Cara KB Alami Tanpa Kontrasepsi

Dipublish tanggal: Mei 22, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Waktu baca: 2 menit
Cara KB Alami Tanpa Kontrasepsi

Salah satu cara yang sering digunakan untuk mengatur kehamilan adalah dengan mengkonsumsi kontrasepsi oral seperti pil KB maupun penggunaan kondom. Namun, sebenarnya ada cara mudah, alami, dan murah untuk mengatur kehamilan tanpa menggunakan alat kontrasepsi, yaitu sistem kalender.

Dengan menggunakan sistem kalender Anda tidak perlu khawatir terhadap risiko efek samping dan sebagainya. Metode kalender memanfaatkan riwayat menstruasi untuk dapat mengetahui kapan Anda ovulasi sehingga mengetahui kapan peluang terbesar terjadinya hamil.

Menurut direktur sains terapan, Jennifer A. Shuford dari Medical Institute for Sexual Health Texas, terdapat waktu sempit bagi sel telur untuk dibuahi setelah melakukan hubungan seks. 

Terdapat waktu tertentu di sepanjang bulan di mana wanita hampir tidak mungkin hamil apabila ia tidak berovulasi selama lima hingga tujuh hari setelah berhubungan seksual.

Menggunakan sistem kalender merupakan cara yang tepat dan nyaman bagi Anda dan pasangan untuk mengatur kehamilan. Namun metode ini membutuhkan ketekunan pencatatan dan perhitungan untuk mengetahui kapan waktu yang tepat merencanakan kehamilan. 

Dan sebaliknya untuk merencanakan agar tidak hamil.

Cara menggunakan metode kalender

Hal pertama yang harus diketahui untuk mengatur kehamilan dengan metode kalender adalah mengetahui bahwa siklus menstruasi memiliki tiga fase. Fase pertama adalah periode infertilitas atau pra-ovulasi infertilitas. Fase ini ditandai dengan hari pertama siklus menstruasi bulanan.

Fase kedua adalah periode subur. Seorang wanita memiliki peluang besar untuk hamil jika melakukan hubungan seksual di fase ini. Masa kesuburan meliputi masa saat ovulasi maupun tepat sesaat setelah ovulasi dan sebelum ovulasi. 

Ovulasi sendiri merupakan periode dimana sel telur dilepaskan dari indung telurnya sehingga dapat dibuahi di tuba falopi. Periode ini terjadi sebulan sekali sekitar 12 hingga 16 hari setelah hari pertama menstruasi.

Patut diingat bahwa masa hidup sel telur yang baru dilepaskan dari indung telur termasuk singkat. Sehingga jika Anda ingin hamil, waktu pembuahan harus dilakukan 1 hingga 2 hari setelah masa ovulasi. 

Namun, karena sperma sebenarnya dapat hidup hingga lima hari di dalam saluran reproduksi wanita, peluang untuk hamil tetap ada meski Anda berhubungan seksual beberapa hari sebelum berovulasi. Sperma ini akan menunggu hingga sel telur datang dan membuahinya.

Kebanyakan kasus memiliki waktu kesuburan yang bertahan hingga 5 dan 8 hari setelah berhubungan seksual. Hal ini bergantung pada karakteristik sperma, frekuensi ejakulasi saat masa subur serta hal lain. 

Berdasarkan kondisi tersebut, patut diingat bahwa terdapat tiga kondisi subur wanita:

  •  Lima hari sebelum terjadinya ovulasi
  • Selama periode ovulasi
  • Satu hingga dua hari setelah terjadinya ovulasi

Kapan waktu terbaik berhubungan seksual untuk Anda yang tidak ingin hamil

Untuk dapat tetap berhubungan seksual dan tidak berisiko hamil maka anda harus mencatat dengan benar setidaknya dari 6 hingga 12 bulan periode siklus menstruasi. Catatan ini digunakan untuk menghitung jangka waktu periode kesuburan dari siklus pendek maupun panjang. 

Misalnya, apabila Anda memiliki siklus menstruasi dari 26 hingga 32 hari yang dihitung dari sejak hari pertama menstruasi hingga menstruasi berikutnya, maka Anda akan memiliki waktu subur sejak hari kedelapan dan hari ke 19.

Sehingga, waktu yang paling tepat untuk Anda berhubungan seksual adalah dari hari pertama hingga ketujuh dan kemudian hari ke-21. Metode ini sangat sesuai untuk para wanita yang memiliki siklus menstruasi teratur yaitu siklus 25 hingga 32 hari. 

Namun, metode ini tidak cocok untuk wanita yang siklusnya kurang dari 25 hari maupun tidak teratur.


12 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Buka di app