Mengapa Seseorang Mengalami Phobia

Sebagian orang ada yang bisa dengan mudah mengatasi perasaan takut yang dialami. Tetapi pada beberapa orang yang lain justru rasa takut yang dialaminya tersebut menunjukkan gejala – gejala fisik yang bahkan bisa mengganggu aktivitas orang itu.
Dipublish tanggal: Jun 13, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Waktu baca: 2 menit
Mengapa Seseorang Mengalami Phobia

Phobia ialah rasa takut yang berlebih pada suatu hal. Secara umum, rasa takut yang dialami seseorang karena phobia ini juga bisa menghambat kehidupan orang tersebut. Rasa takut memang merupakan hal yang wajar bagi tiap-tiap orang. 

Tetapi jika terus menerus dan berlebihan maka tentu saja yang bersangkutan mentalnya bisa terganggu, karena tidak bisa mengatasi rasa takutnya tersebut.

Gejala yang terjadi pada phobia

Menjukkan rasa takut yang berlebih saat berada pada suatu kejadian tertentu atau berhadapan pada suatu objek tertentu ini merupakan salah satu gejala yang sering ditimbulkan oleh penderita phobia. 

Bukan hanya akan menunjukkan rasa takut yang luar biasa, namun seseorang yang mempunyai phobia ini juga kerap menunjukkan gejala – gejala fisik seperti misalnya:

Penyebab phobia pada sebagian orang

Sebagian orang ada yang bisa dengan mudah mengatasi perasaan takut yang dialami. Tetapi pada beberapa orang yang lain justru rasa takut yang dialaminya tersebut menunjukkan gejala – gejala fisik yang bahkan bisa mengganggu aktivitas orang itu. 

Sehingga jika anda mempunyai perasaan takut yang berlebihan pada suatu hal, maka sebaiknya anda lebih waspada. Berikut beberapa hal yang mungkin penyebab phobia:

  • Genetik, faktor paling besar timbulnya phobia ialah dari riwayat keluarga. Jika seseorang yang dibesarkan dalam keluarga yang memiliki masalah kecemasan, phobia juga bisa terjadi pada anaknya.
  • Peristiwa traumatis, umumnya phobia ini terjadi ketika anak – anak sebab adanya peristiwa yang traumatis. Baik itu dialami secara langsung maupun tidak. Seperti jika seseorang pernah terjebak lift, maka ia akan merasa takut naik lift dan lebih memilih menggunakan tangga.
  • Fungsi otak berubah, phobia spesifik terjadi karena perubahan fungsi otak dan menyebabkan phobia. Orang yang mendapat perawatan mental atau cidera pada otak juga bisa mengalami phobia.
  • Psikososial, timbulnya phobia juga bisa terjadi karena rangsangan alami atau ancaman yang menakutkan. Seperti misalnya saja kebiasaan para orang tua atau sekitar yang menakut – nakuti sang anak akan suatu hal yang tidak masuk akal atau perkataan yang negatif lain, yang bisa memunculkan perasaan takut pada anak dan dibawa sampai ia dewasa.
  • Lingkungan, lingkungan juga bisa jadi salah satu penyebab seseorang mengalami phobia. Misalnya anak yang dibesarkan pada lingkungan yang berkonflik, bisa mempunyai phobia pada suara keras atau lainnya.

Cara pengobati Phobia

Phobia ini sendiri juga bisa diobati dengan menggunakan dua cara, yakni dengan cara psikoterapi dan juga dengan menggunakan obat-obatan. 

  • Untuk psikoterapi bisa dengan cara terapi eksposur yang bisa digunakan, untuk mengubah sudut pandang seseorang terhadap sebuah objek ataupun pada suatu hal yang menakutkan. 
  • Mungkin bisa dengan cognitive behavioral theraphy CBR. CBR ini yang merupakan penggabungan dari cara eksposur dan juga terapi yang lainnya. CBR ini akan ditekankan pada bagaimana cara mengendalikan perasaan dan juga pikiran seseorang. 
  • Sedangkan cara lain ialah dengan cara menggunakan obat – obatan. Obat ini digunakan untuk mengobati gangguan phobia yakni obat beta blocker dan juga antidepresan guna mengurangi munculnya gejala.

Apabila phobia yang anda derita sudah terlalu sering menghambat kegiatan anda sehati – harinya, maka akan lebih baik jika anda membicarakannya dengan dokter. Phobia memang tidak boleh dianggap remeh, sehingga dapat berpengaruh pada kehidupan dan juga aktivitas anda. 

Sehingga akan lebih baik jika anda segera menghubungi dokter agar bisa mendaptkan penangannan secara medis.


7 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Buka di app