Cara Benar Merawat Telinga Sesuai Standar Kesehatan

Dipublish tanggal: Feb 22, 2019 Update terakhir: Nov 10, 2020 Tinjau pada Jun 13, 2019 Waktu baca: 7 menit
Cara Benar Merawat Telinga Sesuai Standar Kesehatan

Telinga merupakan salah satu bagian tubuh yang jarang mendapat perhatian khusus dibanding bagian tubuh lainnya. Seseorang mungkin baru merawat telinganya kalau ia mengalami gangguan pendengaran atau penyakit telinga tertentu. Terlepas dari apakah Anda termasuk orang yang rajin membersihkan telinga atau tidak, berikut ini kami bagikan beberapa panduan mengenai cara merawat telinga.

Ya, berdasarkan pengamatan sehari-hari sebagai praktisi kesehatan, kami masih sering menjumpai bahwa sebagian masyarakat kita belum mengetahui cara merawat telinga dengan benar. Benar menurut standar kesehatan tentunya, karena masalah perawatan ini pasti terkait dengan kesehatan, meskipun keindahan dan lain-lain adalah bonusnya.

apakah anda sering menggunakannya untuk membersihkan telinga?

Bagaimana cara membersihkan telinga?

Coba cermati beberapa poin penting di bawah ini, lalu koreksi diri Anda sendiri apakah selama ini sudah benar dalam membersihkan telinga.

  1. Saat membersihkan telinga, kita harus melakukannya dengan hati-hati. Bersihkan bagian luar telinga dengan tisu atau kain bersih. Sebaiknya lakukan setelah mandi.
  2. Jangan pernah memasukkan benda apapun ke dalam telinga termasuk cutton buds. Hindari juga memakai jepit rambut atau obyek berujung runting untuk membersihkan telinga. Benda semacam ini bisa mencederai gendang atau dinding kanal telinga yang bisa menimbulkan peradangan.
  3. Hindari pula menggunakan lilin pembersih telinga (ear candle) karena riset menunjukkan cara ini tidak memiliki manfaat menguntungkan untuk membersihkan telinga. Bahkan ear candle bisa menyebabkan cedera serius.
  4. Jika Anda mengalami sakit atau gatal pada telinga, bicarakan dengan dokter agar penanganan khusus dapat dilakukan.
  5. Bila Anda melakukan tindik, bersihkan anting maupun lubang telinganya secara rutin dengan alkohol.

* Terkait poin 2 di atas, kami seringsekali menemui kasus radang telinga luar (otitis eksterna) akibat aktifitas membersihkan kotoran telinga dengan benda-benda tersebut. Tak jarang pula ditemui kapas cutton buds yang tersangkut di dalam telinga. Alih-alih ingin 'terlihat bersih', malah penyakit yang didapat.

Ada yang aneh?

Ya, pasti Anda bertanya bagaimana dengan kotoran telinga, masak tidak dibersihkan?

Kotoran telinga (Earwax) atau serumen sebenarnya merupakan mekanisme alami tubuh untuk membersihkan telinga dengan sendirinya. Substansi lilin berwarna kuning ini dihasilkan di bagian luar liang telinga, didalamnya terkandung sel-sel kulit mati, lemak, dan debu-debu yang terparangkap.

Jadi dengan adanya zat lilin ini, maka benar-benar akan melindungi telinga bagian dalamnya dari benda-benda kotor dari luar, termasuk serangga seperti semut jadi ogah untuk memasukinya. Lebih lanjut, kotoran telinga melindungi telinga dari bakteri, jamur, serta air. Mulai sekarang ubahlah persepsi kita, bahwa serumen bukanlah hal yang menjijikkan.

Karena telinga memiliki kemampuan bersih-bersih sendiri, maka sebenarnya bagian kanal tidak perlu lagi dibersihkan. Kita biarkan saja, earwax yang lama akan keluar dengan sendirinya dari telinga saat rahang dagu bergerak.

Apabila Anda memaksakan diri untuk membersihkannya dengan memasukkan cutton bud atau benda apapun, maka bukan tidak mungkin serumen malah terdorong ke dalam dan bisa mengganggu fungsi gendang telinga. Perhatikan gambar di bawah ini!

Cutton buds aman jika digunakan di garis hijau sampai kuning, tidak lebih dari itu.

( ! ) Pada area hijau tersebut sebenarnya bisa kita bersihkan menggunakan tissue atau kain lembut dengan bantuan jari kelingking kita. Daripada menggunakan cutton buds yang mungkin kita tidak tahu secara pasti batas aman memasukkannya.

