Trombositosis - Tanda, Penyebab, Gejala, Cara Mengobati

Dipublish tanggal: Jan 7, 2019 Update terakhir: Nov 5, 2020 Tinjau pada Feb 28, 2019 Waktu baca: 3 menit

Perlu Anda ketahui, darah merupakan suatu jaringan tubuh yang terdapat di dalam pembuluh darah yang bewarna merah. Warna merah keadaannya tidak tetap tergantung pada banyaknya oksigen dan karbondioksida di dalamnya. Darah yang banyak mengandung karbondioksida umumnya bewarna merah tua. Unsur-unsur didalam sel darah terdiri atas tiga jenis yaitu, sel darah merah, leukosit atau sel darah putih dan trombosit atau keping-keping darah.

Trombosit merupakan salah satu unsur darah yang penting dalam tubuh. Trombosit merupakan sel kecil atau keping sel yang mengalir di tubuh Anda melalui aliran darah. Trombosit memiliki fungsi penting karena dapat membantu menghentikangt;pendarahan jika terjadi luka kecil atau bagian tubuh yang menganga.

Cara kerja trombosit adalah dengan menutupi pembuluh darah yang rusak dengan membentuk benang-benang fibrin yang akan menutup kerusakan tersebut. Trombosit manusia berukuran kecil dan berbentuk bulat. Pembuatan trombosit bertempat di sumsum tulang.

Namun jumlah trombosit yang berlebihan di dalam tubuh juga dapat menyebabkan masalah dalam tubuh. Salah satunya pada trombositosis. Pada artikel ini akan membahas lebih lanjut mengenai trombositosis. Berikut penjelasannya. 

Apa sih Trombositosis itu?

Pada umumnya normal jumlah trombosit dalam sel darah yang normal pada manusia adalah 150.000-450.000 trombosit per mikroliter (mcL). Trombositosis berarti kondisi berupa kelainan pada tingginya jumlah trombosit yang diproduksi oleh tubuh peningkatan jumlah trombosit yang lebih dari 450.000 per microliter darah. Trombositosis merupakan salah satu penyebab utama kondisi penggumpalan darah.

Kondisi ini dapat terpicu pula oleh penyakit lain yang sudah dimiliki atau diderita sebelumnya sehingga pemeriksaan awal dapat turut menentukan jenis trombositosis apa yang dialami pasien.

Apa saja yang dapat menyebabkan terjadinya Trombositosis?

Trombositosis disebabkan karena sumsum tulang belakang mengalami kelainan sehingga menghasilkan begitu banyak sel yang membentuk trombosit dan melepaskan banyak trombosit dalam darah. Trombosit memegang peranan penting dalam pembekuan darah pada saat terjadi pendarahan atau luka. Bila trombosit berlebihan, lama kelamaan berpeluang menimbulkan kanker, kehilangan darah akut, kekurangan zat besi atau anemia.

Trombositosis dibagi menjadi dua, primer dan sekunder. Trombositosis primer yaitu trombosit yang diproduksi tubuh secara berlebihan dan trombosit sekunder yaitu adanya penyakit lain (perdarahan, infeksi, kanker,gt;radang usus dan lain-lain) yang mengakibatkan tubuh bereaksi dengan menghasilkan trombosit lebih banyak.

Apa saja tanda dan gejala dari Trombositosis?

Penderita trombositosis biasanya berusia  50-70 tahun, insidensi tidak berbeda antara laki-laki dan perempuan. Pada beberapa penelitian, trombositosis dilaporkan ditemukan pada usia muda dan anak-anak. Pada umumnya seseorang baru mengetahui dirinya mengalami trombositosis saat dokter melakukan pemeriksaan darah rutin, dan ditandai dengan kenaikan trombosit. Berikut tanda dan gejala yang dapat ditemukan pada penderita dengan trombositosis:

Perlu Anda ketahui trombositosis juga dapat menimbulkan pembekuan darah yang tidak normal, sehingga memicu serangan jantung, stroke, atau gumpalan darah. Jika terdapat tanda dan gejala seperti yang telah disebutkan diatas dan berlangsung lama, maka segera konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Bagaimana cara menangani penderita dengan Trombositosis?

Pada umumnya pengobatan trombositosis dilakukan sesuai jenisnya. Penderita trombositosis yang tidak mengalami gejala dan kondisinya stabil hanya memerlukan pemeriksaan secara rutin. Mengetahui penyebab utama dari trombositosis sangat penting dalam memberikan pengobatan yang tepat. Pengobatan yang biasa diberikan pada penderita trombositosis yaitu:

  • Obat antitrombosit. Aspirin merupakan obat antitrombosit yang sangat efektif pada penderita trombositosis dengan komplikasi trombosis rekuren, terutama iskemi digital atau serebrovaskuler. Kinerja obat aspirin adalah untuk mengganggu pembekuan darah. 
  • Obat penurun jumlah trombosit. Di antaranya adalah hydroxyurea untuk menekan produksi sel darah pada sumsum tulang, anagrelide, serta interferon alfa yang diberikan dalam bentuk suntikan.
  • Platelet pheresis. Prosedur ini biasanya dianjurkan apabila produksi trombosit tidak dapat secara cepat dikurangi dengan penggunaan obat. 
  • Transplantasi sumsum tulang. Prosedur ini dilakukan jika pengobatan lain tidak dapat mengatasi gejala. Transplantasi sumsum tulang dapat disarankan jika penderitanya masih dalam usia muda dan memiliki donor yang cocok.

Penderita trombositosis yang berusia lebih tua memiliki kecenderungan terkena komplikasi yang serius jika tidak segera ditangani. Penderita trombositosis primer khususnya dan orang yang pernah mengalami penggumpalan darah atau pendarahan juga rentan dengan komplikasi tertentu, seperti stroke, serangan jantung,perdarahan dan lain-lain.

Oleh karena itu penting untuk Anda memeriksakan darah rutin khusunya kadar trombosit Anda, terutama bila Anda memiliki riwayat pembekuan atau penggumpalan darah disertai dengan tanda dan gejala yang telah disebutkan sebelumnya. Semoga bermanfaat.


8 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Lieveld, et al. MSD Manual (2018). Primary Thrombocythemia (Essential Thrombocythemia, Primary Thrombocythemia). (https://www.msdmanuals.com/professional/hematology-and-oncology/myeloproliferative-disorders/essential-thrombocythemia)
Mayo Clinic (2018). Disease and Conditions. Thrombocytosis (https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/thrombocytosis/symptoms-causes/syc-20378315)

Artikel ini hanya sebagai informasi awal mengenai kondisi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Pertanyaan dan jawaban lain tentang kondisi ini
Buka di app