Epifora: Manfaat, Dosis, & Efek Samping

Dipublish tanggal: Feb 22, 2019 Update terakhir: Okt 25, 2020 Tinjau pada Jun 13, 2019 Waktu baca: 4 menit

Epifora adalah istilah medis untuk mata berair, dimana produksi air mata akan berlebihan hingga membasahi wajah. Gejala epifora bisa terjadi pada salah satu atau kedua mata. Meskipun bisa terjadi pada usia berapa pun, namun kebanyakan terjadi pada bayi berusia di bawah 12 bulan dan dewasa di atas usia 60 tahun.

Sebenarnya air mata memang dibutuhkan untuk menjaga permukaan depan bola mata agar tetap sehat, sehingga kemampuan penglihatan selalu terjaga dengan baik. Namun terlalu banyak air mata, bisa menimbulkan masalah, mulai dari rasa tidak nyaman, mempengaruhi penampilan, bahkan sampai mengalami kesulitan untuk melihat dengan jelas. Jika hal ini sampai menimbulkan gejala yang berat, mata yang berair (epifora) kadang – kadang bisa menyebabkan kesulitan melihat saat berkendara dan tentu ini amat sangat berbahaya.

Untungnya, pada sebagian besar kasus, epifora bisa diobati dengan efektif. Meskipun hasilnya akan berbeda-beda, tergantung tingkat keparahannya. Oleh sebab itu ketahuilah gejalanya sejak awal dan lakukan pengobatan secepat mungkin.

Apa Gejala Epifora?

Adapun ciri-ciri dan gejala ketika mata kita mengalami epifora diantaranya:

  • Mata terus berair.
  • Adanya krusta kering dekat mata (semacam kotoran mata).
  • Bulu mata basah.
  • Bulu mata mengalami kerontokan.

(Baca juga: Cara Mengatasi Gatal pada Kelopak Mata)

Bagaimana Memastikan Diagnosis Epifora?

Epifora merupakan kondisi yang mudah untuk ditegakkan diagnosisnya. Dokter akan mencoba mencari tahu penyebab keluhan ini, misalnya apakah karena lesi, infeksi, entropion atau ektropion.

Jika dokter umum tidak bisa menentukan penyebab epifora, maka anda akan dirujuk ke spesialis mata. Dokter mata akan melakukan pemeriksaan mata secara detail (biasanya pasien akan dianastesi lokal).

Jika ada kecurigaan bahwa penyebabnya adalah sumbatan saluran air mata, maka dokter akan memastikannya dengan alat bantu sebagai berikut:

  • Sebuah probe akan dimasukkan ke dalam saluran drainase di dalam mata (kanalikuli) untuk melihat apakah saluran ini tersumbat atau tidak.
  • Cairan akan dimasukkan ke dalam saluran air mata untuk menemukan apakah cairan ini akan masuk ke dalam hidung pasien atau tidak.
  • Jika diketahui bahwa cairan tersumbat, maka kontras akan diinjeksikan untuk menemukan lokasi pasti yang menjadi tempat penyumbatan dengan menggunakan foto sinar X di area tersebut. Cairan kontras akan muncul pada foto X ray tersebut.

Apa Penyebab Epifora?

Ada dua penyebab utama epifora yakni sumbatan pada saluran air mata atau karena produksi air mata yang berlebihan.

Sumbatan pada saluran  air mata

Beberapa manusia lahir dengan saluran air mata yang tak berkembang dengan sempurna. Hal ini bukanlah hal yang tak biasa pada bayi baru lahir. Secara umum, masalah ini bisa hilang dengan sendirinya dalam beberapa bulan karena duktus atau saluran mulai berkembang dengan baik.

Penyebab utama mata berair atau epifora pada orang dewasa dan anak – anak adalah karena sumbatan pada duktus (saluran air mata) atau karena duktus yang terlalu sempit. Penyempitan duktus biasanya terjadi karena adanya pembengkakan (inflamasi).

Jika saluran air mata pasien menyempit atau tersumbat maka akan menghambat aliran air mata dan menyebabkan air mata menumpuk pada sakus (kantung) air mata. Air mata yang tertahan di sakus akan meningkatkan risiko terjadinya infeksi pada area tersebut dan mata akan menghasilkan cairan yang lengket. Infeksi juga bisa menyebabkan inflamasi (peradangan) pada hidung di sisi mata yang bermasalah.

