Metamfetamin: Manfaat, Dosis, & Efek Samping

Dipublish tanggal: Feb 4, 2019 Update terakhir: Okt 23, 2020 Tinjau pada Mar 19, 2019 Waktu baca: 3 menit

Kenali Penggunaan, Dosis dan Efek Samping Metamfetamin

Dari dulu sampai sekarang sabu sabu atau yang dikenal dengan metamfetamin masih jadi primadona di dunia narkoba. Metamfetamin adalah sejenis obat psikostimulan yang bersifat adiktif dan dapat digunakan sebagai pengobatan untuk mengobati gangguan hiperaktif dan obesitas. 

Metamfetamin atau yang sering disebut sabu-sabu ini pertama kali disintesa di Jepang pada tahun 1893 dan mulai dikembangkan untuk keperluan medis seperti untuk pengobatan asma, narcolepsy, attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) dan obesitas dengan penggunaan terbatas.

Penyalahgunaan sabu-sabu pertama kali berkembang setelah akhir perang dunia kedua (1945-1956) di Jepang. Pada awalnya Sabu - sabu digunakan oleh para tentara Jepang untuk melawan rasa lapar, kantuk dan rasa takut ketika berada di medan perang akan tetapi pasca perang, Sabu - sabu diproduksi secara ilegal dan penyalagunaannya menyebar ke Amerika Serikat, Asia, Australia dan belahan dunia lainnya. Untuk lebih lengkapnya mengenai efeknya dan bagaimana metamfetamin dalat menyebabkan kecanduan, mari simak artikel yang satu ini.

Mengenai Metamfetamin

Golongan:

Obat resep

Kemasan:

Tablet

Kandungan:

Stimulan sistem saraf pusat

Manfaat Metamfetamin

Metamfetamin digunakan untuk mengobati gejala ADHD pada anak-anak yang sering ditandai dengan kondisi hiperaktif, sulit berkonsentrasi, impulsif dan Muda sekali terganggu.

Selain itu, metamfetamin juga dapat digunakan untuk mengatasi narkolepsi dimana penderita akan merasakan kantuk yang berlebihan, serta tertidur pada siang hari.

Efek apa yang dapat ditimbulkan dari penggunaan metamfetamin?

Penyalahgunaan sabu - sabu terbukti berdampak pada bio-psiko-sosial seseorang, dengan kata lain sabu - sabu bukan saja berpengaruh terhadap tubuh seseorang saja melainkan menyebabkan masalah terhadap mental dan juga berpengaruh terhadap lingkungan sekitar.

Pengaruh shabu terhadap kesehatan dipengaruhi oleh banyak faktor seperti dosis (ringan, sedang dan berat), durasi pemakaian (akut dan kronik), cara penyalahgunaan (dihisap, dihirup dan intravena) dan frekuensi penyalahgunaan. Efek penyalahgunaan shabu secara umum dapat dibedakan dalam dua fase yaitu fase awal dan fase konsolidasi.

1. Fase Akut (Short-term Use)

Fase ini dikenal juga dengan efek akut. Pada manusia dengan dosis ringan hingga sedang (5-30 mg) akan mempengaruhi kerja sistem saraf pusat dan perifer. Pengaruh terhadap sistem saraf pusat diantaranya meningkatkan tenaga, mood, motivasi, kewaspadaan, aktivitas lokomotor, relaksasi atau ketenangan dan euforia.

Pada fase akut pecandu shabu akan mendapatkan efek yang nampaknya positif, tetapi bila dosis ditingkatkan menjadi 30- 50 mg maka akan menimbulkan efek kecemasan, disforia, dan banyak bicara. Efek shabu di perifer diantaranya peningkatan denyut jantung, tekanan darah,laju pernapasan, dilatasi pupil, hipertermia, dan penurunan laju aliran saliva.

2. Fase konsolidasi (pemakaian jangka panjang)

Konsumsi dalam jangka waktu yang lama membuat seseorang akan meningkatkan dosis dan frekuensi untuk mendapatkan efek yang lebih besar. Penggunaan dosis besar (55-640 mg) tentunya sangat berbahaya dan memicu terjadinya overdosis. Penyalahgunaan shabu jangka panjang memicu komplikasi berbagai organ dalam tubuh seperti jantung, ginjal, hati, kolon, paru-paru, dan terutama sistem saraf pusat .

Efek Klinis Penyalahgunaan Metamfetamin Berdasarkan Tingkat Keparahannya :

  • Mild / Efek Ringan  adalah Mual, muntah, diare, tremors, peningkatan refleks, dilatasi pupil, berkeringat, insomnia.
  • Moderate / Efek Sedang adalah Hiperaktivitas, pusing, takikardi, hipotensi, hipertensi, sulit bernapas, dehidrasi.
  • Severe / Parah adalah Koma, seizures, gagal ginjal, paranoid, kardiomiopati, hiperpireksia, kelainan pendarahan.
  • Potentially fatal / Mengancam jiwa  adalah Infarksi miokardial (kerusakan jantung), irama jantung yang tidak teratur, perdarahan otak, stroke, edema otak.

Dosis Metamfetamin

Berikut adalah dosis metamfetamin yang data digunakan sebagai pengobatan gangguan hiperaktif (ADHD) dan obesitas:

  • ADHD- Anak usia 6 tahun ke bawah: disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter terlebih dulu untuk ukuran dosis tepat
  • ADHD- Anak usia 6 tahun ke atas: 5-10 mg per hari
  • Obesitas- Anak usia 12 tahun ke atas: 5 mg per hari (sebelum makan)

Interaksi Metamfetamin

  • Meningkatkan tekanan darah, jika dikonsumsi bersama dengan obat penghambat beta atau obat golongan penghambat enzim monoamin oksidase (MAOIs).
  • Meningkatkan risiko gangguan jantung dan pembuluh darah, jika dikonsumsi bersama dengan obat antidepresan trisiklik.
  • Memperlambat penyerapan obat-obatan tertentu oleh tubuh
  • Menghambat efek stimulan dari metamfetamin, jika dikonsumsi bersama dengan chlorpromazine atau haloperidol.

Perhatian

Seperti pengguna narkoba lainnya. Orang-orang menggunakan metamfetamin dengan berbagai motif dan tujuan misalnya untuk mencoba-coba (experimental use), bersenang-senang (recreational use), untuk mengerjakan pekerjaan tertentu (instrumental), dan memang sudah menjadi kebutuhan (regular use).

Tetapi pemakaian yang paling membahayakan adalah pemakaian dengan motif kebutuhan (regular use) karena sudah ketergantungan pada metamfetamin.

Jangan menggunakan metamfetamin bersamaan dengan obat-obatan lainnya tanpa petunjuk dari dokter karena dikhawatirkan dapat menyebabkan reaksi membahayakan. 

Jika terjadi reaksi alergi atau overdosis setelah menggunakan metamfetamin, segera konsultasikan pada dokter terdekat Anda.


16 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Drugs.com (2018). Methamphetamine. (https://www.drugs.com/illicit/speed.html)
DerSarkissian, C. WebMD (2017). Narcolepsy. (https://www.webmd.com/sleep-disorders/qa/what-is-narcolepsy)

Artikel ini hanya sebagai informasi obat, bukan anjuran medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter atau apoteker mengenai informasi akurat seputar obat.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Buka di app