Kenali Gejala Depresi Atipikal yang Sering Muncul Pada Remaja

Dipublish tanggal: Jul 3, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Waktu baca: 3 menit
Kenali Gejala Depresi Atipikal yang Sering Muncul Pada Remaja

Masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa membuat para remaja sedang sibuk mencari jati diri. Hal ini membuat para remaja sangat rentan terhadap berbagai masalah psikologi, salah satunya depresi. Ternyata ada banyak jenis depresi, tapi depresi atipikal cenderung paling sering dialami oleh remaja. Setiap orangtua tentu harus terus memantau kondisi putra dan putrinya agar gangguan depresi atipikal pada remaja tidak menjadi masalah berkelanjutan.

Apa itu depresi atipikal?

Depresi atipikal adalah bagian dari depresi mayor (major depressive disorder atau MDD). Jika depresi pada umumnya membuat penderitanya merasa sedih dan hilang semangat hidup, hal ini tidak berlaku pada depresi atipikal.

Gejala depresi atipikal sedikit berbeda dengan jenis depresi pada umumnya. Remaja yang mengalami depresi atipikal memiliki peningkatan nafsu makan hingga berat badannya melonjak, lebih bayak tidur, lengan dan kaki terasa berat, serta kesulitan mempertahankan hubungan. 

Jenis depresi atipikal sering kali dimulai sejak remaja dan paling banyak dialami oleh wanita. Pengobatan depresi ini sama dengan depresi lainnya, yaitu dengan konseling hingga pemberian obat-obatan.

Baca Juga: Ketahui Penyebab Tingginya Depresi Pada Remaja

Tanda dan gejala depresi atipikal

Depresi atipikal pada remaja cukup spesial dan berbeda, karena gejalanya tidak sama dengan depresi pada umumnya. Remaja yang mengalami depresi jenis atipikal cenderung memiliki nafsu makan yang baik bahkan meningkat, walaupun ia tidak berencana untuk meningkatkan berat badannya. 

Lain halnya dengan depresi yang umumnya mengakibatkan insomnia, depresi atipikal justru menyebabkan penderitanya mengalami hipersomnia alias lebih sering tidur.  Bahkan, remaja yang mengalami depresi ini bisa tidur lebih dari 10 jam sehari.

Sering kram dan merasa berat pada lengan hingga kaki juga menjadi salah satu gejala depresi atipikal pada remaja yang cukup umum. Kondisi ini bisa terjadi selama 1 jam atau lebih setiap harinya, hingga cukup mengganggu aktivitas.

Tak hanya itu, pengidap depresi tipikal juga sulit untuk menerima penolakan atau kritik. Hal ini membuat mereka lebih sulit menjaga hubungan jangka panjang, baik dalam hal hubungan asmara, hubungan sosial, maupun hubungan kerja.

Depresi atipikal pada remaja bisa hilang apabila penderitanya mengalami kejadian yang menyenangkan atau positif. Akan tetapi, efek tersebut hanya bersifat sementara. Setelah peristiwa menyenangkan tersebut terlewatkan, maka gejala depresi atipikal bisa muncul kembali.

Baca Juga: Kenali Perbedaan Stres dan Depresi Sebelum Terlambat

Penyebab depresi atipikal

Beda dengan jenis depresi pada umumnya, penyebab depresi atipikal pada remaja belum diketahui secara pasti. Namun, ada beberapa faktor yang diduga kuat menjadi penyebab depresi atipikal pada remaja, antara lain:

1. Reaksi kimia otak atau neurotransmitter

Aktivitas biokimiawi di otak dapat mempengaruhi perasaan. Ketidakseimbangan biokimia ini lah yang dapat menimbulkan gejala depresi.

2. Faktor genetik

Faktor genetis atau keturunan juga menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko depresi. Beberapa riset menunjukan bahwa risiko depresi bisa meningkat jika salah satu anggota keluarga mengidap depresi.

3. Trauma masa lalu

Peristiwa seperti kematian atau kehilangan orang yang dicintai, masalah keuangan, stres tinggi yang berkepanjangan, hingga mengalami kekerasan di masa anak-anak menjadi salah satu faktor penyebab seseorang lebih rentan mengalami depresi.

Faktor risiko depresi atipikal pada remaja

Memang, ada beberapa hal yang bisa menjadi penyebab depresi atipikal pada remaja. Akan tetapi, jenis depresi ini tidak akan terjadi bila tidak diperkuat oleh faktor pemicunya.

Berbagai hal yang dapat meningkatkan risiko depresi atipikal pada remaja adalah:

1. Penyalahgunaan alkohol dan obat tertentu

Pengaruh alkohol dan obat-obatan terlarang dapat membuat remaja lebih rentan mengalami depresi. Pasalnya, obat-obatan terlarang dapat memengaruhi sikap dan zat biokimia dalam otak, sehingga lambat laun memicu depresi.

Beberapa jenis obat seperti obat hipertensi atau obat tidur juga bis amemberiakn efek serupa. Oleh karena itu, sebaiknya konsultasikan dulu ke dokter sebelum Anda mengonsumsi obat-obatan tertentu.

2. Trauma

Pernah mengalami pelecehan seksual, kekerasan fisik, hingga trauma sewaktu kecil bisa membuat seseorang lebih rentan terkena depresi atipikal saat remaja. Tak hanya depresi atipikal, hal tersebut jgua dapat memicu semua jenis depresi.

Beberapa penyakit seperti kanker dan penyakit jantung juga dapat memicu timbulnya depresi.

Bila Anda atau ada seseorang yang mengalami gejala depresi atipikal, sebaiknya segera bawa ia ke psikolog atau psikiater terdekat. Semakin cepat terdeteksi, maka gejala depresi akan lebih mudah dikendalikan dan mencegahnya semakin parah. 

Baca Juga: 10 Kebiasaan Ini Bisa Bikin Anda Depresi


35 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Atypical depression. NCH Healthcare System. (https://www.nchmd.org/education/mayo-health-library/details/CON-20369727)
Atypical Depression: Useful Concept, but it's Time to Revise the DSM-IV Criteria. Nature. (https://www.nature.com/articles/npp2009100)

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Buka di app