Memahami Arti Lesi dalam Dunia Kedokteran

Dipublish tanggal: Feb 22, 2019 Update terakhir: Mar 11, 2022 Tinjau pada Jun 13, 2019 Waktu baca: 4 menit
Memahami Arti Lesi dalam Dunia Kedokteran

Ringkasan

Buka

Tutup

  • Lesi adalah kerusakan atau ketidaknormalan setiap bagian atau jaringan di dalam tubuh, tapi lebih sering terjadi di kulit dan mulut;
  • Meskipun sebagian besar lesi kulit tidak berbahaya, kondisi ini tetap perlu diwaspadai karena beberapa dapat menjadi indikator kanker kulit;
  • Lesi mulut adalah semua jenis kelainan pada jaringan yang ada di dalam mulut, seperti karies gigi atau gigi berlubang, lepuh herpes, sariawan, hingga radang gusi;
  • Lesi otak terkait dengan berbagai kondisi, termasuk penyakit Alzheimer, meningitis, multiple sclerosis, dan cerebral palsy;
  • Sebagian besar lesi paru-paru disebabkan oleh salah satu penyakit bakteri atau virus atau kanker;
  • Klik untuk membeli paket medical check up dengan harga bersahabat dan dokter berpengalaman melalui HDmall;
  • Gunakan fitur chat untuk berkonsultasi dengan apoteker kami secara gratis seputar obat dan paket kesehatan yang Anda butuhkan.

Lesi adalah kerusakan atau ketidaknormalan setiap bagian atau jaringan di dalam tubuh. Hal ini dapat terjadi akibat proses suatu penyakit seperti cedera fisik, kimiawi atau dan elektris, penyakit autoimun, infeksi, dan masalah metabolisme. 

Lesi dapat terjadi pada bagian tubuh dan jenis jaringan yang berbeda. Maka itu, setiap jenis lesi memiliki penyebab dan cara pengobatan yang berbeda. 

Jenis-jenis lesi

Secara luas, lesi dikategorikan berdasarkan bagian tubuh yang terlibat. Misalnya lesi kulit dan mulut yang paling umum terjadi.

Selain itu, ada juga yang lebih spesifik seperti lesi lidah, bibir, atau gusi yang merupakan pecahan dari lesi mulut. Efek atau gejala lesi yang ditimbulkan dari setiap jaringan tertentu tergantung pada lokasi, jenis, dan ukurannya.

Berikut jenis-jenis lesi yang penting diketahui, antara lain:

1. Lesi kulit

Ada 2 jenis lesi kulit, yaitu:

  • Lesi primer: Terjadi pada kulit normal yang mengalami perubahan dalam warna atau tekstur kulit. Contohnya kemerahan, tahi lalat, tanda lahir, dan gatal-gatal;
  • Lesi sekunder: Lesi yang muncul setelah kulit mengalami lesi primer. Contohnya sisik-sisik di atas kulit yang meradang, retakan pada kulit yang kering, borok kulit, koreng, dan likenifikasi.

Setiap jenis lesi kulit bisa disebabkan oleh hal-hal berbeda sehingga penanganannya pun disesuaikan dengan penyebabnya. Jika karena penyakit menular, dokter biasanya mencoba untuk mengobati penyebabnya terlebih dahulu sebelum mengatasi lesinya. Contohnya penggunaan salep antibiotik digunakan untuk mengatasi lesi akibat infeksi bakteri.

Bersamaan dengan itu, gejala lesi seperti iritasi dan kemerahan juga perlu di atasi, misalnya dengan membrikan krim kortisol. Dalam banyak kasus, pengobatan juga diperlukan untuk mengatasi kerusakan kulit yang tidak berbahaya seperti menghilangkan tahi lalat.

Meskipun sebagian besar lesi kulit tidak berbahaya, kondisi ini tetap perlu diwaspadai karena beberapa dapat menjadi indikator kanker kulit. Sebagai contoh, tahi lalat atau tanda lahir yang memiliki permukaan tidak rata atau warnanya yang berubah bisa menjadi tanda kanker kulit.

