Syringomyelia - Tanda, Penyebab, Gejala, Cara Mengobati

Dipublish tanggal: Jan 9, 2019 Update terakhir: Nov 5, 2020 Tinjau pada Feb 28, 2019 Waktu baca: 3 menit

Syringomyelia adalah penyakit langka yang menyerang sumsum tulang belakang. Orang yang mengalami syringomyelia biasanya mengeluh nyeri leher dan menjalar hingga ke punggung. Sebelum Anda mencari cara mengobatinya, sebaiknya ketahui dulu penyebab dan gejala syringomyelia berikut ini.

Apa itu syringomyelia?

Syringomyelia merupakan kista yang berisi cairan serebrospinal yang terletak di sumsum tulang belakang. Kista syringomyelia ini menekan korda spinalis di tulang belakang sehingga menimbulkan nyeri.

Sumsum tulang belakang merupakan saraf yang menjalar dari otak hingga ke tulang sakrum. Sumsum tulang belakang memulai impuls dari sistem saraf pusat dan menyebarkannya ke seluruh tubuh. Fungsinya adalah untuk mengontrol reflek gerakan dan menerima rangsangan ke dalam tubuh.

Syringomyelia paling banyak ditemukan pada usia dewasa yaitu sekitar 25 hingga 45 tahun. 

Mengenai syringomyelia

Penyebab

Terjadinya syringomyelia dapat dikaitkan oleh berbagai faktor, mulai dari riwayat genetik hingga penyakit gangguan saraf. Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan terjadinya syringomyelia antara lain:

  • Malformasi Chiari, yaitu suatu kelainan jaringan otak yang menimbulkan hambatan aliran cairan serebrospinal hingga membentuk syringomyelia.
  • Meningitis, yaitu suatu penyakit infeksi yang mengenai meninges otak. Meningitis terjadi akibat infeksi Meningococcus, CMV, dan Pneumococcus sehingga menimbulkan gejala seperti kaku, fofofobia, dan sakit kepala.
  • Trauma. Trauma di kepala dan leher hingga perdarahan bisa menyebabkan syringomyelia. Trauma sumsum tulang belakang juga dapat memicu terjadinya syringomyelia setelah beberapa bulan pasca trauma.
  • Riwayat Genetik. Riwayat genetik bersifat autosomal resesif yang diturunkan ke generasi berikutnya.
  • Tumor di bagian tulang belakang, dapat menganggu aliran cairan serebrospinal dan saraf-saraf sekitar sehingga dapat berisiko memicu syringomyelia.

Gejala

Gejala syringomyelia muncul secara perlahan. Munculnya gejala disebabkan oleh adanya penekanan pada saraf kecil di tulang belakang akibat kista.

Beberapa tanda dan gejala syringomyelia di antaranya:

  • Kelemahan otot tubuh
  • Kehilangan reflek rangsang, seperti sensasi raba dan suhu
  • Kaku pada leher, lengan, dan pundak
  • Nyeri di sekitar leher yang menjalar hingga ke punggung
  • Gangguan buang air kecil
  • Kelemahan pada tungkai kaki 
  • Skoliosis

Komplikasi bisa saja terjadi apabila penanganan tidak segera dilakukan atau gejala dibiarkan memburuk. Komplikasi syringomyelia antara lain:

  • Mielopati, yaitu gangguan fungsi saraf sumsum tulang belakang yang mempengaruhi reflek sensorik dan motorik tubuh
  • Nyeri hebat di sepanjang tulang punggung
  • Skoliosis
  • Gagal napas
  • Otot kaki lemah dan kaku

Pencegahan syringomyelia

Ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk mencegah gejala syringomyelia semakin parah, yaitu:

Hindari aktivitas terlalu berat

Anda tidak disarankan untuk mengangkat barang berat bila ingin terhindar dari risiko syringomyelia. Aktivitas ini memberikan tekanan berlebihan pada tulang punggung, sehingga berisiko menimbulkan gejala syringomyelia.

Lakukan terapi fisik

Menjalani terapi fisik bisa membantu Anda terhindar dari syringomyelia. Terapi fisik bermanfaat untuk mencegah nyeri, kelemahan, atau kekakuan otot-otot tubuh. Dengan begitu, gejala syringomyelia bisa ditekan sedini mungkin.

Pengobatan syringomyelia

Anamnesis dan pemeriksaan neurologis sangat penting untuk mendeteksi syringomyelia. Dokter akan memeriksa adanya kelemahan otot-otot motorik, terutama di ekstremitas tangan dan kaki. Dokter juga akan mengecek refleks perabaan dan suhu tubuh pasien.

Pemeriksaan penunjang lainnya yang juga penting untuk melihat kelainan struktur organ antara lain:

  • MRI. Tujuannya untuk melihat adanya kelainan dalam tubuh, mulai dari penekanan saraf, penumpukan atau pemanjangan kista, hingga tumor. Pemeriksaan MRI merupakan pencitraan paling baik karena menghasilkan gambaran detail melalui pancaran gelombang magnetik.
  • CT-scan. Dilakukan untuk mendeteksi adanya kelainan saraf dan kista di sumsum tulang belakang.

Jenis pengobatan penyakit syringomyelia ditentukan berdasarkan tingkat keparahan gejala dan komplikasi. Dengan pengobatan yang tepat, gejala syringomyelia dapat semakin berkurang dan mencegah komplikasi lebih berat.

Pilihan utama untuk mengobati syringomyelia adalah tindakan operasi kraniektomi. Operasi ini dilakukan untuk mengurangi penumpukan kista dan membuka hambatan cairan serebrospinal.

Operasi dengan sistem drainase mungkin juga dilakukan untuk mengeluarkan cairan serebsropinal yang ada di dalam kista. Setelah itu, pasien akan diberikan obat antibiotik guna mencegah infeksi pasca operasi.

Sebelum prosedur operasi, pasien diminta untuk lebih banyak istirahat dan menghindari akitivitas fisik yang berat. Salah satunya adalah hindari mengangkat beban berat. Aktivitas ini dapat memicu penekanan saraf akibat ketidakstabilan aliran cairan di sumsum tulang belakang.

Fisioterapi dapat diterapkan sebelum dan setelah operasi untuk mengembalikan kekuatan otot dan reflek saraf yang bermasalah. Terapi ini dilakukan secara bertahap dan rutin sesuai dengan jadwal yang ditentukan oleh dokter saraf.


10 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Lowth, M. Patient (2014). Syringomyelia and Syringobulbia. (https://patient.info/doctor/syringomyelia-and-syringobulbia)
Jallo, G. Medscape (2015). Neural Tube Defects. (https://emedicine.medscape.com/article/1177162-overview)
Krause, L. Healthline (2017). Syringomyelia. (https://www.healthline.com/health/syringomyelia)

Artikel ini hanya sebagai informasi awal mengenai kondisi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Pertanyaan dan jawaban lain tentang kondisi ini
Buka di app