Doctor men
Ditulis oleh
HONESTDOCS EDITORIAL TEAM
Doctor men
Ditinjau oleh
DR VINA SETIAWAN

Osteoporosis: Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

Update terakhir: Jul 6, 2019 Tinjau pada Jun 2, 2019 Waktu baca: 7 menit
Telah dibaca 1.338.856 orang

Tulang adalah organ dengan struktur keras dan kaku yang membentuk kerangka manusia. Organ-organ ini dinamis dan terus berubah sering stimulus dari lingkungan. Beberapa tulang dapat menyatu dan membentuk tulang yang lebih kuat seperti yang terjadi pada masa pertumbuhan (bayi memiliki 300 tulang, sementara dewasa hanya 206 tulang. 

Selain itu, tulang juga dapat membesar atau mengecil, menebal atau menipis, atau menguat jika dibutuhkan. Saat patah, misalnya dalam cedera, tulang dapat tumbuh kembali tanpa meninggalkan luka.

Tetapi bagi penderita Osteoporosis, terjadinya penipisan tulang dan pengeroposan tulang melebihi pertumbuhan tulang baru. Tulang menjadi keropos, rapuh, dan rentan patah. Lihatlah X-ray dari pinggul dengan kepadatan tulang yang normal, dengan adanya matriks padat pada sel-sel tulang. 

Tetapi lihatlah pinggul dengan osteoporosis, dan Anda akan melihat sebagian besar hasil dari X-ray adalah udara. Matriks tulang semuanya telah hilang, dan hanya beberapa helai tipis yang tersisa.

Osteoporosis dapat terjadi pada pria dan wanita dari semua ras. Tetapi biasanya osteoporosis terjadi pada wanita kulit putih dan orang Asia, terutama wanita yang telah melewati masa menopause, mereka berada pada risiko tertinggi mengalami osteoporosis.

Obat-obatan, diet sehat, dan olahraga dapat membantu mencegah keropos tulang atau memperkuat tulang yang sudah lemah.

Berikut beberapa penjelasan mengenai osteoporosis.

Apa Sih Osteoporosis Itu?

Osteoporosis adalah penyakit tulang yang menyebabkan tulang menjadi lemah dan rapuh, begitu rapuhnya sehingga bila seseorang yang terkena osteoprorosis jatuh atau mengalami tekanan ringan seperti membungkuk atau batuk dapat menyebabkan patah tulang

Osteoporosis mempunyai sifat-sifat khas berupa massa tulang yang rendah dan penurunan kualitas jaringan tulang yang akhirnya menimbulkan kerapuhan tulang. Osteoporosis biasanya paling sering terjadi di pinggul, pergelangan tangan atau tulang belakang.

Osteoporosis merupakan penyakit yang sering tidak terdeteksi dan tidak diketahui hingga tulang patah. Banyak orang berpikir bahwa osteoporosis terjadi secara alami dan tidak dapat dihindari karena bagian dari penuaan. Meski begitu, ahli medis menyakini osteoporosis dapat dicegah. 

Terlebih lagi, orang yang sudah menderita osteoporosis dapat melakukan pencegahan atau memperlambat perkembangan penyakit dan menurunkan risiko akan patah tulang berikutnya.

Apa saja gejala –gejala pada Osteoporosis?

Umumnya tidak ada tanda-tanda khas terjadinya Osteoporosis di awal masa menurunnya kepadatan tulang. Namun beberapa kondisi berikut dapat menjadi gejala terjadinya Osteoporosis, antara lain sakit punggung, postur tubuh bungkuk, menurunnya tinggi badan, lebih sering mengalami cedera/keretakan tulang.

Berkurangnya kepadatan dapat membuat tulang rentan untuk retak. Keretakan biasanya terjadi pada tulang belakang, pergelangan tangan, lengan, atau tulang pangkal paha.

Kemungkinan ada tanda-tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan sebuah gejala tertentu, konsultasikanlah dengan dokter.

Apa Yang Menyebabkan Terjadinya Osteoporosis?

Pembentukan tulang normal membutuhkan mineral kalsium dan fosfat. Jika tubuh kekurangan kalsium dari makanan, produksi tulang dan jaringan tulang dapat terganggu. Penyebab utama Osteoporosis yaitu penuaan, yang menyebabkan penurunan estrogen pada wanita saat menopause dan penurunan testosteron (hormon pria) pada laki-laki.

Osteoporosis postmenopausal terjadi karena kekurangan estrogen (hormon utama pada wanita), yang membantu mengatur pengangkutan kalsium ke dalam tulang pada wanita. 