Bagaimana Jika earwax atau kotoran telinga terlalu banyak?

Namun jika timbunan earwax sampai mengganggu pendengaran, maka segera temui dokter untuk menghilangkannya. Gejala kondisi ini biasanya seperti telinga terasa dimasuki sesuatu atau penuh (telinga tersumbat), sakit, perubahan sensitivitas atau gangguan pendengaran, muncul bunyi berdering dalam telinga, gatal, bau, atau keluar cairan.

Jadi bila Anda tahu telinga menghasilkan terlalu banyak serumen atau ada timbunan earwax dalam telinga, maka lakukan upaya pencegahan seperti:

  • Seminggu sekali teteskan mineral oil, baby oil, atau obat tetes telinga ke kanal. Ini bisa melunakkan earwax sehingga lebih mudah keluar.
  • Terapi irigasi telinga juga bisa dilakukan bila timbunan earwax terlalu banyak. Anda dapat membeli alatnya di toko obat, dan ikuti petunjuk pemakaian yang ada. Untuk lebih mudahnya, lakukan irigasi telinga saat mandi. Miringkan kepala ke arah air hangat, biarkan telinga terisi sampai penuh. Setelah itu, balikkan kepala sehingga airnya tumpah ke luar. Metode ini tidak boleh dilakukan jika gendang telinga telah berlubang (gendang telinga bocor).

Bagaimana jika telinga kemasukan air?

Anda pasti pernah mengalami air yang terperangkap dalam telinga setelah berenang bukan?! Hal yang harus dilakukan untuk mngeluarkan airnya adalah dengan memiringkan kepala ke samping, lalu menggoyang-goyangkannya dengan keras atau sentak bagian bawah daun telinga sambil membuka-tutup rahang.

Meski cara ini biasanya manjur, namun kadang airnya belum bisa sepenuhnya keluar. Jika ini terjadi, maka kandungan bakteri atau jamur dalam air yang masuk dalam telinga dapat menyebabkan infeksi telinga, nama kerennya "Swimmer’s Ear". Gejalanya adalah telinga dalam terasa gatal, sakit yang menjadi-jadi saat Anda menarik daun telinga, dan sensasi penuh dalam telinga.

Cara terbaik untuk mencegah terperangkapnya air dalam telinga adalah dengan membuat obat tetes sendiri yang terdiri dari campuran alkohol serta cuka (perbandingan 1:1). Pihak American Academy of Otolaryngology – Head and Neck Surgery mendukung pemakaian obat tetes telinga ini untuk membuat kelebihan air dalam telinga cepat menguap.

Lakukan ini ketika memakai obat tetes buatan sendiri:

  • Miringkan kepala lalu teteskan 5-6 tetes ke dalam telinga.
  • Tarik ke bawah daun telinga, lalu buka-tutup rahang untuk membantu obat tetes bergerak lebih jauh dalam kanal telinga.
  • Tahan posisi kepala selama 30 detik, lalu balikkan kepala dan biarkan obatnya keluar.

Jika telinga masih terasa penuh, ulangi. Sekali lagi, hindari penggunaan obat tetes ini kalau gendang telinga sudah tidak utuh lagi alias bocor.

Baca juga: 14 Cara Mengatasi Telinga Kemasukan Air

Bagaimana menyikapi suara bising?

  1. Entah di rumah atau tempat pekerjaan, Anda perlu mengenakan pelindung telinga agar ekspos suara bising tidak sampai merusak pendengaran.
  2. Ear bud atau alat yang biasanya dipakai untuk mendengarkan IPOD atau MP3 player, bukanlah alat untuk melindungi telinga yang memadai. Selain itu, perlu Anda ketahui juga kalau mendengarkan musik selagi beraktivitas dalam lingkungan bising sangat berbahaya bagi pendengaran.
  3. Saat menggunakan stereo atau pengeras suara, jangan biarkan volume suaranya terlalu keras. Jika Anda berpikir suara tertentu terlalu keras, kemungkinan besar dugaan Anda tersebut benar adanya.
  4. Saat mendengarkan musik sendiri misalnya, volumenya sebaiknya juga tidak terlalu keras. Kalau orang lain dapat mendengar apa yang sedang Anda dengarkan secara pribadi melalui headset, maka kemungkinan besar suaranya terlalu keras.
  5. Kenakan earplug saat menghadiri konser musik rock atau event balap motor untuk meredam kebisingan.
  6. Jaga agar suara musik di mobil tetap sewajarnya agar pendengaran tidak rusak, dan Anda juga bisa tetap mendengarkan suara di luar.

