Penyebab Tidak Bisa Berbicara atau Menelan Setelah Stroke

Dipublish tanggal: Mei 30, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Waktu baca: 3 menit
Penyebab Tidak Bisa Berbicara atau Menelan Setelah Stroke

Kita mampu memahami pembicaraan atau berbicara dengan baik karena ada beberapa bagian pada otak yang bekerja secara bersamaan. Namun, stroke merusak bagian ini sehingga menyebabkan gangguan berbicara dan menyebabkan komunikasi menjadi sulit.

Gangguan berbicara pada penderita stroke dikenal dengan istilah dysarthria dan afasia. Disarthria adalah kondisi dimana seseorang kesulitan berbicara karena mulut, wajah, lidah, serta rahang lemah. Sedangkan Afasia adalah masalah kebahasaan yang muncul akibat stroke. 

Iklan dari HonestDocs
Beli Simvastatin via HonestDocs!

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Afasia ini dibedakan menjadi dua jenis yaitu Broca dan Wernicke.

Jenis stroke penyebab disartria

Setiap jenis stroke yang menyebabkan mulut, lidah, wajah, dan rahang lemah dan tidak terkoordinasi bisa menyebabkan disartria. Stroke batang otak, stroke kortikal besar, stroke cerebellar, dan strike small white matter semuanya bisa menyebabkan disartria terlebih bila mampu melemahkan otot yang meengontrol mulut. 

Penderita disartria ini hanya mengalami masalah berbicara saja, namun mereka masih bisa memahami pembicaraan, menulis, maupuan membaca. Kondisi ini bisa membaik dengan melakukan terapi wicara dan hasilnya akan jauh lebih baik bila dibarengi dengan olahraga. 

Selain kesulitan berbicara, penderita disartria juga mungkin mengalami disfagia atau kesulitan menelan. Hal ini karena menelan dan berbicara banyak dikendalikan oleh otot-otot yang sama.

Stroke penyebab afasia

Bagian otak yang mengontrol kemampuan berbicara ada pada sisi yang dominan. Sisi dominan pada otat terletak berlawanan dengan sisi dominan tangan. Jadi misalnya tangan yang dominan adalah tangan kiri atau kidal, berarti otak yang dominan adalah bagian kanan dan sebaliknya.

Pada sebagian besar kasus, stroke bisa mempengaruhi bagian Broca atau Wernicke yang merupakan dua pusat utama untuk berbicara pada bagian otak yang dominan. 

Iklan dari HonestDocs
Beli Simvastatin via HonestDocs!

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Broca adalah bagian yang berada ditengah atas otak sedangkan Wernicke adalah bahain otak yang berada sedikit rendah ke bawah atau dekat dengan telinga. 

Dua bagian otak ini adalah bagian dari korteks cerebral, yaitu bagian otak yang berfungsi untuk kemampuan berpikir tingkat tinggi dan sering kal mengalami cedera akibat stroke.

Broca berfungsi untuk memudahkan berbicara dengan mudah dan lancar. Sehingga bila terkena stroke akan membuat Anda kesulitan berbicara, nada bicara tidak normal, dan seolah-olah gagap. Sedangka bagian Wernicke adalah bagian pada otak untuk memahami bahasa. 

Bila bagian ini terkena stroke akan menyebabkan kesulitan berkata-kata dengan jelas dan membuat Anda terdengar seperti berbicara bahasa asing. Selain itu, stroke pada bagian ini juga memubat Anda kesulitan memahami tulisan dan apa yang dibicarakan orang lain.

Apakah kondisi ini bisa pulih setelah stroke?

Setelah terkena stroke, kemampuan berbicara bisa membaik dengan bantuan rehabilitasi dan terapi bicara terlebih untuk pasien dengan afasia broca. Sebagian besar orang dengan dominan tangan kanan yang terkena afasia setelah terserang stroke juga mengalami kelemahan pada kaki atau lengan bagian kanan. 

Sedangkan untuk orang yang kidal dengan afasia akan mengalami kelemahan pada lengan atau kaki kiri.

Iklan dari HonestDocs
Beli Simvastatin via HonestDocs!

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Bagaimana bila tidak bisa berbicara normal lagi

Kondisi ini memang membuat hidup menjadi lebih susah. Tidak sedikit penderita stroke bilingual dengan afasia mampu berkomunikasi dengan lebih baik menggunakan bahasa yang dipelajari saat kecil. Selain itu, beberapa penderita stroke yang juga terkena afasia bisa belajar berkomunikasi dengan bahasa isyarat.

Dua kondisi ini, baik disartria dan afasia, bisa menyebabkan isolasi dan depresi. Sehingga menggunakan sumber daya yang ada seperti terapi bicara harus dicoba serta gunakan juga bahasa isyarat, ekspresi, bahasa tubuh, dan menggambar untuk membantu mengekspresikan diri dan menghindari isolasi.

Bagaimana merawat pasien dengan kondisi ini

Hidup dengan penderita stroke yang mempunyai disartria dan afasia memiliki tantangan tersendiri. Keterbatasan berbicara menyebabkan penderita tidak bisa mengungkapkan perasaannya dan cenderung menutup diri. 

Biasanya penderita afasia dan disartria bisa berkomunikasi dengan baik pada orang yang sudah menghabiskan sebagian besar waktu bersama mereka dibanding dengan orang baru. Anda bisa menggunakan gerak tubuh, ekspresi wajah, tulisan dan gambar untuk membantu komunikasi agar lebih lancar.

2 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Management of Dysphagia in Stroke Patients. National Center for Biotechnology Information. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3127036/)

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app