Delusi Dan Halusinasi Merupakan Dua Hal Yang Berbeda. Apakah Perbedaannya?

Dari penjabaran diatas, dapat disimpulkan bahwa delusi dan halusinasi merupakan suatu keadaan dimana seseorang akan meyakini apa yang ada di pikirannya merupakan hal yang nyata. Delusi merupakan gangguan mental dimana penderita mempercayai dan meyakini hal yang tidak terjadi, sedangkan halusinasi adalah gejala yang ditimbulkan saat indera seseorang mengalami hal yang sebenarnya tidak terjadi.
Dipublish tanggal: Jul 4, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Tinjau pada Okt 14, 2019 Waktu baca: 3 menit
Delusi Dan Halusinasi Merupakan Dua Hal Yang Berbeda. Apakah Perbedaannya?

Selama ini delusi dan halusinasi dianggap merupakan gejala gangguan mental yang sama. Delusi dan halusinasi yang dialami seseorang terjadi saat otak merasakan atau memproses sesuatu hal yang sebenarnya tidak terjadi. 

Namun pada kenyataannya, delusi dan halusinasi merupakan dua hal yang berbeda. 

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Saraf & Otak via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 5

Pengertian delusi dan halusinasi

Seseorang yang menderita delusi menganggap semua yang ada di pikirannya merupakan sesuatu yang nyata. Penderita tidak bisa membedakan antara kenyataan dan imajinasi. 

Jika delusi merupakan gangguan mental, halusinasi merupakan gejala dimana terdapat sensasi yang akan mempengaruhi kerja indra seseorang. 

Dari penjabaran diatas, dapat disimpulkan bahwa delusi dan halusinasi merupakan suatu keadaan dimana seseorang akan meyakini apa yang ada di pikirannya merupakan hal yang nyata. 

Delusi merupakan gangguan mental dimana penderita mempercayai dan meyakini hal yang tidak terjadi, sedangkan halusinasi adalah gejala yang ditimbulkan saat indera seseorang mengalami hal yang sebenarnya tidak terjadi.

Penyebab delusi

Faktor-faktor penyebab seseorang mengalami delusi:

Genetik 

Faktor genetik menjadi salah satu hal seseorang mengalami delusi. Jika salah satu anggota keluarga mengalami delusi, maka  hal ini mungkin saja diturunkan pada anggota keluarga yang lain. 

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Saraf & Otak via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 5

Biologis

Dari segi biologis, delusi dapat terjadi jika bagian otak yang berfungsi untuk berpikir (lobus frontal) dan persepsi (lobus parietal) mengalami masalah dan gangguan, misalkan adanya pertumbuhan tumor otak, dan lain-lain.

Lingkungan atau psikologis

Dari faktor lingkungan, delusi dapat terjadi ketika seseorang mengalami stres berlebih atau melakukan perilaku menyimpang seperti penyalahgunaan narkotika. 

Ketika seseorang merasa kesepian dan terkucilkan dari orang-orang sekitar dan lingkungan karena memiliki keterbatasan pendengaran dan penglihatan, maka kemungkinan besar akan terkena delusi.

Penyebab halusinasi

Faktor-faktor penyebab seseorang mengalami halusinasi:

Gangguan mental

Faktor umum penyebab halusinasi adalah adanya gangguan mental. Beragam gangguan mental seperti delusi dapat menyebabkan seseorang mengalami halusinasi. 

Penyalahgunaan obat

Penggunaan obat yang tidak sesuai dengan takaran dan aturan bisa menyebabkan seseorang mengalami halusinasi. Seseorang yang berada di bawah kendali alkohol, kokain, dan obat-obatan halusinogen tidak akan mampu untuk membedakan hal yang nyata dan tidak nyata.

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Saraf & Otak via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 5

Kekurangan waktu tidur

Jika Anda mengalami kesulitan istirahat dan kekurangan jam istirahat, Anda berpotensi untuk mengalami halusinasi. 

