Bahaya Kaki Dingin Terus Menerus

Dipublish tanggal: Sep 4, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Waktu baca: 2 menit

Kondisi dingin pada kaki secara terus menerus tidak bisa Anda biarkan atau anggap remeh, karena bisa jadi merupakan suatu pertanda bahwa Anda mengalami penyakit serius tertentu. Namun, kondisi kaki dingin akibat rasa gugup atau cemas ketika akan melakukan suatu kegiatan penting bukanlah hal berbahaya.

Kaki dingin biasanya lebih sering dialami oleh wanita daripada laki-laki. Kaki dingin tidak dianggap berbahaya apabila merupakan faktor keturunan. Namun, pada beberapa kondisi, kaki dingin merupakan kondisi serius dan merupakan suatu pertanda adanya suatu penyakit tertentu. 

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Diabetes via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 36

Apa Saja Penyebabnya?

Ada berbagai macam penyebab terjadinya kaki dingin terus menerus. Kaki dingin terus menerus seringkali dianggap  sebagai tanda atau gejala terjadinya penyakit tertentu, diantaranya : 

Neuropati

Neuropati merupakan kondisi yang berkaitan dengan gangguan fungsi saraf. Akibatnya, kemampuan fungsi sensorik dan motorik saraf menjadi terganggu, sehingga tak heran bila kaki bisa terasa dingin, kesemutan, dan bahkan mati rasa.  

Diabetes

Kondisi diabetes menyebabkan urin serta kadar gula dalam darah tidak normal. Akibatnya, pembuluh darah arteri dan kapiler bisa mengalami penyempitan, serta akan mengganggu pasokan darah dan menyebabkan kaki menjadi dingin. Selain itu, diabetes juga menyebabkan saraf rusak dan efeknya paling sering di daerah kaki.

Penyakit arteri perifer (PAD)

PAD (Perifer Arteri Disease) merupakan kondisi akibat terjadinya penyumbatan pembuluh darah arteri. Akibatnya, aliran darah menuju kaki menjadi terhambat dan kaki terasa dingin, sakit,  hingga mati rasa. Mula-mula, akan terasa sakit pada betis pada saat sedang berjalan dan lama-lama rasa sakitnya menjalar hingga ke bagian tubuh atas. 

Hipotiroidisme

Hipotiroidisme merupakan kondisi atau penyakit akibat kekurangan jumlah hormon tiroid dalam tubuh. Apabila jumlah hormon tiroid di dalam tubuh kurang, maka metabolisme dalam tubuh akan terganggu serta mengakibatkan terganggunya denyut jantung dan peredaran darah yang mengakibatkan perubahan suhu tubuh sehingga kaki bisa menjadi lebih dingin. 

Sindrom Raynaud

Sindrom Raynaud menyebabkan berkurangnya aliran darah ke tangan dan kaki, sehingga warna jari tangan dan kaki penderita Sindrom Raynaud menjadi putih atau kebiruan saat merasa kedinginan. Pada penderita sindrom Raynaud, kulitnya bisa mati rasa. Penyebab dari terjadinya Sindrom Raynaud seringkali tidak diketahui secara jelas. 

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Diabetes via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 36

Namun, wanita biasanya lebih mudah terkena sindrom Raynaud daripada laki-laki. Kondisi autoimun juga bisa menyebabkan terjadinya sindrom Raynaud. Begitu pula dengan pekerja bangunan yang pekerjaannya memegang alat bergetar terus menerus juga rentan terkena sindrom Raynaud. 

Aterosklerosis

Menyempitnya pembuluh darah arteri akibat penumpukan lemak disebut dengan aterosklerosis. Maka, apabila Anda mengalami aterosklerosis, maka aliran darah Anda akan terganggu pula. 

Akibatnya, kaki mudah terasa dingin, betis mudah sakit bila digunakan untuk berjalan, telapak kaki sangat pucat saat berbaring, dan kaki berwarna biru hingga keunguan saat duduk. 

Apabila kaki dingin terus menerus dan tidak kunjung membaik, sebaiknya Anda segera konsultasi dan memeriksakan diri ke dokter, supaya Anda bisa mendapatkan penanganan optimal.

23 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Wollina U, et al. (2018). Acrocyanosis – A symptom with many facettes. DOI: (https://dx.doi.org/10.3889%2Foamjms.2018.035)
Vella CA, et al. Staying cool when your body is hot. (https://www.unm.edu/~lkravitz/Article%20folder/thermoregulation.html)
Tansey EA, et al. (2015). Recent advances in thermoregulation. DOI: (https://doi.org/10.1152/advan.00126.2014)

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app