Apakah Bahaya Apabila Mengalami Demam Setelah Mengonsumsi Antibiotik?

Dipublish tanggal: Agu 28, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Tinjau pada Mar 20, 2020 Waktu baca: 3 menit
Apakah Bahaya Apabila Mengalami Demam Setelah Mengonsumsi Antibiotik?

Antibiotik adalah merupakan salah satu jenis obat yang dapat melawan infeksi tertentu dan menjadi obat yang manjur apabila digunakan sesuai kondisi penyakit. Obat ini menghentikan bakteri dari mereproduksi atau menghancurkan sel bakteri yang jahat bagi tubuh. 

Sebelum bakteri dapat berkembang biak dan menyebabkan gejala, sistem kekebalan biasanya dapat membunuh mereka. Sel darah putih menyerang bakteri berbahaya dan, bahkan jika gejalanya benar-benar terjadi, sistem kekebalan biasanya dapat mengatasi dan melawan infeksi.

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Alergi via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 11

Namun, kadang-kadang, jumlah bakteri berbahaya berlebihan, dan sistem kekebalan tidak bisa melawan semuanya. Antibiotik menjadi salah satu yang bermanfaat dalam memerangi bakteri.

Ada berbagai jenis antibiotik, yang bekerja dalam satu dari dua cara:

  • Antibiotik bakterisida, seperti penisilin, membunuh bakteri tersebut. Obat-obatan ini biasanya mengganggu pembentukan dinding sel bakteri atau isi selnya.
  • Bakterostatik menghentikan bakteri berkembang biak.

Saat Anda minum antibiotik, ikuti petunjuk dengan seksama. Penting untuk menyelesaikan obat Anda bahkan jika Anda merasa lebih baik. Jika Anda menghentikan pengobatan terlalu cepat, beberapa bakteri dapat bertahan hidup dan menginfeksi kembali Anda. 

Jangan menyimpan antibiotik untuk kemudian hari atau menggunakan resep orang lain yang tidak sesuai resep dokter secara pribadi. 

Jenis antibiotik yang memicu Demam

Beberapa jenis antibiotik dapat memicu demam. Seperti pada terapi sifilis dengan obat antibiotik golongan beta laktam atau obat sulfonamida. 

Jenis obat antibiotik lainnya yang memicu demam seperti minosiklin dan cefalexin. 

Iklan dari HonestDocs
Beli Thiamycin via HonestDocs

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Thiamycin 500 mg kapsul 1

Mekanisme obat antibiotik pemicu Demam

Obat antibiotik tersebut dapat mengganggu pembuangan panas secara perifer, meningkatkan laju metabolisme, membangkitkan respons imun seluler atau humoral, meniru pirogen endogen, atau merusak jaringan. 

Demam mungkin akibat dari tindakan farmakologis obat atau efek yang tidak terkait lainnya. 

Demam yang diinduksi obat paling umum adalah hasil dari reaksi hipersensitivitas dan karakteristiknya mirip dengan reaksi alergi

Apa yang harus dilakukan bila muncul Demam akibat antibiotik?

Pasalnya, demam merupakan tanda bahwa tubuh sedang melawan infeksi dan merupakan hal yang normal. Demam paling umum terjadi setelah 7 sampai 10 hari pemberian obat, dan akan tetap ada selama obat diteruskan. Demam akan menghilang segera setelah menghentikan obat, dan akan segera muncul kembali jika obat dikonsumsi kembali.

Apabila demam terus bertahan dalam 24 jam atau lebih, pemberian obat penurun panas seperti parasetamol atau ibuprofen dapat diresepkan sesuai petunjuk dokter. Periksalah segera untuk memastikan sumber demam pada tubuh. 

Reaksi alergi akibat efek samping antibiotik 

Obat antibiotik juga tentu memiliki beberapa efek smaping yang mungkin tidak semua orang mengalaminya. Efek samping tersebut diantaranya:

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Alergi via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 11
  • Fotosensitivitas
  • Gangguan perut atau saluran cerna seperti kram, diare, mual.
  • Infeksi vagina
  • Perubahan warna gigi

Salah satu efek samping serius adalah Sindrom Steven-Johnson. Sindrom Stevens-Johnson (SJS) biasanya disebabkan oleh reaksi malergi  yang tidak terduga terhadap obat-obatan tertentu. Terkadang juga bisa disebabkan oleh infeksi.

Sindrom sering dimulai dengan gejala seperti flu, diikuti oleh ruam merah atau ungu yang menyebar dan membentuk lepuh. Kulit yang terkena akhirnya mati dan mengelupas.

Sindrom Stevens-Johnson adalah keadaan darurat medis yang memerlukan perawatan di rumah sakit, sering kali dalam perawatan intensif atau unit luka bakar.

Perawatan bertujuan untuk mengidentifikasi penyebab yang mendasarinya, mengendalikan gejala dan mencegah komplikasi. Beberapa jenis obat dapat rentan menimbulkan sindrom SJS yang juga mencakup beberapa jenis obat antibiotik di dalamnya. 

Obat-obatan yang paling sering menyebabkan sindrom Stevens-Johnson adalah:


5 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
4 Important Facts You Need to Know About Antibiotics. Health Essentials from Cleveland Clinic. (https://health.clevelandclinic.org/4-important-facts-you-need-to-know-about-antibiotics/)
Side effects of antibiotics. Medical News Today. (https://www.medicalnewstoday.com/articles/322850)

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app