Biasanya gejala timbul pada wanita yang berusia di antara 51-75 tahun, tetapi bisa mulai muncul lebih cepat ataupun lebih lambat. 

Tidak semua wanita memiliki risiko yang sama untuk menderita osteoporosis postmenopausal, wanita kulit putih dan daerah timur lebih mudah menderita penyakit ini daripada wanita kulit hitam. 

Kemungkinan Anda yang menderita osteoporosis tergantung pada banyak massa tulang yang Anda capai saat masih muda. Semakin tinggi massa tulang puncak Anda, semakin banyak tulang yang Anda “simpan” dan semakin sedikit kemungkinan Anda menderita Osteoporosis saat Anda tua.

Apa saja faktor-faktor risiko pada Osteoporosis?

Sejumlah faktor yang dapat meningkatkan kemungkinan Anda akan mengalami Osteoporosis, termasuk usia, ras, pilihan gaya hidup, dan kondisi pengoatan medis Anda.

Risiko yang tidak dapat diubah:

  • Jenis kelamin
    Perempuan jauh lebih mungkin terkena Osteoporosis daripada laki-laki.
  • Usia
    Semakin tua usia Anda, semakin besar risiko Anda terkena Osteoporosis.
  • Ras
    Anda berisiko terbesar terkena Osteoporosis jika Anda berkulit putih atau keturunan Asia.
  • Riwayat keluarga
    Memiliki orang tua atau saudara kandung dengan Osteoporosis memungkinkan Anda mendapatkan risiko yang lebih besar, terutama jika ibu atau ayah Anda mengalami patah tulang pinggul.
  • Ukuran postur tubuh
    Pria dan wanita yang memiliki kerangka tubuh kecil cenderung memiliki risiko lebih tinggi karena mereka mungkin memiliki massa tulang yang lebih sedikit .

Kadar hormon 

Osteoporosis lebih sering terjadi pada orang yang memiliki terlalu banyak atau terlalu sedikit hormon tertentu dalam tubuh mereka. Contohnya termasuk:

  • Hormon seks: Menurunkan kadar hormon seks cenderung melemahkan tulang. Penurunan kadar estrogen pada wanita saat menopause merupakan salah satu faktor risiko terkuat untuk mengembangkan osteoporosis. Pria mengalami penurunan bertahap kadar testosteron seiring bertambahnya usia. Perawatan untuk kanker prostat yang mengurangi kadar testosteron pada pria dan perawatan untuk kanker payudara yang mengurangi kadar estrogen pada wanita cenderung mempercepat pengeroposan tulang.
  • Masalahgt;tiroid:  Terlalu banyak hormon tiroid dapat menyebabkan keropos tulang. Ini dapat terjadi jika tiroid Anda terlalu aktif atau jika Anda terlalu banyak mengonsumsi obat hormon tiroid untuk mengobati tiroid yang kurang aktif.
  • Kelenjar lainnya: Osteoporosis juga dikaitkan dengan kelenjar paratiroid dan adrenal yang terlalu aktif.

Faktor makanan yang mempengaruhi Osteoporosis

Osteoporosis lebih mungkin terjadi pada orang yang memiliki:

  • Asupan kalsium rendah: Kekurangan kalsium seumur hidup memainkan peran dalam perkembangan Osteoporosis. Asupan kalsium yang rendah berkontribusi terhadap berkurangnya kepadatan tulang, kehilangan tulang dini dan peningkatan risiko patah tulang.
  • Diet yang berlebihan: Sangat membatasi asupan makanan dan kekurangan berat badan dapat melemahkan tulang pada pria dan wanita.

Beberapa kebiasaan buruk dapat meningkatkan risiko Osteoporosis

  • Gaya hidup: Orang yang menghabiskan banyak waktu duduk memiliki risiko osteoporosis yang lebih tinggi daripada mereka yang lebih aktif.
  • Konsumsi alkohol berlebihan: Konsumsi rutin lebih dari dua minuman beralkohol sehari meningkatkan risiko Osteoporosis.

Diagnosis Osteoporosis

Bila Anda mengalami keretakan tulang, pemeriksaan dengan rontgen atau sinar-X berguna untuk mengidentifikasi keretakan tulang dapat dilakukan. Akan tetapi tes ini tidak dapat mengidentifikasi diagnosis osteoporosis. 

