Laxing: Manfaat, Dosis, & Efek Samping

Dipublish tanggal: Feb 22, 2019 Update terakhir: Okt 26, 2020 Tinjau pada Jun 13, 2019 Waktu baca: 3 menit

Ringkasan

Buka

Tutup

  • Laxing adalah obat pencahar yang berfungsi untuk melancarkan buang air besar bagi penderita konstipasi atau sembelit.
  • Laxing mengandung bahan utama berupa ekstrak senna dan lidah buaya yang mampu melunakkan feses, sehingga lebih mudah dikeluarkan.
  • Dosis Lacing adalah 1-2 kapsul sehari. Diminum sebelum tidur agar BAB lancar di pagi hari.
  • Laxing sebaiknya tidak diberikan kepada ibu hamil atau menyusui. Hindari penggunaan obat ini untuk penderita alergi terhadap komponen obat.
  • Jika ingin menurunkan berat badan dengan Laxing, seimbangkan juga dengan olahraga teratur, konsumsi makanan sehat, dan cukup istirahat.
  • Klik untuk mendapatkan Laxing atau obat lambung & saluran pencernaan lainnya ke rumah Anda di HDmall. *Gratis ongkir ke seluruh Indonesia & bisa COD.

Laxing adalah obat pencahar yang berfungsi untuk melancarkan buang air besar bagi penderita konstipasi atau sembelit. Di sisi lain, obat laxing juga digunakan untuk menurunkan berat badan berlebih.

Jika Anda mengalami kedua masalah di atas, bisa memanfaatkan obat yang dijual bebas di apotek ini. Namun demikian, Anda harus tetap waspada dengan memperhatikan indikasi, kontraindikasi, dosis, dan efek sampingnya.

Mengenai Laxing

Golongan

Jual bebas

Kemasan

1 strip isi 4 tablet

Kandungan

Setiap kapsul Laxing mengandung komposisi sebagai berikut:

  •  Cassiae sennae folium sebanyak 100 mg.
  •  Aloe vera folium sebanyak 33 mg.
  •  Foeniculi vulgaris semen sebanyak 20 mg.

Mekanisme kerja Laxing

Rasanya kurang tepat jika menyebut Laxing sebagai obat, karena terlihat jelas pada kemasannya di sudut kiri atas tertulis "jamu". Artinya, produk ini terbuat dari bahan alami atau herbal dan belum teruji secara klinis digunakan sebagai pengobatan yang diakui di dunia medis.

Jamu Laxing mengandung bahan utama berupa ekstrak senna dan lidah buaya dengan mekanisme kerjanya melunakkan feses sehingga mudah dikeluarkan. Sembelit hilang dan berat badan pun akan cepat turun. Cocok bagi mereka yang ingin tampil ramping.

Cara kerja Laxing dipengaruhi oleh bahan-bahan aktif berikut:

1. Cassiae Sennae Folium

Cassiae sennae folium atau ekstrak Sena bermanfaat untuk mengatasi sembelit atau konstipasi, memperlancar BAB, ambeien, menyehatkan lambung, serta sebagai pencuci perut. Ekstrak senna juga bermanfaat sebagai pelangsing alami yang aman bagi tubuh dan sebagai anti inflammatory (anti bengkak) serta detoksifikasi.

2. Aloe Vera Folium

Aloe vera folium atau ekstrak lidah buaya berfungsi sebagai pembersih sistem pencernaan. Pola makan yang tidak sehat yang dapat menyebabkan kelainan dalam sistem pencernaan akan dinetralisir oleh ekstrak lidah buaya ini. 

Pencernaan yang sehat akan membantu menjaga keseimbangan dan kelancaran proses buang air besar. Selain itu, lidah buaya juga dapat mengenyangkan.

3. Foeniculi Vulgaris Semen

Selain bermanfaat  untuk mengobati sesak napas, susah tidur, sakit kuning, rematik, menambah produksi ASI, ekstrak buah adas juga bermanfaat untuk mengatasi sakit perut, perut kembung, bega, keracunan, muntah-muntah, diare, kurang nafsu makan, proteinuria, nyeri haid serta haid tidak teratur.