Baca selengkapnya: Lesi Kulit - Tanda, Penyebab, Gejala, Cara Mengobati

2. Lesi mulut

Lesi mulut adalah semua jenis kelainan pada jaringan yang ada di dalam mulut, seperti karies gigi atau gigi berlubang, lepuh herpes, ulkus atau sariawan, radang gusi, dan peradangan dari infeksi jamur. Penyebabnya bermacam-macam, tapi paling utama karena kebersihan mulut yang buruk. Orang yang merokok atau mengunyah tembakau juga lebih berisiko memiliki lesi mulut yang berbahaya seperti kanker mulut dan lidah.

Oleh sebab itu, kebersihan gigi dan mulut yang baik dapat sangat efektif dalam mencegah berbagai jenis lesi oral. Namun, apabila sudah terlanjur terjadi, lesi oral dapat diobati berdasarkan penyebabnya. 

Infeksi radang gusi dan sariawan dapat diobati hingga tuntas, misalnya dengan penggunaan obat kumur, gel, atau pasta gigi. Namun, jika yang terjadi adalah lesi herpes, kondisi ini cenderung tidak dapat disembuhkan sepenuhnya.

Lesi yang mempengaruhi jaringan bagian dalam mulut, seperti kanker mulut, mungkin harus diangkat dengan cara operasi. Debridement, suatu prosedur untuk membuang jaringan mati, juga dapat digunakan ketika jaringan rusak parah, bersama dengan antibiotik untuk mengendalikan infeksi.

3. Lesi otak

Lesi otak terkait dengan berbagai kondisi, termasuk penyakit Alzheimer, meningitis, multiple sclerosis, dan cerebral palsy. Tumor, trauma fisik, dan penuaan juga dapat menyebabkan kerusakan, seperti perdarahan dan stroke. Kelainan otak juga dapat terjadi akibat pengaruh lingkungan seperti paparan racun.

Tergantung dari penyebab kerusakan, dokter mungkin dapat mengobati beberapa jenis lesi otak. Misalnya, abses otak dapat diobati dengan antibiotik atau obat antijamur. 

Lain halnya dengan kelainan yang menyebabkan kerusakan permanen, biasanya tidak dapat diobati. Contohnya pada kasus penyakit Alzheimer.

Namun, dokter dapat melakukan penanganan tertentu untuk mengobati gejala akibat kerusakan otak minimal, seperti dalam kasus stroke yang cepat ditangani. Lokasi kerusakan juga dapat berdampak pada pengobatan. Misalnya, tumor yang letaknya jauh di dalam otak cenderung lebih sulit diobati daripada tumor yang posisinya lebih dekat ke permukaan.

4. Lesi paru-paru

Sebagian besar lesi paru-paru disebabkan oleh salah satu penyakit bakteri atau virus atau kanker. Kista, lubang, atau jaringan parut bisa terbentuk di dalam paru-paru. 

Ada juga beberapa jenis kelainan paru-paru bawaan, termasuk Congenital Cystic Adenomatoid Malformasi (CCAM). TBC juga dapat menyebabkan lesi paru-paru baik berupa peradangan, kematian jaringan, sampai kerusakan paru.

Sayangnya, banyak yang memiliki masalah pada paru-paru tapi baru disadari saat menjalani medical check up ataupun tes diagnostik seperti Magnetic Resonance Imaging ( MRI) yang sebenarnya dilakukan untuk kondisi lain.

Penanganan lesi paru bervariasi, mulai dari operasi dan kemoterapi dalam kasus kanker, terapi antibiotik dalam kasus tuberkulosis, dan lain-lain. Untuk mencegah kerusakan paru, sebaiknya berhentilah merokok dan hindari faktor-faktor lingkungan pemciu seperti polusi udara dan zat asbes.

Setiap orang bisa saja mengalami lesi di bagian tubuh mana saja, entah itu di hati, pankreas, alat kelamin, usus, ginjal, tulang, mata, dan kantong empedu.  Tidak hanya jaringan, sel dan molekul tubuh juga bisa mengalami lesi, seperti dalam kasus penyakit anemia sel sabit. Segera lakukan medical check up jika Anda mencurigai munculnya gejala tak biasa yang mengarah pada terjadinya lesi.

Baca juga: Apakah Lesi Tulang Berbahaya, dan Bagaimana Cara Mengatasinya?


19 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Buka di app