Doctor men
Ditulis oleh
ADELIA MARISTA SAFITRI
Doctor men
Ditinjau oleh
VINA SETIAWAN
Makanan dan Diet Sehat

Suka Makan Gorengan Saat Buka Puasa? Awas, Ini 5 Bahayanya

Update terakhir: NOV 13, 2019 Tinjau pada NOV 13, 2019 Waktu baca: 3 menit
Telah dibaca 1.356.039 orang

Suka Makan Gorengan Saat Buka Puasa? Awas, Ini 5 Bahayanya

Bagi kebanyakan orang Indonesia, kurang lengkap rasanya jika berbuka puasa tanpa gorengan. Baik itu tempe goreng, tahu goreng, bakwan, risol, hingga pisang goreng, semuanya mesti ada di meja makan menjelang buka puasa.

Memang, semua makanan yang digoreng memiliki rasa yang lebih lezat, gurih, dan menggugah selera. Namun, tahukah Anda bahwa terlalu banyak makan gorengan saat buka puasa tidak baik bagi kesehatan?

Bahaya makan gorengan untuk buka puasa

Gorengan memang menjadi salah satu menu wajib untuk buka puasa. Tanpa adanya gorengan, mungkin rasanya sedikit aneh dan kurang lengkap. Walaupun sedikit banyak bisa mengganjal perut, ternyata ada banyak bahaya makan gorengan untuk buka puasa yang harus Anda waspadai.

Memang, sekali makan gorengan mungkin tidak akan berdampak apa-apa pada tubuh. Itulah kenapa, makan satu gorengan saja terkadang tidak cukup untuk membuat perut kenyang. Alhasil, Anda jadi tidak sadar sudah menghabiskan banyak gorengan saat buka puasa.

Namun lama-kelamaan, terlalu banyak makan gorengan bisa membahayakan kesehatan. Berbagai bahaya makan gorengan untuk buka puasa adalah:

1. Bikin perut terasa tidak nyaman

Seperti yang mungkin sudah Anda tahu, gorengan mengandung banyak minyak dan lemak. Kandungan lemak tersebut membuat gorengan jadi lebih sulit dicerna, apalagi bila dikonsumsi pertama kali saat buka puasa.

Ketika waktu berbuka tiba, perut Anda masih dalam kondisi kosong setelah seharian berpuasa. Ketika Anda memilih makan gorengan untuk buka puasa, sistem pencernaan Anda akan bekerja lebih keras untuk mencerna lemak dalam gorengan. Akibatnya, proses pencernaan makanan jadi lebih lama dan membuat perut terasa begah, penuh, dan tidak nyaman.

2. Memicu sembelit

Selain tinggi lemak, terlalu banyak makan gorengan saat buka puasa juga membuat tubuh kekurangan serat. Ketika lemak dari gorengan sudah sulit dicerna, tanpa asupan serat yang cukup bisa semakin memperlambat pencernaan. Akibatnya, Anda mungkin akan lebih susah buang air besar alias sembelit saat puasa Ramadhan.

3. Meningkatkan risiko diabetes

Risiko diabetes tidak hanya bisa meningkat karena makanan manis, tapi ternyata juga bisa dari gorengan. Orang yang mengonsumsi gorengan 4-6 kali seminggu berisiko 39% lebih besar terkena diabetes tipe 2.

Bila Anda makan gorengan sebanyak 7 kali dalam seminggu, maka risiko diabetes bisa terus meningkat hingga 55%. Artinya, jika Anda setidaknya makan 1 gorengan saja dalam sehari, maka tubuh Anda akan semakin mudah terkena diabetes saat bulan Ramadhan.

Menurut para ahli, makanan yang digoreng dapat meningkatkan resistensi insulin. Resistensi insulin adalah kondisi ketika sel-sel tubuh tidak dapat merespon hormon insulin dengan baik. Bila tubuh resisten terhadap insulin, maka tubuh tidak bisa menyerap gula dalam darah. Akibatnya, kadar gula darah meningkat dan menyebabkan diabetes.

4. Memicu obesitas

Makanan yang digoreng mengandung lebih banyak kalori daripada makanan rebusan atau dipanggang. Dengan kata lain, terlalu banyak makan gorengan saat buka puasa dapat meningkatkan asupan kalori dalam tubuh.

Menurut sebuah penelitian dalam International Journal of Obesity tahun 2011, lemak trans dalam makanan yang digoreng dapat mengganggu hormon pengatur nafsu makan. Semakin banyak Anda makan gorengan untuk buka puasa, maka sistem pencernaan Anda akan semakin lambat mencerna makanan.

Bukannya merasa kenyang, Anda justru akan terus lapar dan menambah jumlah gorengan sampai kenyang. Asupan lemak trans pun kian menumpuk dalam tubuh dan memicu obesitas.

Pada penelitian terpisah, para ahli menemukan bahwa wanita yang mendapatkan asupan lemak trans sebesar 1% mengalami kenaikan berat badan sekitar 0,54 kilogram. Maka sudah tidak diragukan lagi bahwa makan gorengan untuk buka puasa bisa membuat berat badan Anda terus naik, bahkan sampai obesitas.

5. Meningkatkan risiko penyakit jantung

Setiap makanan yang digoreng pada suhu tinggi umumnya mengandung lemak trans. Lemak trans adalah jenis lemak yang terbentuk ketika lemak jenuh melalui proses hidrogenasi. Proses ini akan mengubah struktur kimiawi lemak, sehingga nantinya lemak akan lebih sulit dicerna oleh tubuh.

Faktanya, sudah banyak penelitian menunjukkan bahwa makanan tinggi lemak trans dapat mengundang banyak penyakit, mulai dari obesitas, penyakit jantung, hingga kanker.

Terlebih lagi, gorengan yang dijual di pasaran dimasak dengan minyak sayur yang secara alami mengandung lemak trans. Bila minyak tersebut digunakan untuk menggoreng berkali-kali, maka jumlah lemak transnya juga akan semakin bertambah.  Kandungan lemak trans tersebut akan meresap ke gorengan dan membahayakan kesehatan Anda.

Tips sehat makan gorengan saat buka puasa

Cara terbaik agar tetap sehat saat puasa Ramadhan adalah memperhatikan pola makan, khususnya ketika sahur dan berbuka puasa. Mulai sekarang, cobalah kurangi jumlah gorengan untuk buka puasa.

Ketimbang membeli di luar, sebaiknya masak gorengan sendiri di rumah. Anda tentu bisa menggunakan jenis minyak yang lebih sehat, misalnya minyak zaitun, supaya lebih sehat tapi tetap enak. Hal ini juga bertujuan untuk mengurangi dampak buruk minyak goreng bekas bila Anda membeli gorengan di luar.

Baca Juga: Awas, Ini 3 Bahaya Minyak Goreng Bekas Bagi Kesehatan

Setelah terbiasa membatasi jumlah gorengan untuk buka puasa, lama-kelamaan Anda akan mampu membiasakan diri berbuka puasa tanpa gorengan. Anda bisa mengganti gorengan dengan menu buka puasa atau takjil lainnya yang lebih sehat. Bisa dengan kolak, air kelapa muda, buah-buahan, atau puding.

Baca Selengkapnya: 6 Manfaat Minum Air Kelapa Muda Saat Buka Puasa


Referensi

Healthline. (2017). Why Are Fried Foods Bad For You?

WebMD. (2017). How Bad for You are Fried Foods?

The American Journal of Clinical Nutrition. (2014). Fried-Food Consumption and Risk of Type 2 Diabetes and Coronary Artery Disease: A Prospective Study in 2 Cohorts of US Women and Men.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.
Submit