Mengatasi Peradangan Hati Akibat Obat TBC

Dipublish tanggal: Jun 1, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Waktu baca: 3 menit
Mengatasi Peradangan Hati Akibat Obat TBC

Tuberkulosis (TB) adalah penyebab kematian akibat infeksi terbanyak di dunia. Diperkirakan sekitar sepertiga populasi dunia terinfeksi Mycobacterium tuberculosis (Mtb). 

Saat ini, melalui perbaikan diagnosis dan regimen pengobatan, terdapat kemajuan yang signifikan dalam mengurangi angka kematian dalam beberapa dekade terakhir.

Iklan dari HonestDocs
Beli Domperodine IF 10mg Tab via HonestDocs

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Domperidone if 10mg tab 1

Pengobatan tuberkulosis menggunakan obat anti tuberkulosis (OAT) terbagi menjadi 2 fase yaitu fase intensif (2-3 bulan) dan fase lanjutan 4 atau 7 bulan. Paduan obat yang digunakan terdiri dari paduan obat utama dan obat tambahan. 

Sebagian besar penderita TB dapat menyelesaikan pengobatan tanpa efek samping. Namun tidak sedikit juga orang yang mengalami efek samping selama menjalani pengobatan. 

Memantau kemungkinan terjadinya efek samping sangat penting dilakukan selama pengobatan. Efek samping yang terjadi dapat ringan atau berat, bila efek samping ringan dan dapat diatasi dengan obat simtomatik maka pemberian OAT dapat dilanjutkan.

Apa Itu Hepatitis Imbas Obat?

Salah satu efek samping berat yang dapat ditimbulkan oleh penggunaan obat-obatan anti tuberkulosis adalah hepatitis imbas obat atau peradangan hati akibat penggunaan obat-obatan. Hepatitis imbas obat dapat disebabkan oleh obat anti tuberkulosis seperti :

Isoniazid
Hepatitis yang dapat timbul pada kurang lebih 0,5% penderita.

Rifampisin
Hepatitis imbas obat atau ikterik adalah efek samping yang dapat terjadi pada penggunaan Rifampisin walaupun relatif jarang jika dibandingkan dengan obat anti tuberkulosis yang lain.

Iklan dari HonestDocs
Beli Domperodine IF 10mg Tab via HonestDocs

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Domperidone if 10mg tab 1

Pirazinamid
Dibandingkan semua pengobatan utama tuberkulosis, pirazinamid adalah obat anti tb yang memiliki efek samping hepatitis imbas obat yang paling berat.

Bagaimana Pengobatan Tuberkulosis Pada Orang yang Memiliki Gangguan Hati Sebelumnya?

  • Bila ada kecurigaan gangguan fungsi hati, dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan fungsi hati sebelum memulai pengobatan obat anti tuberkulosis.
  • Pada orang yang menderita kelainan / gangguan fungsi hati, pirazinamid tidak boleh digunakan.
  • Panduan Obat anti tuberkulosis yang dianjurkan / rekomendasi WHO untuk pasien yang berpotensi atau terbukti mengalami gangguan fungsi hati meliputi: 2 bulan fase intensif dengan pemberian obat Streptomisin, Isoniazid, Rifampisin dan Etambutol dan dilanjutkan dengan fase lanjutan selama 6 bulan dengan pemberian Rifampisin atau Isoniazid (2 SHRE/6 RH) . Atau dapat diberikan dengan regimen 2 bulan fase intensif dengan pemberian Streptomisin, Isoniazid dan Etambutol dilanjutkan dengan fase lanjutan selama 10 bulan dengan pemberian Isoniazid dan Etambutol (2 SHE/10 HE).
  • Pada penderita hepatitis akut dan atau sedang menderita penyakit kuning saat akan memulai pengobatan OAT , sebaiknya OAT ditunda sampai hepatitis akut mengalami penyembuhan. Pada keadaan sangat diperlukan dapat diberikan obat Streptomisin dan Etambutol maksimal 3 bulan sampai hepatitis sembuh dan dilanjutkan dengan 6 bulan pemberian rifampisin dan Isoniazid.
  • Seseorang yang mengalami masalah fungsi hati dan menderita tuberkulosis secara bersamaan, sebaiknya mendapatkan penanganan khusus dari ahli Paru.

Bagaimana Penanganan Hepatitis Imbas Obat?

Hepatitis Imbas Obat dikenal sebagai kelainan hati akibat penggunaan obat obatan yang bersifat  hepatotoksik (drug induced hepatitis)

Penatalaksanaan

Bila terdapat gejala yang menunjukan terjadi gangguan fungsi hati seperti kuning disertai dengan mual, muntah maka disarankan untuk menghentikan penggunaan OAT.

Bila tidak terdapat gejala yang menunjukan terjadi gangguan fungsi hati seperti kuning disertai dengan mual, muntah, langkah selanjutnya akan tergantung pada pemeriksaan laboratorium.

  • Jika kadar bilirubin > 2 → maka dianjurkan untuk menghentikan penggunaan OAT
  • Jika kadar SGOT, SGPT > 5 kali normal : maka dianjurkan untuk menghentikan penggunaan OAT.
  • Jika kadar SGOT, SGPT > 3 kali normal namun disertai dengan gejala yang menunjukan gangguan fungsi hati : maka dianjurkan untuk menghentikan penggunaan OAT.
  • Jika kadar SGOT, SGPT > 3 kali normal, namun tidak disertai dengan gejala yang menunjukan gangguan fungsi hati → teruskan pengobatan, dengan pengawasan

Pilihan OAT yang Dianjurkan

  • Stop OAT yang bersifat hepatotoksik (Rifampisin, Isoniazid dan Pirazinamid)
  • Setelah itu, monitor gejala klinik dan hasil laboratorium. Bila gejala klinik dan hasil laboratorium kembali normal (bilirubin, SGOT, SGPT), maka tambahkan  isoniazid secara perlahan (desensitisasi) sampai dengan dosis penuh (300 mg). Lakukan pemantauan ketat terhadap gejala klinik dan periksa hasil laboratorium saat menggunakan isoniazid dosis penuh , bila klinik dan laboratorium normal , tambahkan rifampisin, desensitisasi sampai dengan dosis penuh (sesuai berat badan). Sehingga paduan obat menjadi RHES
  • Pirazinamid tidak boleh digunakan lagi

7 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Anti-tuberculosis medication side-effects constitute major factor for poor adherence to tuberculosis treatment. World Health Organization (WHO). (https://www.who.int/bulletin/volumes/86/3/07-043802/en/)
Adverse reactions to first-line antituberculosis drugs. National Center for Biotechnology Information. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16503745)
Arbex, M., Varella, M., Siqueira, H., & Mello, F. (2010). Drogas antituberculose: interações medicamentosas, efeitos adversos e utilização em situações especiais - parte 1: fármacos de primeira linha. Jornal Brasileiro De Pneumologia, 36(5), 626-640. https://doi.org/10.1590/s1806-37132010000500016. Scientific Electronic Library Online (SciELO). (http://www.scielo.br/scielo.php?pid=S1806-37132010000500016&script=sci_arttext&tlng=en)

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app