5 Bahaya Kesehatan yang Mengintai Pecinta Gorengan

Dipublish tanggal: Jun 20, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Waktu baca: 2 menit
5 Bahaya Kesehatan yang Mengintai Pecinta Gorengan

Umumnya semua makanan yang digoreng dan direndam dalam minyak panas terasa sangat nikmat untuk dimakan. Apalagi gorengan dengan tekstur renyah, akan terasa garing dan membuat siapapun ketagihan. Ternyata di balik kerenyahan gorengan, ada berbagai resiko yang mengintai pecinta gorengan.

Gorengan memang enak, akan tetapi, sebelum semakin tergiur untuk memakan gorengan dalam jumlah banyak, ada baiknya untuk mempertimbangkan beberapa efek buruk di baliknya.

Iklan dari HonestDocs
Beli Onkologi via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 19

Kualitas Minyak Goreng yang Tidak Selalu Bagus

Tidak semua gorengan digoreng dengan minyak baru atau minyak yang belum pernah dipakai sebelumnya. Mungkin bahkan sering kali gorengan yang Anda makan digoreng dengan minyak yang sudah dipakai berulang kali.

Minyak tersebut biasanya berwarna kecoklatan yang sangat kentara. Itulah salah satu alasan mengapa mengkonsumsi gorengan terlalu sering akan berbahaya bagi kesehatan. Pasalnya, masing-masing jenis minyak goreng mempunyai suhu maksimum tersendiri yang akan menghasilkan asap ketika dipanaskan (smoke point).

Jika sudah mencapai smoke point, kualitas minyak sudah mulai rusak dan tidak baik lagi digunakan untuk menggoreng. Minyak goreng juga mudah teroksidasi jika dipanaskan dalam suhu tinggi.

Residu minyak yang masuk ke dalam tubuh akan membentuk senyawa dan radikal bebas yang berbahaya bagi kesehatan tubuh Anda. Semakin sering minyak goreng digunakan, maka semakin rendah tingkat smoke point sehingga memudahkan munculnya senyawa yang berbahaya bagi tubuh.

Menambah Asupan Lemak Trans

Terdapat 2 jenis minyak trans, yaitu lemak trans alami yang muncul dengan jumlah sedikit dalam makanan, seperti daging dan produk susu, dan lemak trans buatan yang terbentuk dari lemak jenuh melalui proses hidrogenasi, dan muncul saat makanan digoreng pada suhu tinggi.

Proses penggorengan akan mengubah struktur kimiawi lemak yang sulit dicerna oleh tubuh dan kemudian menimbulkan berbagai efek buruk bagi kesehatan, mulai dari meningkatnya resiko penyakit jantung, diabetes, kanker, termasuk juga obesitas.

Iklan dari HonestDocs
Beli Onkologi via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 19

Mengandung Banyak Minyak

Salah satu alasan mengapa gorengan terasa gurih saat dimakan adalah karena tepung bumbu yang digunakan berlapis. Namun ternyata tepung tersebut bisa menyumbang banyak lemak ke dalam gorengan.

Tepung bumbu memiliki sifat menyerap minyak yang membuat tepung menyimpan banyak minyak selama proses penggorengan. Semakin lama suatu makanan digoreng, maka semakin banyak pula jumlah minyak yang terserap.

Meningkatkan Resiko Berbagai Penyakit Kronis

Department of Nutrition di Harvard School of Public Health, melakukan sebuah penelitian dengan hasil yang menyatakan bahwa memakan gorengan setidaknya seminggu sekali dapat meningkatkan resiko terkena diabetes melitus tipe 2, dan penyakit jantung, bahkan resiko ini akan terus meningkat tergantung banyaknya jumlah gorengan yang dikonsumsi.

Sering tidak disadari bahwa memakan gorengan membuat tekanan darah dan berat badan meningkat, serta menurunkan kadar kolesterol baik, yang merupakan faktor terjadinya penyakit jantung.

Contohnya, wanita yang memakan satu atau lebih ikan goreng per minggu beresiko mengalami gagal jantung sebesar 48% lebih tinggi dibandingkan dengan wanita yang hanya memakan 1-3 porsi setiap bulan.

Tinggi Kandungan Acrylamide

Acrylamide adalah zat kimia yang terbentuk dalam makanan yang digoreng pada suhu tinggi, dan dihasilkan dari reaksi kimia gula dengan asam amino yang bernama asparagin. Kandungan acrylamide yang tinggi biasanya ditemukan dalam makanan bertepung, seperti kentang goreng, ayam goreng, termasuk juga gorengan.

Sebuah penelitian yang dimuat dalam International Journal of Cancer, menjelaskan bahwa kandungan acrylamide yang ada dalam makanan dapat menyebabkan penyakit gagal ginjal, kanker ovarium, dan kanker endomatrium.

5 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Fried foods linked to earlier death. Harvard Health. (https://www.health.harvard.edu/staying-healthy/fried-foods-linked-to-earlier-death)
Eating fried foods could increase death risk, study warns. Medical News Today. (https://www.medicalnewstoday.com/articles/324285)
Association of fried food consumption with all cause, cardiovascular, and cancer mortality: prospective cohort study. National Center for Biotechnology Information. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6342269/)

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app