Dikloksasilin: Manfaat, Efek Samping dan, Dosis

Update terakhir: Mar 6, 2019 Waktu baca: 3 menit
Telah dibaca 285.781 orang

Dikloksasilin merupakan antibiotik antibakteri Penicillin yang termasuk dalam golongan antibiotik lini kedua (bersama dengan Sefalosporin, Azitromisin, dan Klindamisin). Obat ini hanya digunakan untuk infeksi yang disebabkan oleh kuman resisten atau kegagalan pengobatan antibiotik lini pertama. 

Dikloksasilin termasuk antibiotik golongan beta laktam yang memiliki  mekanisme kerja menghambat sintesis dinding sel bakteri dengan cara mengikat satu atau lebih Penicillin Binding Protein (PBP) sehingga terjadi penghambatan sintesis peptidoglikan dinding sel bakteri. Bakteri akan lisis karena aktivitas enzim otolitik dinding sel berjalan terus, sementara itu sintesis dinding selnya terhenti.

Dikloksasilin digunakan untuk pengobatan infeksi sistemik seperti pneumonia, infeksi kulit dan jaringan lunak, serta infeksi jaringan tulang yang disebabkan oleh bakteri Staphilococcus. Sementara itu, obat ini memiliki kontraindikasi terhadap pasien yang hipersensitif terhadap golongan Penicillin atau komponen lain yang terkandung dalam obat.

Efek samping Dikloksasilin 

Kemungkinan efek samping yang ditimbulkan oleh pemakaian Dikloksasilin sekitar 10% dapat menyebabkan gangguan gastrointestinal, seperti mual, diare, dan nyeri lambung. Sementara itu kurang dari 1% akan menyebabkan agranulositosis, eosinophilia, anemia hemolitik, hepatotoksik, hipersensitivitas, interstisial nephritis, leukopenia, neutropenia, perpanjangan waktu penjendalan darah, pseudomembranous collitis, dan ruam. 

Efek samping lainnya yang mungkin ditimbulkan saat menggunakan obat ini dengan dosis tinggi yaitu kejang, gagal ginjal, trombositopenia, vaginitis, dan muntah.

Terdapat juga beberapa hal yang merupakan peringatan dan perhatian saat memberikan Dikloksasilin pada pasien, seperti harus melakukan monitoring Prothrombin Time (PT) pada pasien yang mendapatkan pengobatan Dikloksasilin bersama dengan Warfarin. Dokter harus berhati-hati dalam menggunakan Dikloksasilin pada pasien yang mempunyai riwayat alergi golongan Cephalosporin. 

Peringatan lain yaitu bahwa obat ini memiliki faktor risiko B pada ibu hamil. Selain itu, eliminasi obat lambat pada bayi sehingga harus diperhatikan dalam pemberian dosis pemakaian. Dikloksasilin juga mempunyai pengaruh terhadap ibu menyusui karena ekskresi obat ini dalam air susu sehingga perlu dilakukan monitoring terutama untuk mengetahui adanya reaksi hipersensitivitas pada bayi.

Interaksi

Dikloksasilin dapat menimbulkan interaksi jika digunakan dengan obat lain

Dari beberapa sumber, didapat pula interaksi Dikloksasilin dengan obat lain, yaitu:

  • Meningkatkan efek (toksik):Disulfiram dan Probenezid kemungkinan akan meningkatkan kadar Dikloksasilin dalam darah. Sementara itu jika Dikloksasilin digunakan bersamaan dengan Methotreksat dikhawatirkan akan meningkatkan efek Methotreksat sehingga perlu dilakukan monitoring.
  • Menurunkan efek: Penggunaan Dikloksasilin bersamaan dengan Warfarin dan antikoagulan lainnya akan menurunkan efek Dikloksasilin.

Terdapat pula data yang menyebutkan bahwa penggunaan kontrasepsi oral yang bersamaan dengan Dikloksasilin akan mengakibatkan menurunnya kadar kontrasepsi oral oleh karena obat ini. Namun data yang menunjukkan kebenaran hal tersebut masih terbatas.

Bagaimana dosis dan penggunaan Dikloksasilin?

Dikloksasilin tersedia dalam bentuk kapsul 250 mg dan 500 mg yang harus disimpan dalam suhu di bawah 40°C atau sekitar 15-30°C. Dikloksasilin biasa diberikan secara oral maupun injeksi intravena. 

Obat ini tidak direkomendasikan untuk bayi baru lahir. Sementara itu, untuk anak dengan berat badan < 40 kg, dosis oral yang dianjurkan adalah 12,5-25 mg/kg/hari dan terbagi setiap 6 jam. Sementara itu, untuk anak dengan berat badan > 40 kg, dosis oral yang dianjurkan adalah 125-250 mg setiap 6 jam. Pada orang dewasa, dosis oral yang dianjurkan adalah 125-1000 mg setiap 6 jam.

Terdapat beberapa dosis spesifik untuk beberapa penyakit pada orang dewasa, di antaranya:

  • Erisipelas, furunkulosis, mastitis, otitis eksterna, bursitis sepsis serta infeksi kulit: 500 mg setiap 6 jam; sementara untuk impetigo: 250 mg setiap 6 jam.
  • Terapi supresi jangka panjang: 250 mg sehari dua kali (setiap 12 jam).
  • Infeksi Staphylococcus aureus: IV 500-1000 mg setiap 6-8 jam.
  • Penyesuaian takaran pada gagal ginjal: tidak diperlukan.

Cara pemberian obat ini yaitu dengan diberikan pada perut kosong, yaitu 1 (satu) jam sebelum atau 2 (dua) jam setelah makan karena adanya makanan dikhawatirkan dapat menurunkan tingkat absorbsi obat sehingga menurunkan kadar konsentrasi obat dalam serum. Pemberian obat harus sesuai jadwal, hal ini bertujuan agar dapat mempertahankan kadar obat dalam plasma darah. 

Sementara itu, lama pemberian obat ini diketahui sebagai berikut:

  • Pengobatan infeksi Staphylococcus parah: 14 hari.
  • Terapi oral: 3-6 minggu hingga durasi pemberian obat tidak kurang dari 6 minggu.
  • Pengobatan osteomielitis: 1-2 bulan atau mungkin juga 1-2 tahun.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Punya pertanyaan? Tanyakan kepada dokter di bawah ini

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.
Submit