Benarkah Lemak Jenuh Meningkatkan Resiko Penyakit Jantung?

Mengonsumsi lemak jenuh berlebihan dapat meningkatkan kadar kolesterol LDL atau kolesterol jahat. Terlalu banyak kolesterol LDL dalam darah dapat menyebabkan penumpukan lemak di pembuluh darah arteri. Hal ini dapat menyebabkan terhambatnya aliran darah ke jantung dan otak.
Dipublish tanggal: Jun 23, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Tinjau pada Sep 11, 2019 Waktu baca: 3 menit
Benarkah Lemak Jenuh Meningkatkan Resiko Penyakit Jantung?

Selama ini banyak yang beranggapan bahwa lemak jenuh adalah penyebab penyakit jantung. Lemak jenuh baik atau buruk? Yang perlu kita lakukan adalah melihat makanan secara spesifik. 

Tubuh membutuhkan lemak jenuh yang digunakan sebagai bahan bakar untuk menjaga semua organ tubuh berfungsi sebaik mungkin. Ada sumber lemak jenuh yang bagus dan sumber lemak jenuh yang tidak begitu bagus.

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Langung Dikirim!

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads sept20

D:\artikel juni 2019\images (2).jpeg

Makanan sehat yang tinggi lemak jenuh meliputi: telur, daging sapi tanpa lemak dan daging merah lainnya, kalkun, ikan, dan sumber protein hewani lainnya, serta produk susu. 

Makanan tidak sehat yang kaya akan lemak jenuh meliputi: makanan penutup (dessert) berbahan dasar gandum dan susu, daging olahan (sosis, bacon), karbohidrat olahan (nasi putih, pasta, roti putih, sereal), kentang goreng, mentega dan krim, makanan cepat saji (fast food), keripik, kue, dan makanan junk food lainnya.

Apa hubungan lemak jenuh dengan kesehatan jantung?

Mengonsumsi lemak jenuh berlebihan dapat meningkatkan kadar kolesterol LDL atau kolesterol jahat. Terlalu banyak kolesterol LDL dalam darah dapat menyebabkan penumpukan lemak di pembuluh darah arteri. Hal ini dapat menyebabkan terhambatnya aliran darah ke jantung dan otak.

Jadi apakah konsumsi lemak jenuh bisa meningkatkan resiko penyakit jantung?

Penelitian yang diterbitkan dalam Annals of Internal Medicine menyebutkan bahwa lemak jenuh bukanlah penyebab satu-satunya penyakit jantung. Kalau begitu kenapa banyak yang percaya lemak jenuh membahayakan jantung?

Sebetulnya, anjuran untuk mengurangi makanan dengan lemak jenuh seperti keju, mentega, atau daging merah berasal dari sebuah penelitian asal University of Minnesota pada tahun 1950-an yang dilakukan oleh Ancel Benjamin Keys.

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Jantung via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 10

Penelitian yang diadakan di tujuh negara ini menyimpulkan bahwa lemak jenuh dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat dalam darah lantas bisa meningkatkan resiko penyakit jantung. Sejak saat itu, anggapan bahwa lemak jenuh menjadi penyebab penyakit jantung pun menyebar luas di seluruh dunia.

Namun, penelitian tersebut banyak dikritik. Salah satunya, penelitian yang dilakukan tersebut tidak secara acak memilih negara yang dijadikan sasaran analisis, melainkan memilih negara-negara yang membuktikan hipotesisnya. 

Negara-negara tersebut yaitu Yugoslavia (sekarang pecah menjadi Serbia, Kroasia, Republik Makedonia, Boznia dan Herzegovina, dan Slovenia), Finlandia, dan Italia. Sementara negara-negara yang dikenal paling banyak mengonsumsi lemak seperti Perancis, Swiss, Swedia, dan Jerman tidak diikutsertakan. 

Padahal, di negara tersebut angka kejadian penyakit jantungnya relatif rendah.

Apakah lemak jenuh aman untuk dikonsumsi?

Penelitian lain dalam Academy of Nutrition and Dietetics justru mengatakan bahwa saat ini bukti bahwa lemak jenuh menyebabkan penyakit jantung belum cukup kuat. Karena itu, sebaiknya Anda tetap mengonsumsi lemak jenuh. 

Makanan yang kaya akan lemak jenuh berasal dari sumber hewani, termasuk daging dan susu. Peneliti menguji resiko lemak jenuh pada 38 pria dengan obesitas. Para peserta dibagi menjadi dua kelompok, kelompok pertama melakukan diet tinggi lemak dan rendah karbohidrat. 

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Kolestrol via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 29

Kelompok kedua melakukan diet rendah lemak dan tinggi karbohidrat. Penelitian ini dilakukan selama 12 minggu. Ternyata, hasilnya adalah tidak ada perbedaan risiko penyakit jantung dari kedua kelompok, yaitu yang makan banyak lemak dan sedikit lemak.

Terlepas dari benar atau tidaknya kaitan antara konsumsi lemak jenuh dan penyakit jantung, pola makan dengan gizi seimbang merupakan hal penting. Terlalu banyak mengonsumsi lemak dapat menyebabkan obesitas. 

Begitu pun halnya bila Anda terlalu banyak konsumsi karbohidrat. Jika dilihat dari daftar makanan yang dicontohkan di atas, Anda bisa mendapatkan semua lemak jenuh yang Anda butuhkan dari sumber yang lebih sehat. 

Lemak jenuh banyak disalahkan atas masalah kesehatan paling mematikan dalam beberapa dekade terakhir. Namun, jika selama ini Anda lebih fokus pada apa yang tidak boleh dimakan, sebaiknya mulai fokus pada apa yang seharusnya Anda makan lebih banyak. 

Jika Anda tidak makan makanan sehat, tentu akan ada konsekuensinya.

Intinya, segala sesuatu yang berlebihan tidak baik bagi tubuh Anda. Untuk mencapai hidup sehat, biasakan untuk memiliki pola makan dengan gizi seimbang dan hidup aktif mulai dari sekarang.

5 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Saturated fat, regardless of type, linked with increased heart disease risk. Harvard T.H. Chan School of Public Health. (https://www.hsph.harvard.edu/nutritionsource/2016/12/19/saturated-fat-regardless-of-type-found-linked-with-increased-heart-disease-risk/)
The relationship of saturated fats and coronary heart disease: fa(c)t or fiction? A commentary. National Center for Biotechnology Information. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5933589/)

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app