Doctor men
Ditulis oleh
HONESTDOCS EDITORIAL TEAM

Tuberkulosis - Penyebab, Gejala dan, Pengobatan

Update terakhir: DEC 4, 2019 Waktu baca: 4 menit
Telah dibaca 2.109.327 orang

Tuberkulosis masih menjadi salah satu penyakit yang sering dijumpai di Indonesia. Kesulitan penanganan penyakit ini secara tuntas juga dikarenakan oleh dibtuhkannya pengobatan dalam waktu lama. 

Melalui artikel ini, akan kita pelajari bersama berbagai obat yang digunakan dalam penanganan penyakit yang satu ini.

Iklan dari HonestDocs
Mau Pesan Obat? Beli Aja via HonestDocs!

Klik di sini dan beli obat via HonestDocs, langsung dapat GRATIS ongkir* ke seluruh wilayah Indonesia!

Iklan obat

Tuberkulosis atau yang di Indonesia sering disebut sebagai TBC merupakan salah satu dari 10 penyebab kematian di dunia. 64% penderita TBC disumbang oleh India, Indonesia, Cina, Filipina, Pakistan, Nigeria dan Afrika Selatan. 

Ada pula bentuk Multi Drug Resistant Tuberculosis atau MDR-TB di mana ditemukan kekebalan terhadap obat-obatan lini pertama yang digunakan dalam penanganan TBC.

Tuberkulosis sendiri disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis dan merupakan penyakit pada paru. Penularannya adalah melalui droplet dari batuk, bersin dan liur yang tersebar melalui udara yang kemudian dihirup melalui pernafasan. 

Semua orang dari golongan usia manapun dapat terkena penyakit ini dan orang yang memiliki sistem imun yang lemah seperti penderita HIV memiliki kemungkinan 20-30 kali lebih besar untuk terkena TBC aktif yang tidak hanya menimbulkan keluhan pada penderita tetapi juga dapat menulari orang lain.

Gejala yang sering dijumpai pada TBC adalah batuk berdahak yang terkadang disertai darah, penurunan berat badan dan keringat malam hari. Terkadang didapatkan pula nyeri dada, kelemahan dan demam

Di Indonesia umumnya diagnosis TBC ditegakkan ketika ditemukan gejala dan tanda seperti tersebut di atas dan adanya bukti kuman Mycobacterium tuberculosis pada dahak serta terkadang didukung pula oleh adanya gambaran foto polos dada (Rontgen) yang menunjukkan tanda-tanda yang biasa dijumpai pada penyakit ini.

Iklan dari HonestDocs
Mau Pesan Obat? Beli Aja via HonestDocs!

Klik di sini dan beli obat via HonestDocs, langsung dapat GRATIS ongkir* ke seluruh wilayah Indonesia!

Iklan obat

Tujuan terapi dari penyakit ini antara lain adalah untuk menyembuhkan penderita dan memperbaiki kualitas hidupny, mencegah terjadinya kematian dikarenakan TBC aktif, mencegah relapse TBC, mengurangi penularan dan mencegah terjadinya dan menyebarnya resistensi (kekebalan) terhadap obat.

Lini Pertama

Obat Tuberkulosis Lini Pertama adalah sebagai berikut.

  • Ethambutol (E)
  • Isoniazid (H)
  • Pyrazinamide (Z)
  • Rifampicin (R)
  • Streptomycin (S)

Lini Kedua

Lini kedua digunakan bila TBC yang diderita pasien kebal terhadap obat-obatan lini pertama seperti pada Extensively Drug-Resistant Tuberculosis dan Multi Drug-Resistant Tuberculosis. 

Suatu obat dapat digolongkan sebagai terapi lini kedua karena tidak seefektif obat-obatan lini pertama, memiliki efek samping toksik atau efektif tetapi sulit didapatkan di banyak negara berkembang. Obat-obatan yang termasuk dalam lini kedua adalah sebagai berikut.

Iklan dari HonestDocs
Mau Pesan Obat? Beli Aja via HonestDocs!

Klik di sini dan beli obat via HonestDocs, langsung dapat GRATIS ongkir* ke seluruh wilayah Indonesia!