Saluran drainase air mata yang menyempit pada bagian dalam mata (kanalikuli) bisa menyebabkan tersumbatnya air mata. Hal ini bisa terjadi karena pembengkakan atau karena skar (jaringan parut).

Overproduksi air mata

Mata yang mengalami iritasi bisa menghasilkan air mata lebih banyak daripada mata yang normal karena tubuh mencoba membersihkan bahan yang menyebabkan iritasi.

Bahan iritan berikut bisa menyebabkan overproduksi air mata:

  • Beberapa bahan kimia seperti asap dan bahkan bawang.
  • Konjungtivitis akibat infeksi
  • Konjungtivitis alergi
  • Injury atau luka pada mata misalnya mata tergores akibat debu atau benda kecil lainnya.
  • Trichiasis (pertumbuhan bulu mata ke dalam). Sering disebabkan oleh entropion marginal (kelopak mata masuk ke dalam tepi mata).
  • Ektropion atau keadaan ketika kelopak mata bawah menghadap ke arah luar.

Beberapa pasien, air matanya mengandung kadar lemak tinggi. Hal ini bisa mengganggu penyebaran cairan di sepanjang mata, meninggalkan plak kering yang menjadi luka, iritasi dan menyebabkan mata menghasilkan lebih banyak air mata.

Penyebab epifora lainnya

Ada banyak penyebab epifora. Kondisi berikut ini juga bisa menyebabkan aliran air mata yang berlebihan:

  • Keratitis (infeksi pada kornea)
  • Ulkus kornea (luka terbuka yang terbentuk di mata)
  • Hordeolum atau kalazion, yang merupakan benjolan yang tumbuh di tepi kelopak mata.
  • Bells palsy
  • Mata kering
  • Alergi
  • Gangguan pada kelenjar di kelopak mata (kelenjar meibom)
  • Penggunaan obat tertentu

Langkah Pengobatan Epifora

Pilihan terapi tergantung tingkat keparahan epifora dan apa yang menjadi penyebabnya. Pada kasus yang ringan, dokter akan merekomendasikan untuk dilakukan observasi guna menilai progresivitas keluhan ini.

Beberapa penyebab epifora memiliki pilihan terapi yang spesifik:

  • Iritasi. Jika epifora disebabkan oleh konjungtivitis infeksi, maka dokter akan menyarankan untuk diobservasi selama seminggu untuk melihat apakah infeksi bisa hilang dengan sendirinya atau butuh pemberian antibiotik.
  • Trichiasis. Bulu mata yang tumbuh ke dalam atau beberapa benda asing yang masuk ke mata, harus ditangani oleh dokter.
  • Ektropion. Pasien perlu mendapatkan tindakan pembedahan untuk memperbaiki tendon yang menahan bagian kelopak mata luar supaya kencang.
  • Sumbatan saluran air mata. Dokter akan melakukan tindakan pembedahan untuk membuat saluran baru dari sakus (kantung) air mata menuju bagian dalam hidung. Hal ini bisa menyebabkan air mata bisa mengalir langsung memotong jalur yang tersumbat. Tindakan ini disebut DCR (dacryocystorhinostomy).

Jika saluran air mata di bagian dalam mata (kanalikuli) mengalami penyempitan namun tidak tersumbat sepenuhnya maka dokter akan menggunakan probe untuk melebarkannya. Ketika kanalikuli tersumbat sepenuhnya maka butuh dilakukan tindakan pembedahan.

Jadi, jika Anda pernah sesekali mengalami gejala-gejala epifora seperti dijelaskan diatas atau bahkan sering mengalaminya. Sebaiknya segera konsultasikan dengan dokter tentang masalah pada mata anda tersebut. Karena semakin dini mengetahui gejala epifora ini dan segera melakukan tindakan pengobatan jika muncul gejalanya maka akan semakin memperbesar peluang kesembuhan.


14 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Ziahosseini K, et al. (2015). Botulinum toxin injection for the treatment of epiphora in lacrimal outflow obstruction. DOI: 10.1038/eye.2015.18
Williams B, et al. (2014). Patterns and causes of epiphora referrals to a tertiary oculoplastic practice. DOI: (https://doi.org/10.1016/j.jcjo.2013.12.003)
Soiberman U, et al. (2012). Punctal stenosis: Definition, diagnosis, and treatment. DOI: 10.2147/OPTH.S31904

Artikel ini hanya sebagai informasi obat, bukan anjuran medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter atau apoteker mengenai informasi akurat seputar obat.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Buka di app