Berikut adalah tes penunjang yang dapat dilakukan untuk memastikan diagnosis osteoporosis: 

Pemindaian DEXA: Mengukur Kepadatan Tulang

DEXA mengukur kepadatan mineral tulang (bone mineral density/BMD). Hasil pemindaian DEXA dapat diinterpretasikan sebagai berikut:

  • Di atas Standar Deviasi (SD) (-1) berarti normal Antara SD (-1) dan (-2,5) diklasifikasikan sebagai osteopenia. Osteopenia adalah  kondisi saat kepadatan tulang lebih rendah dari rata-rata, tapi belum serendah tulang osteoporosis,
  • Di bawah SD (-2,5) dikategorikan sebagai osteoporosis. 

FRAX: Memprediksi Keretakan Tulang

FRAX bertujuan untuk memprediksi risiko keretakan tulang. Tes ini biasanya dilakukan pada pasien berusia antara 40-90 tahun. 

Apa saja terapi untuk mengatasi Osteoporosis?

Mengubah gaya hidup dapat menurunkan risiko patah tulang. Misalnya melakukan olahraga dan menguatkan otot secara teratur, berhenti merokok, mengurangi konsumsi alkohol dan diet cukup kalsium (minimal 1200 mg/hari) dan vitamin D (minimal 800 IU/hari). 

Suplemen kalsium dapat meningkatkan kalsium, dan vitamin D membantu tubuh menyerap kalsium. Terapi berfokus pada memperlambat atau menghentikan tulang keropos untuk mencegah patah tulang dengan menurunkan risiko jatuh.

Obat yang lain, seperti bifosfonat misalnya alendronate dan suplementasi kalsium dan vitamin D yang adekuat dapat dikonsumsi.

Berkonsultasilah dengan dokter jika Anda mulai sulit berjalan atau sulit berdiri dengan tegap. Dokter akan mendiskusikan tindakan pencegahan agar Anda tidak cedera saat beraktivitas. Hal ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan meminimalkan penyebab cedera.

Bagaimana cara mencegah terjadinya Osteoporosis?

Kekuatan tulang dan tingkat potensi risiko terhadap osteoporosis ditentukan oleh gen Anda. Namun faktor gaya hidup seperti pola makan dan olahraga juga dapat berdampak kepada seberapa sehat kualitas tulang Anda. Pencegahan osteoporosis akan memberikan Anda infomasi tentang beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya osteoporosis. Contohnya sebagai berikut:

Olahraga 3-4 kali selama 30 menit dalam seminggu

Olahraga dengan intensitas menengah, seperti bersepeda atau jalan cepat. 

Menjalani pola makan dan hidup sehat
Jika gaya hidup atau pola makan membuat Anda kekurangan vitamin D, Anda dapat mengonsumsi suplemen vitamin D. Vitamin D dapat ditemukan dalam kuning telur, susu kedelai, dan hati sapi. 

Kalsium juga penting untuk menjaga kekuatan tulang. Kadar konsumsi minimal kalsium yang direkomendasikan tiap hari adalah 1000 miligram. Kalsium juga dapat ditemukan pada beberapa makanan, seperti tahu, tempe, kacang merah, dan ikan sardin.

Melatih kekuatan kaki dan lutut

Latihan menggunakan beban dalam berat yang tidak berlebihan sangat penting untuk meningkatkan kepadatan tulang dan membantu mencegah osteoporosis. Olahraga seperti lari, melompat, menari, dan aerobik bermanfaat menguatkan otot, ligamen, dan sendi

Orang yang berusia di atas 60 tahun juga dapat memperkuat tulang mereka dengan olahraga, seperti jalan cepat atau bermain badminton berdurasi pendek. Saat berolahraga, gunakan sepatu yang mampu meminimalkan risiko cedera pada pergelangan kaki.

Melatih kekuatan tulang

Latihan ketahanan meliputi gerakan-gerakan seperti push-up, angkat berat, atau latihan angkat beban dapat meningkatkan kekuatan tulang Anda.

Menghentikan kebiasaan buruk

Berhenti merokok dan membatasi konsumsi minuman beralkohol juga dapat melindungi Anda dari osteoporosis.

Berjemur dibawah sinar matahari

Paparan sinar matahari yang cukup dapat membantu tubuh memproduksi vitamin D secara alami. Usahakan agar kulit terkena sinar matahari selama paling tidak 10 menit sebelum menggunakan tabir surya. Lakukan ini di pagi hari sebelum jam 9.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Pertanyaan dan jawaban lain tentang kondisi ini

Punya pertanyaan? Tanyakan kepada dokter di bawah ini

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.
Submit