Tes Keperawanan Dengan 2 Jari Dilarang WHO, Ini Bahayanya

Dipublish tanggal: Sep 16, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Tinjau pada Okt 12, 2019 Waktu baca: 3 menit
Tes Keperawanan Dengan 2 Jari Dilarang WHO, Ini Bahayanya

Wacana tes keperawanan bagi siswa SMP dan SMA sempat berembus dan ramai diperbincangkan sejak 2015 silam. Hal ini jelas memancing pro dan kontra di masyarakat, bahkan dinilai tak ilmiah dan tidak manusiawi untuk kaum wanita.

Tiga organisasi di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yaitu Badan Kesehatan Dunia (WHO), UN Women, dan UN Human Rights Office (OHCHR), telah menyerukan penghapusan tes keperawanan dari seluruh negara di dunia sejak tahun 2018. Memangnya, apa bahayanya dan adakah cara tes keperawanan yang lebih manusiawi? Berikut ulasan lengkapnya.

Iklan dari HonestDocs
Beli Alat Kontrasepsi & Hormon via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 7

Apa itu tes keperawanan?

Berdasarkan data dari tiga organisasi tersebut, Indonesia termasuk salah satu negara yang masih melakukan tes keperawanan. Jenis pemeriksaan ini masih banyak dilakukan sebagai salah satu syarat masuk pekerjaan atau pendidikan tertentu, bahkan menentukan layak atau tidaknya seorang wanita untuk menikah - bukan untuk tindakan medis.

Tes keperawanan adalah "prosedur" yang dilakukan dengan cara memeriksa himen atau selaput dara, yaitu jaringan kulit sangat tipis yang melapisi bukaan vagina perempuan. Jika selaput dara masih utuh, maka perempuan dianggap belum pernah berhubungan seksual alias masih perawan. Begitu juga sebaliknya, perempuan dianggap sudah tidak perawan lagi kalau selaput daranya sudah robek.

Apa saja bahaya tes keperawanan?

Sejak awal dicetuskan, pemeriksaan yang juga disebut dengan 'tes dua jari' ini dianggap efektif untuk menurunkan perilaku seks bebas pada remaja. Dengan mengetahui status perawan atau tidak, pelaku seks bebas diyakini akan jera dan tidak mengulanginya lagi di masa mendatang.

Padahal sebetulnya, perilaku seks bebas tidak ada hubungannya dengan tes keperawanan. Sudah banyak dokter dan ahli yang mengecam praktik tes keperawanan karena dianggap tidak berbasis ilmiah. Dari dunia kedokteran pun tidak ada referensi yang menjelaskan soal tes keperawanan.

Selaput dara alias himen merupakan jaringan tipis yang bisa robek bukan hanya karena berhubungan intim, tapi juga karena hal-hal tertentu. Misalnya bersepeda atau berkuda, pemeriksaan pada organ intim, kecelakaan, hingga masturbasi pakai alat atau jari.

Bentuk selaput dara pada wanita pun berbeda-beda, bahkan ada yang sejak lahir tidak memiliki selaput dara. WHO juga menegaskan bahwa tidak ada perbedaan selaput dara seorang perawan dengan yang tidak perawan.

Iklan dari HonestDocs
Beli Alat Kontrasepsi & Hormon via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 7

Baca Selengkapnya: Yang Perlu Anda Ketahui Tentang Selaput Dara

Oleh karena itulah, selaput dara tentu tidak bisa dijadikan patokan untuk menentukan apakah seorang perempuan masih perawan atau tidak.

Memaksakan tes keperawanan pada wanita justru bisa memberikan dampak buruk, baik secara fisik maupun mental. Berikut berbagai bahaya tes keperawanan untuk wanita:

1. Terasa menyakitkan

Melansir dari WHO, tes keperawanan dengan menggunakan 2 jari tidak berbasis ilmiah dan melanggar hak asasi wanita. Kebanyakan wanita juga mengeluh kesakitan saat menjalaninya.

Bagaimana tidak, tes keperawanan seringnya dilakukan dengan cara memasukkan 2 jari ke dalam vagina untuk melihat utuh atau tidaknya selaput dara. Bagi wanita yang belum pernah berhubungan seksual, prosedur ini jelas akan terasa menyakitkan dan membuat tidak nyaman.

Dalam jangka panjang, tidak menutup kemungkinan bahwa hal ini dapat memicu infeksi dan perdarahan pada organ kewanitaan.

Iklan dari HonestDocs
Beli Alat Kontrasepsi & Hormon via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 7

2. Memicu trauma

Tidak hanya buruk untuk kondisi fisik, tes keperawanan juga bisa mengganggu kesehatan mental wanita yang menjalaninya. Jenis pemeriksaan ini dapat memicu perasaan bersalah, malu, panik, khawatir, bahkan trauma jangka panjang.

Ketika tidak ditemukan selaput dara, banyak perempuan yang sampai diintimidasi untuk mengaku bahwa ia sudah tidak perawan lagi. Padahal kenyataannya perempuan tersebut memang belum pernah berhubungan seksual sama sekali. Hal ini jelas saja dapat memicu depresi dan trauma berkepanjangan.

Bagaimana cara tes keperawanan?

Tes keperawanan biasa disebut juga dengan tes dua jari. Hal ini cukup jelas menggambarkan bagaimana cara tes keperawanan dilakukan.

Pada dasarnya, tes keperawanan dilakukan dengan cara yang mirip dengan pap smear untuk mendeteksi dini kanker serviks. Begini cara tes keperawanan:

  • Pastikan wanita tidak sedang menstruasi.
  • Wanita berbaring di tempat tidur, kemudian kaki ditekuk dan mengangkang seperti posisi melahirkan secara normal (pervaginam).
  • Dokter membuka kelamin dengan jari atau menggunakan bantuan alat spekulum untuk membuka bibir vagina.
  • Jika tampak ada selaput tipis yang menutupi dinding dan bibir vagina, maka selaput dara dapat dikatakan masih utuh.

Baca Juga: Pemeriksaan Pap Smear: Syarat, Prosedur, dan Hasil

Tes ini tidak boleh dilakukan oleh sembarangan orang. Hanya dokter spesialis kebidanan atau bidan ahli yang berwewenang dan berkompetensi untuk melakukannya. Orang awam tidak mungkin mampu melaksanakannya.

Namun lagi-lagi, tes keperawanan bukanlah satu-satunya cara untuk mengetahui apakah seorang wanita sudah aktif secara seksual atau bukan. Bahkan cara ini tetap tidak akurat untuk memprediksi status keperawanan seseorang. 

Kunci paling utamanya hanya dengan pengakuan, berkata jujur, dan saling terbuka. Pasalnya, hanya wanita tersebutlah yang tahu betul apakah dirinya sudah pernah berhubungan seksual atau belum.

Baca Selengkapnya: Tes Kesehatan Sebelum Menikah

1 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
End virginity testing. World Health Organization (WHO). (https://www.who.int/reproductivehealth/publications/infographics-end-virginity-testing/en/)

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app