patah tulang dan apakah Anda membutuhkan tes kepadatan tulang, dokter akan mempertimbangkan faktor-faktor seperti berikut:

  • Usia
  • Telah mencapai menopause atau belum
  • Tinggi dan berat badan
  • Perokok atau bukan
  • Peminum alkohol atau bukan
  • Riwayat osteoporosis pada keluarga
  • Obat yang dikonsumsi
  • Ada tidaknya gangguan yang meningkatkan risiko terkena osteoporosis

Cara mencegah osteoporosis

Cara terbaik untuk mencegah tulang keropos atau osteoporosis adalah berusaha membentuk tulang yang kuat. Tidak peduli berapa usia Anda, tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai. Membangun tulang kuat selama masa kanak-kanak dan masa remaja merupakan salah satu cara terbaik untuk mencegah osteoporosis di kemudian hari.

Iklan dari HonestDocs
Beli Alat Kontrasepsi & Hormon via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 7

Ketika Anda beranjak tua, tulang Anda tidak dapat membentuk tulang baru dengan cukup cepat  untuk bersaing dengan pengeroposan tulang. Dan setelah menopause, kehilangan tulang terjadi lebih cepat.

Akan tetapi, ada beberapa langkah yang dapat Anda ambil untuk memperlambat hilangnya tulang akibat proses penuaan dan mencegah tulang dari osteoporosis, yakni:

1. Asupan kalsium yang cukup setiap hari

Tulang mengandung banyak kalsium. oleh karena itu dibutuhkan kalsium yang cukup dalam makanan. Anda bisa mendapatkan kalsium melalui makanan dan/atau pil suplemen kalsium, yang dapat Anda peroleh di toko obat atau apotek. Sumber kalsium melalui makanan pasti lebih baik karena makanan memberikan nutrisi lain yang menjaga Anda tetap sehat.

2. Asupan vitamin D yang cukup setiap hari

Penting sekali mendapatkan asupan vitamin D yang cukup , karena Vitamin D membantu tubuh menyerap kalsium dari makanan yang Anda makan. Vitamin D diproduksi di kulit ketika terkena sinar matahari.

Oleh karena itu, Anda dianjurkan untuk berjemur selama 10-15 menit di bawah sinar matahari. Hal ini terutama untuk daerah tangan, lengan, dan wajah 2-3 kali seminggu untuk produksi vitamin D yang cukup.

3. Makan makanan yang sehat

Nutrisi lainnya (seperti vitamin K, vitamin C, magnesium, dan seng, serta protein) juga membantu membangun tulang yang kuat. Susu memiliki banyak nutrisi. Begitu juga makanan seperti daging tanpa lemak, ikan, sayuran berdaun hijau, dan jeruk.

4. Aktifitas fisik

Aktifitas fisik yang memadai membantu kesehatan tulang, berperan sebagai upaya memperlambat pengeroposan tulang, meningkatkan kekuatan otot, sampai membantu keseimbangan. Ada berbagai macam aktivitas atau latihan yang dapat anda lakukan, diantaranya berjalan kaki, menari, memanjat tangga, bermain tenis, angkat beban, yoga, atau tai chi

5. Jangan merokok

Merokok meningkatkan risiko osteoporosis. Merokok merugikan tulang dan menurunkan jumlah estrogen dalam tubuh Anda. Estrogen adalah hormon yang dibuat oleh tubuh yang dapat membantu menghambat pengeroposan tulang.


8 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Osteoporosis: Risk factors, diagnosis, and treatment (https://www.medicalnewstoday.com/articles/155646.php)
Osteoporosis: Everything You Need to Know (https://www.healthline.com/health/osteoporosis)
Osteoporosis - NIH Osteoporosis and Related Bone Diseases National Resource Center (http://www.niams.nih.gov/Health_Info/Bone/Osteoporosis/osteoporosis_hoh.asp)

Artikel ini hanya sebagai informasi awal mengenai kondisi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Pertanyaan dan jawaban lain tentang kondisi ini
Punya pertanyaan? Tanyakan kepada dokter di bawah ini

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app