13 Penyakit Akibat Stres, dari yang Ringan Hingga Berat

Dipublish tanggal: Feb 22, 2019 Update terakhir: Mar 8, 2022 Tinjau pada Jun 13, 2019 Waktu baca: 4 menit
13 Penyakit Akibat Stres, dari yang Ringan Hingga Berat

Ringkasan

Buka

Tutup

  • Stres dapat menegangkan otot-otot dan saraf di kepala hingga menagkibatkan sakit kepala tegang, migrain, hingga kesemutan di satu atau kedua sisi kepala;
  • Stres membuat otak dipenuhi dengan beban pikiran dan emosi, kemudian memicu timbulnya gangguan tidur seperti insomnia;
  • Peningkatan hormon kortisol ketika stres mampu meningkatkan nafsu makan dan memicu keinginan mengonsumsi makanan manis juga berlemak, berisiko menyebabkan obesitas;
  • Penyakit akibat stres lainnya meliputi gangguan pencernaan, diabetes, penyakit jantung, penyakit Alzheimer, hingga depresi;
  • Klik untuk membeli vitamin dan suplemen dari rumah Anda melalui HDmall. *Gratis ongkos kirim ke seluruh Indonesia dan bisa COD.

Ada banyak hal yang bisa terjadi saat sedang stres, mulai dari sakit kepala, mood berantakan, sampai kurang tidur. Penting diketahui juga bahwa jika tidak segera ditangani, efek stres tenyata bisa lebih dari itu, lho! Ya, ada beberapa penyakit akibat stres yang bisa terjadi, dari yang tergolong ringan sampai berat dan butuh penanganan serius.

Berbagai penyakit akibat stres yang harus diwaspadai

1. Sakit kepala

Sakit kepala menjadi penyakit akibat stres yang hampir pasti dialami penderitanya. Hal ini terjadi akibat menegangnya otot-otot dan saraf di kepala hingga menagkibatkan sakit kepala tegang, migrain, hingga kesemutan di satu atau kedua sisi kepala. Durasinya dapat berlangsung singkat bahkan bertahan lama, tergantung tingkat stres yang dialami.

Iklan dari HonestDocs
Beli Alat Kontrasepsi & Hormon via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 7

2. Flu

Keterkaitan antara stres dan menurunnya imunitas tubuh telah banyak dibuktikan para ahli. Kadar hormon kortisol yang melonjak tajam ketika stres mampu melemahkan respon imun terhadap berbagai ancaman, termasuk virus flu.

Akibatnya, seseorang yang stres lebih mudah terinfeksi flu. Bahkan, risikonya bisa bertambah parah jika stres yang dialami tak kunjung diatasi.

Baca juga: Tanda dan Gejala Stres yang Tak Bisa Diremehkan

3. Sindrom kelelahan kronis

Sindrom kelelahan kronis (chronic fatigue syndrom / CFS) merupakan suatu kondisi yang ditandai dengan kelemahan dan rasa kantuk terus-menerus yang tak kunjung pergi. Gejala tersebut bahkan terus berlanjur meskipun sudah banyak istirahat. 

Para peneliti masih belum menemukan penyebab sindrom kelelahan kronis. Namun, kondisi ini diduga ada kaitannya dengan stres. 

4. Gangguan tidur

Stres membuat otak dipenuhi dengan beban pikiran dan emosi. Hal ini dapat memicu timbulnya gangguan tidur seperti insomnia. Jika dibiarkan berlarut-larut, penyakit akibat stres yang satu ini dapat berimplikasi pada tekanan darah hingga dapat memperpendek usia.

Iklan dari HonestDocs
Beli Simvastatin via HonestDocs!

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Baca juga: Hidup Lebih Lama dengan 8 Tips Sehat Memperpanjang Usia

5. Masalah kesuburan

Hingga saat ini, stres menjadi alasan kuat yang memengaruhi tingkat kesuburan baik pria maupun wanita. Stres dapat menyebabkan ejakulasi dini pada pria dan terganggunya siklus menstruasi pada wanita. Tak hanya itu, stres juga dapat meningkatkan risiko terjadinya kemandulan hingga memicu keretakan rumah tangga.

6. Sakit punggung

Postur tubuh yang salah ketika beraktivitas umumnya menjadi penyebab utama terjadinya sakit punggung. Namun, bila sakit punggung yang dialami terus menetap tak kunjung sembuh, bisa jadi tekanan emosional atau stres-lah penyebabnya.