Bagaimana mewaspadai resiko penyakit pada telinga?

Telinga hidung dan tenggorokan memiliki rongga yang saling terkait, jadi kesehatan ketiga bagia tubuh ini selalu berkaitan.

  1. Anda dapat mengurangi risiko infeksi telinga dengan merawat saluran pernafasan bagian atas yang meliputi telinga itu sendiri, hidung, serta tenggorokan. Jika terjadi infeksi di area ini seperti hidung atau tenggorokan misalnya, maka segera atasi agar lekas sembuh.
  2. Beberapa penyakit memang dapat memengaruhi kemampuan mendengar. Jika tiba-tiba Anda tidak bisa mendengar apapun atau terus-menerus mendengarkan bunyi berisik dalam telinga atau kepala, maka segera periksa ke dokter.
  3. Keluarnya cairan dari telinga bukanlah hal normal, dan biasanya terjadi karena infeksi.
  4. Beberapa obat memang bisa menimbulkan efek samping pada pendengaran. Oleh karenanya, konsumsi itu sesuai anjuran dokter. Dan bila Anda merasa ada yang ganjil dengan kemampuan mendengar, keseimbangan tubuh, atau telinga berdengung, segera temui dokter.

Tips Melindungi Telinga Lainnya

  1. Sebaiknya, Anda rutin memeriksakan telinga ke dokter minimal 6 bulan sekali agar bila terjadi sesuatu, penanganan dini dapat segera dilakukan.
  2. Selalu kenakan helm ketika naik sepeda, ski, sepatu roda, atau aktivitas lain yang berisiko mencederai kepala dan telinga.
  3. Jika Anda suka menyelam, maka pelajari dan latih teknik menyelam dengan benar agar perubahan tekanan dalam air tidak merusak pendengaran.
  4. Saat terbang dengan pesawat, sering-seringlah menguap atau menelan air ludah, terutama saat pesawat menukik naik atau turun agar tekanan udara dalam telinga tetap seimbang. Jika Anda memiliki gangguan pernafasan seperti demam atau infeksi sinus, maka konsumsi dekongestan beberapa jam sebelum landing, atau gunakan dekongestan semprot sesaat sebelum pesawat mendarat.
  5. Earplug dengan penyaring khusus dapat juga dibeli untuk membantu menyeimbangkan tekanan udara dalam telinga saat naik pesawat.
  6. Ketika sedang di luar rumah, jangan lupa oleskan juga sunscreen ke bagian telinga.
  7. Jika Anda mendapati muncul benjolan atau kulit bersisik di bagian luar telinga, maka langsung periksa ke dokter.

Terkadang seseorang tidak sadar bahwa dirinya mengalami gangguan pendengaran. Oleh sebab itu, ketahui gejala menurunnya pendengaran berikut ini:

  1. Sulit mendengarkan perkataan orang lain, terutama jika itu dilakukan di lingkungan berisik seperti pasar
  2. Sering minta lawan bicara mengulangi perkataannya
  3. Salah paham dengan apa yang dikatakan orang lain, dan sering memberi jawab yang tidak semestinya
  4. Kesulitan mendengar saat berkomunikasi via telpon.
  5. Volume TV atau radio harus dikeraskan baru bisa mendengar dengan baik.
  6. Merasa kalau orang lain hanya bergumam saja saat sebenarnya mereka sedang bicara dengan normal.
  7. Sulit mendengar suara dari lingkungan sekitar, seperti kicau burung.
  8. Mudah setuju, suka menganggukkan kepala, atau tersenyum saat pembicaraan berlangsung, padahal tak yakin soal apa yang sedang diperkatakan.
  9. Lebih suka menarik diri dan tidak terlibat percakapan dengan orang lain karena rasanya susah mendengar apa yang orang lain katakan.
  10. Harus membaca bibir untuk mengetahui apa yang lawan bicara katakan.
  11. Muncul suara berisik di telinga atau kepala (tinitus) yang sebenarnya tidak ada bunyi dari luar.

Jika Anda atau orang lain mengalami gejala di atas, maka segera periksakan telinganya ke dokter THT.


11 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Mayo Clinic Staff. (2016, May 5). Swimmer’s ear: Self-management (http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/swimmers-ear/manage/ptc-20201568)
Mayo Clinic Staff. (2015, March 24). Earwax blockage: Definition (http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/earwax-blockage/basics/definition/con-20018904)
Mayo Clinic Staff. (2016, April 19). Ear infection (middle ear): Symptoms and causes (http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/ear-infections/symptoms-causes/dxc-20199484)

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Buka di app