Ekstrak buah adas telah dipercaya sejak dulu untuk mengobati masalah pencernaan. Namun, sebaiknya adas tidak diberikan pada penderita alergi terhadap, seledri, wortel, penderita epilepsi dan anak di bawah umur. Adas aman digunakan sebagai obat dalam jangka waktu yang tidak lama.

Manfaat Laxing

Berdasarkan kandungannya, Laxing berguna untuk:

Kontraindikasi

Laxing sebaiknya tidak diberikan kepada ibu hamil atau menyusui mengingat data keamanannya belum cukup. Hindari pula penggunaan bagi penderita yang memiliki alergi terhadap salah satu atau beberapa komponen obat.

Dosis Laxing 

Dosis penggunaan Laxing adalah 1-2 kapsul sehari, diminum sebelum tidur agar BAB lancar di pagi hari.

Efek samping Laxing

Seperti halnya dengan obat-obat lainnya, Laxing juga berpotensi menyebabkan efek samping. Efek samping Laxing yang umum terjadi di antaranya:

1. Sering buang gas

Mengonsumsi obat pelancar BAB secara berlebihan dapat membuat produksi gas meningkat. Akibatnya, Anda akan merasa kembung dan selalu ingin buang gas. Hal ini disebabkan oleh kandungan serat yang ada di dalam obat tersebut.

2. Pendarahan anus

Efek samping pencahar selanjutnya adalah dapat memicu pendarahan di anus. Hal tersebut dipengaruhi oleh faktor diare yang berhubungan dengan penggunaan obat pencahar terlalu berlebihan.

Selain itu, ini juga disebabkan oleh adanya iritasi di lapisan dinding rektum ketika obat bekerja melunakkan feses yang keras.

3. Kram perut

Kram di bagian perut dan saluran pencernaan bawah akan Anda rasakan. Kondisi ini disebabkan oleh obat pencahar yang bekerja meringankan sembelit dengan cara merangsang kontraksi dinding perut, sehingga feses akan bergerak lancar ke rektum dan dinding.

4. Perut menjadi kembung

Mungkin Anda akan merasakan pengembungan di daerah perut yang disebabkan oleh penggunaan obat pencahar. Kembung ini disebabkan oleh adanya kerja di otot-otot saluran pencernaan yang berkontraksi dalam menambah massa feses. Namun, umumnya kembung ini akan hilang setelah sembelit reda.

Interaksi Laxing

Potensi interaksi obat terjadi ketika digunakan bersamaan dengan obat lain, sehingga dapat mengubah cara kerja obat. Sebagai akibatnya, obat tidak dapat bekerja dengan maksimal atau bahkan menimbulkan racun yang membahayakan tubuh.

Oleh sebab itu, penting untuk mengetahui obat apa saja yang sedang Anda konsumsi dan beri tahukan pada dokter sebelum menggunakan Laxing.

Perhatian

Sebelum dan selama menggunakan obat Laxing, perhatikan hal-hal berikut:

  • Jika ingin menurunkan berat badan, di samping mengonsumsi Laxing, Anda juga perlu berolahraga secara teratur, mengonsumsi makanan sehat, cukup istirahat dan bebas stres.

Artikel terkait:


13 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Vitalone, A., Di Giacomo, S., Di Sotto, A., Franchitto, A., Mammola, C., & Mariani, P. et al. (2011). Cassia angustifolia Extract Is Not Hepatotoxic in an in vitro and in vivo Study. Pharmacology, 88(5-6), 252-259. https://doi.org/10.1159/000331858. Karger Publishers. (https://www.karger.com/Article/Abstract/331858)
Laxative Activities of Cassia Sieberiana and Senna Obtusifolia. National Center for Biotechnology Information. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4202395/)
Morales, Miguel & Hernandez, Doris & Bustamante, Sandro & Bachiller, Ignacio & Rojas, Armando. (2009). Is Senna Laxative Use Associated to Cathartic Colon, Genotoxicity, or Carcinogenicity?. Journal of toxicology. 2009. 287247. 10.1155/2009/287247.. ResearchGate. (https://www.researchgate.net/publication/41166586_Is_Senna_Laxative_Use_Associated_to_Cathartic_Colon_Genotoxicity_or_Carcinogenicity)

Artikel ini hanya sebagai informasi obat, bukan anjuran medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter atau apoteker mengenai informasi akurat seputar obat.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Buka di app