Kondisi kesehatan

Kondisi kesehatan yang menyebabkan seseorang mengalami halusinasi yaitu:

  1. Sedang menjalani pengobatan
  2. Menderita penyakit dengan stadium terminal seperti kanker, AIDS, liver, atau gagal ginjal
  3. Mengalami Parkinson
  4. Demam tinggi
  5. Migrain
  6. Mengalami isolasi sosial, terutama pada lansia
  7. Memiliki kekurangan pada indera pendengaran dan penglihatan
  8. Epilepsi

Hal yang akan dialami oleh penderita delusi

Penderita delusi secara umum akan bersikap seperti orang normal. Gejala delusi akan terlihat jika terjadi perbedaan interaksi dengan apa yang dia yakini. Respon seseorang yang menderita delusi berbeda-beda tergantung jenis delusi yang diderita, seperti:

Erotomania

Penderita delusi jenis ini merasa bahwa ada seseorang yang jatuh cinta dengan dirinya. Penderita akan mencari tahu dan bersikap obsesif terhadap seseorang yang ada di pikirannya. 

Grandiose

Seseorang yang menderita delusi jenis ini memiliki harga diri yang tinggi. Penderita akan beranggapan bahwa dirinya merupakan sosok penting, serta memiliki bakat dan pengaruh yang kuat. 

Jealous

Penderita beranggapan bahwa pasangannya adalah pasangan yang tidak setia. Kecemburuan akan selalu ada pada dirinya terhadap pasangan. 

Persecutory

Penderita merasa diperlakukan secara tidak adil dan mendapat perlakukan jahat oleh orang-orang dan lingkungan di sekitarnya.  

Somatic

Penderita delusi jenis ini akan merasa bahwa dirinya memiliki masalah secara medis dan memiliki kekurangan atau kecacatan. 

Mixed 

Delusi jenis ini memiliki gejala-gejala lebih dari satu jenis delusi. 

Hal yang dialami penderita halusinasi

Berbeda dengan delusi, seseorang yang mengalami halusinasi akan bereaksi berdasar pada sensasi yang dialami bergantung pada indera yang terpengaruh. Macam-macam halusinasi antara lain:

  1. Halusinasi visual – seseorang menganggap melihat seseorang, benda, atau objek yang sebenarnya tidak ada.
  2. Halusinasi olfactory – halusinasi ini berkaitan dengan indera penciuman, sehingga seseorang merasa mencium aroma tertentu.
  3. Halusinasi gustatory – jenis halusinasi ini berkaitan dengan indera pencecap. 
  4. Halusinasi auditory – halusinasi ini berkaitan dnegan indera pendengar.
  5. Halusinasi tactile – jenis halusinasi ini berkaitan dengan indera peraba.

Penanganan delusi dan halusinasi

Penderita delusi membutuhkan penanganan dari terapi kejiwaan seperti psikoterapi, terapi perilaku kognitif, dan terapi keluarga. Selain terapi kejiwaan, penderita delusi juga membutuhkan terapi obat untuk menekan hormon dopamine dan serotonin. 

Sedangkan seseorang yang mengalami halusinasi memerlukan penanganan halusinasi, konseling kejiwaan, dan pemberian obat yang memperlambat kerja otak. 

8 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Schizophrenia Basics: Delusions, Hallucinations & Onset. Psych Central. (Accessed via: https://psychcentral.com/lib/schizophrenia-basics-delusions-hallucinations-onset/)
Delusional Disorder and Types of Delusions: Symptoms, Causes, Diagnosis, Treatment. WebMD. (Accessed via: https://www.webmd.com/schizophrenia/guide/delusional-disorder#1)
Hallucinations: Causes, Types, Diagnosis, Treatment. WebMD. (Accessed via: https://www.webmd.com/schizophrenia/what-are-hallucinations#1)

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Artikel selanjutnya
Delusi: Penyebab, Gejala Gangguan, serta Cara Mengatasi
Delusi: Penyebab, Gejala Gangguan, serta Cara Mengatasi

Selain itu, terjadinya gangguan delusi, juga dapat terjadi karena stres, penyalahgunaan obat-obatan, serta mengonsumsi alkohol secara berlebihan. Penderita skizofrenia, penyakit parkinson, demensia, stroke, dan kelainan kromosom juga dapat menyebabkan gangguan delusi.

Penderita Gangguan Delusi Suka Meyakini Hal yang Aneh
Penderita Gangguan Delusi Suka Meyakini Hal yang Aneh

Kondisi gangguan ini ditandai dengan adanya ketidaksinambungan antara pemikiran, imajinasi, dan emosi, dengan kenyataan yang sebenarnya. Orang dengan kondisi delusi seringkali memiliki pengalaman yang jauh dari realitas.

Buka di app