Masalah Seks Yang Sering Terjadi Akibat Stroke

Dipublish tanggal: Mei 22, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Waktu baca: 3 menit
Masalah Seks Yang Sering Terjadi Akibat Stroke

Kehidupan seks merupakan suatu hal yang sensitif bagi banyak orang khususnya untuk penderita stroke dan pasangannya. Stroke dapat menyebabkan perubahan besar dalam kehidupan pasangan yang aktif secara seksual. 

Perubahan fisiologis dan psikologis yang berhubungan dengan stroke dapat mempengaruhi hasrat dan kinerja seksual. Ketidakamanan, ketakutan, dan keraguan yang dapat timbul dari hal tersebut dapat menjatuhkan kehidupan sebuah pasangan, bahkan pasangan yang biasanya paling terbuka dan penuh kasih akan berubah menjadi pasangan yang dalam suasana penuh emosi dan saling bertentangan. 

Iklan dari HonestDocs
Beli Alat Kontrasepsi & Hormon via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 7

Berikut pada artikel ini akan membahas lebih lanjut mengenai masalah seks yang sering terjadi akibat stroke. Selamat membaca.

Masalah Umum yang Mempengaruhi Kehidupan Seks Setelah Stroke

Selain dapat mengubah beberapa fungsi tubuh, terjadinya stroke juga mengubah kehidupan seks Anda. Masalah umum yang dapat mempengaruhi kehidupan seks setelah stroke yaitu:

Takut akan stroke terjadi stroke lagi
Sampai saat ini peneliti masih belum menunjukkan bahwa aktivitas seksual dapat memicu terjadinya stroke. Jika Anda khawatir akan hal tersebut, bicarakanlah dengan dokter Anda.

Perubahan fisik
Aktivitas seksual dapat dipengaruhi oleh perubahan fisik termasuk kelemahan otot, kekakuan, sesak, nyeri, sensasi yang berubah, mobilitas, kelelahan dan inkontinensia.

Emosi dan perubahan suasana hati atau mood
Stroke dapat mengubah perasaan Anda tentang diri sendiri dan kehidupan seksual Anda. Merupakan suatu hal yang wajar untuk merasakan serangkaian emosi yang sulit terkendali setelah  mengalami stroke seperti perasaan cepat marah dan kesedihan. 

Depresi dan kecemasan juga umum terjadi setelah stroke. Perubahan emosional tersebut dapat mempengaruhi keinginan Anda pada seks.

Iklan dari HonestDocs
Beli Alat Kontrasepsi & Hormon via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 7

Masalah hubungan dengan pasangan
Perubahan peran atau pekerjaan setelah stroke dapat mempengaruhi hubungan seksual Anda, terutama jika salah satu dari pasangan Anda mengambil tanggung jawab baru. Anda mungkin khawatir tentang bagaimana perasaan pasangan Anda tentang kehidupan seksual Anda. Sementara pasangan Anda mungkin khawatir bahwa seks dapat menyebabkan Anda khawatir atau sakit.

Disfungsi seksual
Stroke biasanya bukan merupakan penyebab terjadinya disfungsi seksual. Jika Anda mengalami masalah kesulitan untuk mendapatkan atau mempertahankan ereksi, atau mencapai orgasme, hal tersebut mungkin terjadi karena kondisi lain seperti penyakit kardiovaskular atau diabetes. Disfungsi seksual juga bisa menjadi efek samping dari obat-obatan seperti obat untuk mengatasi tekanan darah tinggi, depresi atau obat tidur.

Bagaimana Cara Meningkatkan Kehidupan Seksual Setelah Stroke?

Beberapa strategi yang dapat membantu meningkatkan kehidupan seksual Anda setelah terjadi stroke termasuk:

Pelajarilah cara beradaptasi dengan perubahan fisik Anda setelah terjadi stroke
Beristirahatlah yang cukup dan mulailah dengan kegiatan yang menurut Anda paling mudah kemudian maju ke hal-hal yang lebih menantang seiring meningkatnya kepercayaan diri Anda dalam berhubungan seks. Terapis okupasi dan fisioterapis mungkin dapat memberikan saran tentang posisi dan membantu Anda berlatih bergerak ke posisi-posisi tertentu. Jika inkontinensia merupakan masalah pada kehidupan seks Anda, sebaiknya Anda pergi ke kamar mandi sebelum berhubungan seks.

Atasi setiap perubahan emosi atau suasana hati
Bagaimana perasaan Anda saat berhubungan seks sangat berpengaruh pada perasaan dan mood Anda secara umum. Melakukan hal-hal yang membuat Anda merasa baik akan sangat membantu untuk mengembalikan kembali suasana hati. Jika Anda merasa depresi atau kecemasan mengubah perasaan Anda tentang berhubungan seksual, bicarakan dengan dokter atau ahli kesehatan.

Bicarakan dengan pasangan Anda tentang perubahan setelah stroke
Bicarakan tentang hal-hal yang telah berubah sejak terjadinya stroke, terutama dalam peran Anda dalam berhubungan seksual. Diskusikan kekhawatiran apapun, hal-hal yang Anda rasa sulit, serta hal-hal yang Anda nikmati. Bersikaplah terbuka tentang kebutuhan dan keinginan Anda dengan pasangan Anda.

Jika Anda mengalami kesulitan berbicara dengan pasangan Anda, melakukan konseling dapat membuat hal tersebut lebih mudah untuk membicarakan berbagai hal dan menghasilkan cara-cara baru dalam melakukan sesuatu. Jika Anda memiliki kesulitan komunikasi setelah stroke, melakukan isyarat non-verbal seperti sentuhan mungkin dapat membantu.

Bicaralah dengan dokter atau spesialis kesehatan Anda
Jika Anda mengalami masalah dengan ereksi, atau kesulitan mencapai orgasme, konsultasikanlah masalah tersebut ke dokter atau spesialis kesehatan Anda. Serta jangan berhenti minum obat apapun tanpa saran dari dokter.

4 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Learn If Sexual Activity Can Cause a Stroke. Verywell Health. (https://www.verywellhealth.com/sex-and-stroke-3146050)
Rosenbaum, Talli & Kalichman, Leonid. (2013). Sexual Function in Post-Stroke Patients: Considerations for Rehabilitation. Journal of Sexual Medicine. Early View. 10.1111/jsm.12343.. ResearchGate. (https://www.researchgate.net/publication/258128815_Sexual_Function_in_Post-Stroke_Patients_Considerations_for_Rehabilitation)
Community perceptions on the role of sexual activity on stroke: a qualitative study exploring the views of Ghanaian local community residents. National Center for Biotechnology Information. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6558685/)

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app