Iklan obat
  • Aminoglikosida (Amikacin dan Kanamycin)
  • Polypeptida (Capreomycin, Viomycin, Enviomycin)
  • Fluoroquionolone (Ciprofloxacin, Levofloxacin, dan Moxifloxacin)
  • Thioamida (Ethionamide dan Prothionamide)
  • Cycloserine
  • Terizidone

Lini Ketiga

Lini ketiga merupakan obat-obatan yang mungkin dapat digunakan tetapi belum terbukti efektivitasnya. Obat-obatan yang termasuk dalam lini ketiga adalah sebagai berikut.

  • Rifabutin (efektif, tetapi snagat mahal dan sulit didapatkan di negara berkembang)
  • Makrolida seperti Clarithromycin
  • Linezolid
  • Thioacetazone
  • Thioridazine
  • Arginine
  • Vitamin D
  • Bedaquiline

Terapi TBC selalu dalam bentuk kombinasi berbagai obat. Hal ini dimaksudkan untuk memastikan keberhasilan menghilangkan adanya kuman TBC pada pasien dan mencegah terjadinya kekebalan terhadap obat. 

DOTS (Directly Observed Therapy, Short Course) merupakan strategi WHO (World Health Organization) untuk penanganan TBC. Semua pasien TBC seharusnya diawasi setdaknya selama 2 bulan pertama pemberian obat untuk memastikan bahwa pasien benar-benar meminum obat yang diberikan. 

Terapi short course dari TBC adalah 2 bulan pemberian Isoniazid, Rifampicin, Pyrazinamide, dan  Ethambutol dilanjutkan dengan 4 bulan pemberian Isoniazid  dan Rifampicin  di mana kedua obat ini diberikan 3 kali seminggu(2HREZ/4HR3). 

Pada TBC yang laten, di mana pasien terinfeksi kuman TBC tetapi tidak menunjukkan tanda-tanda TBC aktif dan dapat menularkan kuman TBC ke manusia lain dimulai pemberian 6-9 bulan Isoniazid atau 3 bulan dosis mingguan (12 kali pemberian) kombinasi dari Isoniazid dan Rifapentine.

Efek samping pengobatan Tuberkulosis

Pemakaian obat apapun dalam jangka waktu panjang umumnya meningkatkan kemungkinan terjadinya efek samping. Hal ini juga ditemukan pada pengobatan TBC. 

Timbulnya efek samping dapat mengurangi compliance dari pasien yaitu kepatuhan pasien untuk secara rutin meminum obatnya sesuai anjuran. Karena itu penting untuk kita ketahui bersama beberapa efek samping yang umum terjadi pada pengobatan TBC.

Beberapa efek samping yang ditemukan pada pemberian obat-obat untuk penanganan TBC antara lain adalah sebagai berikut.

  • Trombositopenia atau berkurangnya jumlah keping darah (Rifampicin)
  • Neuropati (Isoniazid)
  • Vertigo (Streptomycin)
  • Hepatitis (Pyrazinamide, Rifampicin, INH)
  • Ruam (Pyrazinamide, Rifampicin, Ethambuthol)

Tuberkulosis atau TBC merupakan salah satu penyakit yang penanganannya cukup rumit dan membutuhkan pendekatan yang holistik. 

Selain dengan obat-obatan, harus pula diusahakan perbaikan gizi, kebersihan dan lingkungan hidup pasien untuk meningkatkan kualitas hidup dan juga untuk mencegah penularan ke manusia lain. 

Pengobatan tuberkulosis yang melibatkan kombinasi berbagai obat yang diberikan dalam jangka waktu lama merupakan kesulitan sendiri bagi pasien. Karenanya disusun strategi DOTS untuk memastikan pasien mendapatkan manfaat dari terapi kombinasi ini. 

Selain itu, kemungkinan munculnya efek samping juga sesuatu yang ikut diawasi dan ditangani selama pemberian terapi tuberkulosis agar dapat menjamin kepatuhan pasien berobat.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Pertanyaan dan jawaban lain tentang kondisi ini

Punya pertanyaan? Tanyakan kepada dokter di bawah ini

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.
Submit