Mencubit Pipi Bayi Bisa Jadi Penyebab Dermatitis Atopik, Benarkah?

Dipublish tanggal: Mei 17, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Tinjau pada Jun 17, 2019 Waktu baca: 3 menit
Mencubit Pipi Bayi Bisa Jadi Penyebab Dermatitis Atopik, Benarkah?

Belakangan ini, kata 'dermatitis atopik' sedang ramai diperbincangkan di media sosial. Perbincangan ini bermula dari seorang ayah yang menggunggah foto bayi kesayangannya. Bayi tersebut sekilas tampak menggemaskan layaknya bayi pada umumnya. Namun setelah diperhatikan lebih jauh, terlihat ada ruam kemerahan yang muncul di bagian pipi bayi. Kondisi ini disebut dengan dermatitis atopik.

Lanjut sang ayah, ia menuturkan bahwa masalah kulit tersebut mulai muncul setelah pipi bayi kesayangannya dicubit-cubit oleh banyak orang saat kondangan. Meski menunjukkan ekspresi gemas, hal sepele ini ternyata diduga menjadi penyebab dermatitis atopik pada bayi. Benarkah demikian? Mari simak faktanya berikut ini.

Apa itu dermatitis atopik?

Dermatitis atopik sering disebut juga dengan eksim. Dermatitis atopik adalah peradangan kronis pada kulit yang ditandai dengan ruam merah, kulit gatal, iritasi, dan mengelupas. Gejala dermatitis atopik tersebut biasanya muncul di wajah, bagian dalam siku, atau bagian belakang lutut.

Tiap kali rasa gatal itu datang, kebanyakan orang akan reflek menggaruknya supaya gatalnya hilang. Alih-alih meredakan gatal, menggaruk kulit justru bisa memperparah rasa gatal. Kebiasaan ini juga dapat membuat kulit menebal, mengeluarkan cairan kuning, hingga melepuh.

Dermatitis atopik bukanlah penyakit kulit menular, tapi akan terasa sangat gatal dan mengganggu aktivitas. Walaupun lebih sering terjadi pada anak-anak, dermatitis atopik juga bisa dialami oleh orang dewasa dan segala usia.

Apa saja penyebab dermatitis atopik?

Sampai saat ini, penyebab dermatitis atopik belum diketahui secara pasti. Namun, ada 2 hal yang bisa memicu gejala dermatitis atopik, yaitu:

1. Genetik

Dermatitis atopik bisa diturunkan dalam garis keluarga. Bila Anda memiliki riwayat dermatitis atopik, maka bisa jadi anak Anda kelak akan mengalami hal yang sama.

Penyakit kulit yang satu ini juga bisa terjadi pada orang dengan bakat alergi, misalnya asma atau alergi rhinitis.

2. Lingkungan

Gejala dermatitis atopik bisa muncul atau kambuh ketika bayi terpapar oleh alergen seperti:

  • Serbuk sari
  • Bulu hewan peliharaan
  • Kandungan tisu basah atau krim bayi
  • Bahan atau zat kimia pada kain
  • Zat pewangi atau bahan kimia dalam sabun
  • Alergi makanan tertentu

Normalnya, kulit secara alami selalu dalam kondisi lembab dan mudah melindungi diri dari bakteri, alergi, atau penyebab iritasi. Namun pada kasus dermatitis atopik, kondisi kulit penderita cenderung kering sehingga kulitnya lebih mudah terpengaruh oleh lingungan.

Kondisi tangan yang kotor juga bisa saja menyebabkan infeksi pada kulit. Bakteri dari tangan dapat berpindah ke kulit dan merangsang peradangan pada kulit, sehingga pada akhirnya menimbulkan ruam merah dan gatal.

Baca Selengkapnya: Penyebab dan Cara Mengatasi Bintik Merah Pada Kulit Bayi

Benarkah cubit pipi bisa jadi penyebab dermatitis atopik?

Sentuhan tangan kotor sedikit banyak bisa memicu iritasi pada kulit. Begitu juga ketika Anda memegang atau mencubit pipi bayi.

Pasalnya, tangan merupakan tempat favorit bagi bakteri untuk tumbuh dan berkembang biak. Ketika tangan kotor menyentuh pipi bayi, maka bakteri di tangan bisa saja berpindah ke pipi bayi dan menimbulkan infeksi.

Namun, sekadar memegang atau mencubit pipi bayi tidak lantas membuat pipi anak melepuh apalagi sampai terjadi dermatitis atopik. Sebab bila dilihat dari penyebabnya, dermatitis atopik terjadi karena faktor bawaan atau paparan alergen dari lingkungan.

Maksud dari paparan alergen ini misalnya kandungan tisu basah, krim bayi, bahan kain, atau zat kimia pada sabun bayi. Terlebih jika benda-benda tersebut mengandung pengawet methylisothiazolinone (MI), maka kandungan itulah yang dapat memicu reaksi alergi pada pipi bayi. Jadi, ini bukan karena memegang atau mencubit pipi bayi.

Memegang pipi bayi itu boleh, asal....

Setiap orangtua tentu tidak ingin anaknya terkena dermatitis atopik. Akan tetapi, bukan berarti Anda lantas melarang semua orang menyentuh si kecil atau berhenti menggunakan tisu basah dan sabun bayi.

Sebelum menyentuh bayi, sebaiknya cuci tangan atau pakai hand sanitizer dulu supaya tangannya bersih. Bila si kecil sudah diketahui punya alergi, maka Anda harus lebih berhati-hati dan menghindari paparan alergen.

Caranya, pilihlah sabun dan tisu basah bayi bebas pewangi untuk menjaga kesehatan kulit bayi. Segera konsultasikan ke dokter bila si kecil mulai menunjukkan gejala dermatitis atopik.

Baca Juga: Obat Ruam Kulit Alami yang Mudah Dibuat di Rumah


25 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Zhang A, et al. Association of atopic dermatitis with being overweight and obese: A systematic review and metaanalysis. Journal of the American Academy of Dermatology. 2015;72:606.
Wolter S, et al. Atopic dermatitis. Pediatric Clinics of North America. 2014;61:241.
Weston WL, et al. Patient information: Atopic dermatitis (eczema) (Beyond the Basics). https://www.uptodate.com/home.

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Buka di app