Cilostazol: Obat Untuk Mengobati Klaudikasi Intermiten

Update terakhir: Feb 5, 2019 Waktu baca: 3 menit
Telah dibaca 671.369 orang

Cilostazol Kegunaan, dosis dan efek samping

Kaki Anda nyeri saat berjalan? Hati-hati Anda mengalami suatu keadaan yang disebut dengan klaudikasi intermiten. Klaudikasi intermiten adalah suatu keadaan dimana pembuluh darah pada daerah tungkai mengalami penyempitan, sehingga sirkulasi udara pada tungkai menjadi terganggu dan dapat mengakibatkan jaringan sekitar pada kaki yang rusak sehingga menimbulkan nyeri.

Penyempitan pembuluh darah pada klaudikasi intermiten disebabkan oleh plak akibat pembekuan darah yang membuat diameter di dalam pembuluh darah menyempit. Jika belum menimbulkan komplikasi, kondisi ini dapat ditangani dengan cukup baik oleh obat yang disebut dengan Cilostazol. Namun tentu saja obat ini perlu diberikan dengan resep dokter. Untuk lebih jelasnya, yuk disimak artikel yang satu ini!

Pada kondisi apa biasanya Cilostazol diresepkan?

Cilostazol adalah obat turunan quinolinone yang digunakan untuk meringankan gejala klaudikasio intermiten pada seseorang dengan penyakit vaskular perifer (kelainan pembuluh darah pada tangan dan kaki).

Pasien dengan klaudikasio intermiten merasa sakit ketika mereka berjalan karena sirkulasi darah pada pembuluh darah di kaki terganggu, sehingga tidak cukup darah yang mengandung oksigen mencapai otot kaki.

Cilostazol mengurangi rasa sakit pada klaudikasio intermiten dengan melebarkan pembuluh darah arteri, dengan demikian meningkatkan aliran darah dan oksigen ke kaki. Cilostazol melakukan hal ini dengan mengurangi aksi enzim fosfodiesterase III. Cilostazol juga mengurangi penggumpalan darah. Cilostazol memungkinkan pasien dengan klaudikasio intermiten untuk berjalan lebih lama dan lebih cepat sebelum rasa sakit muncul.

Cilostazol memiliki mekanisme aksi yang berbeda dari pentoxifylline (Trental), obat lain yang juga digunakan untuk mengatasi gejala klaudikasio intermiten. Pentoxifylline bekerja dengan meningkatkan aliran darah dengan mempermudah sel darah merah untuk melewati pembuluh darah, selain itu Trental juga bekerja dengan menurunkan viskositas darah. Badan Pengolahan Obat dan Makanan di Amerika menyetujui penggunaan Cilostazol pada Januari 1999.

Berapa dosis dan bagaimana cara menggunakan obat Cilostazol?

Cilostazol  tersedia dalam kemasan tablet: 50 dan 100 mg. Penggunaan Cilostazol  harus disertai dengan resep dokter. Informasi di bawah ini bukan merupakan informasi pengganti resep dokter, melainkan informasi yang harus digunakan dengan cara yang bijak.

Cilostazol diminum dengan Dosis 100 mg dua kali sehari. Cilostazol harus diminum setidaknya setengah jam sebelum atau dua jam setelah makan malam dan sarapan untuk mencegah gangguan penyerapan akibat makanan.

Apa efek samping yang ditimbulkan dari penggunaan Cilostazol ?

Efek samping paling umum dari Cilostazol adalah:

  • sakit kepala,
  • sakit perut,
  • diare,
  • Buang air besat yang tidak normal
  • infeksi saluran pernafasan atas,
  • hidung meler dan tersumbat,
  • Mual muntah,
  • retensi cairan seperti pembengkakan pada kaki,
  • detak jantung yang tidak normal.

Efek samping penting lainnya yang juga dilaporkan dengan penggunaan Cilostazol termasuk pengurangan jumlah sel darah putih dan trombosit. Reaksi kulit yang parah juga telah dilaporkan.

Cilostazol menghambat enzim fosfodiesterase III. Obat yang bekerja dengan menghambat enzim ini dapat menyebabkan kematian pada individu dengan gagal jantung. Oleh karena itu, individu dengan gagal jantung sebaiknya tidak menggunakan Cilostazol .

Penggunaan Cilostazol  pada kehamilan belum dipelajari secara memadai.

Cilostazol belum cukup dipelajari pada wanita yang sedang menyusui. Gunakan obat ini jika manfaatnya lebih besar daripada risikonya.

Obat atau suplemen apa yang berinteraksi dengan penggunaan Cilostazol ?

Erythromycin (E.E.S, Erythrocin), omeprazole (Prilosec) dan diltiazem (Cardizem) meningkatkan konsentrasi Cilostazol dengan menghalangi aksi enzim yang menghancurkan cilostazol, sehingga dapat meningkatkan risiko timbulnya efek samping pada penggunaan obat ini. 

Meskipun tidak secara khusus dipelajari, interaksi serupa dapat terjadi dengan penggunaan ketoconazole (Nizoral), itraconazole (Sporanox), flukonazol (Diflucan), miconazole (Monistat), fluvoxamine (Luvox), fluoxetine (Prozac), nefazodone (Serzone) dan sertraline (Zoloft) . Diltiazem (Cardizem) dan omeprazole (Prilosec) juga dapat meningkatkan konsentrasi Cilostazol .

Konsentrasi Cilostazol yang lebih tinggi dapat meningkatkan kemungkinan efek samping dari obat ini. Oleh karena itu, dosis 50 mg dua kali sehari harus dipertimbangkan ketika obat yang dapat meningkatkan konsentrasi cilostazol juga sedang digunakan.

Menggabungkan penggunaan Cilostazol dengan obat lain yang mengganggu proses pembekuan darah dapat meningkatkan kemungkinan pendarahan.

Makanan berlemak tinggi meningkatkan penyerapan Cilostazol . Jus anggur dapat meningkatkan konsentrasi Cilostazol . Oleh karena itu, jus Cilostazol tidak boleh dikonsumsi oleh pasien dengan pengobatan Cilostazol.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Punya pertanyaan? Tanyakan kepada dokter di bawah ini

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.
Submit