Stres dapat memicu ketegangan fisik yang sering terjadi di jaringan lunak leher, bahu, punggung, hingga bokong. Bila pengobatan sakit punggung kerap tidak membuahkan hasil, cobalah untuk memperhatikan kondisi mental dan emosional diri.

7. Obesitas

Malas berolahraga bukanlah satu-satunya alasan yang menyebabkan seseorang terjebak dalam obesitas. Ada alasan lain dibalik kondisi ini, yakni stres.

Peningkatan hormon kortisol ketika stres mampu meningkatkan nafsu makan dan memicu keinginan mengonsumsi makanan manis juga berlemak. Tubuh pun akan menyimpan lebih banyak lemak, terutama di daerah perut.

Iklan dari HonestDocs
Beli MASKER N95 3M 8210 via HonestDocs

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

8. Gangguan pencernaan

Perhatikanlah bagaimana fluktuasi emosional acap kali merangsang timbulnya reaksi di perut. Jangan heran, karena lambung dan usus memiliki saraf yang terhubung langsung ke otak.

Itulah mengapa ketika stres, tak jarang disertai dengan kedatangan masalah kesehatan pada sistem pencernaan. Stres dapat menyebabkan maag, GERD, hingga sindrom iritasi usus atau irritable bowel syndrome (IBS).

9. Diabetes

Stres dapat menyebabkan diabetes melalui dua cara. Pertama, mengubah pola makan menjadi buruk. Kedua, membuat pankreas menjadi kesulitan dalam mensekresikan hormon insulin sebagai pengendali gula darah.

10. Penyakit jantung

Banyak jalan bagi stres untuk memancing kedatangan si pembunuh nomor wahid di dunia ini, yaitu penyakit jantung. Stres secara langsung dapat meningkatkan denyut jantung dan pelepasan kolesterol serta trigliserida ke dalam aliran darah.

Stres juga mampu memengaruhi tekanan darah yang menyebabkan terjadinya hipertensi. Akibatnya, hal ini dapat menyebabkan serangan jantung atau stroke.

11. Penyakit Alzheimer

Faktor risiko besar terjadinya penyakit Alzheimer dan demensia tak hanya datang dari usia, faktor stres pun dapat menjadi dalang di balik kondisi ini. Betapa tidak, stres terkait erat dengan terganggunya fungsi otak.

Ketika stres dibiarkan begitu saja atau berkepanjangan, kadar kortisol dalam darah yang terus meninggi lambat laun akan menyebabkan kerusakan pada hipokampus, bagian dari otak besar yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan memori dan banyak fungsi lainnya.

12. Penyakit kulit

Stres menyebabkan reaksi kimiawi di tubuh yang membuat kulit lebih sensitif dan reaktif. Hal ini juga dapat membuat penyakit kulit yang sudah ada sebelumnya menjadi lebih sulit untuk sembuh.

Pernahkah Anda memperhatikan bahwa wajah mengeluarkan lebih banyak minyak saat stres? Hal ini karena stres menyebabkan tubuh membuat hormon seperti kortisol, yang memberitahu kelenjar di kulit untuk membuat lebih banyak minyak. Kulit berminyak lebih rentan terhadap jerawat dan masalah kulit lainnya.

Lebih lanjut, stres dapat memperparah penyakit psoriasis, rosacea, dan eksim pada kulit, terutama eksim kering atau neurodermatitis.

13. Depresi

Seakan tak cukup untuk terus memperburuk kondisi kesehatan, stres kronis mampu menempatkan penderitanya berada dalam depresi.

Pada tahap ini, seseorang cenderung terlibat dalam perilaku agresif atau berisiko. Misalnya pelampiasan pada obat-obatan terlarang, menyakiti diri sendiri atau orang lain, hingga tak jarang dapat melakukan percobaan pembunuhan.

Melihat berbagai penyakit akibat stres di atas, tak mengherankan apabila stres memiliki keterkaitan erat dengan kematian dini. Agar itu tidak terjadi, hadapi dan atasi stres sebaik mungkin. Bila merasa tidak mampu menghadapinya sendiri, bicarakan dengan orang terdekat atau berkonsultasilah dengan psikiater atau psikolog.

7 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app