Sering Menimbun Barang Penyebabnya Mungkin Lebih Serius dari Perkiraan

Dipublish tanggal: Sep 21, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Waktu baca: 3 menit

Kebiasaan menimbun barang yang tidak rapi dan tidak terpakai lagi sehingga membuat rumah seakan sesak dan penuh bisa menjadi berbahaya. 

Selain itu merupakan sesuatu yang buruk, bisa jadi itu merupakan suatu kelainan dan gangguan kejiwaan yang perlu ditangani dengan serius.

Iklan dari HonestDocs
Beli BLACKMORES CELERY 7000 via HonestDocs

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Blackmores celery 7000 120 1

Barang-barang yang ditimbun bisa berupa buku, koran, benda kenangan, pakaian, struk belanja, alat rumah tangga, kantong plastik, tanaman, bahkan hewan dan makanan sampai barang rongsokkan yang tidak layak untuk disimpan. 

Karena terlalu banyak, barang ini tidak tersusun lagi dengan rapi. 

Orang-orang yang menimbun biasanya beralasan karena barang tersebut mempunyai sejarah di masa lalu, mempunyai makna yang mendalam mungkin merupakan hadiah spesial dari orang tersayang, dan mungkin berguna pada masa yang akan datang atau tidak rela kalau barang itu dibuang. 

Berikut tanda-tandanya

Orang yang menimbun barang sangat berbeda dengan para pekerja kolektor barang yang bisa menjaga dan membersihkan barang koleksinya yang memang mempunyai makna dan kegunaan dengan baik. 

Seorang penimbun hanya menimbun barang begitu saja tanpa merawat dan mengaturnya dengan rapi. Ini menyebabkan keadaan rumah menjadi sempit dan mengundang banyak penyakit datang. 

Penyakit ini datang bisa saja karena debu yang bertumbuh, banyak hewan kecil seperti kecoak, tikus yang bersarang di barang-barang yang ditimbun. 

Iklan dari HonestDocs
Beli BLACKMORES CELERY 7000 via HonestDocs

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Blackmores celery 7000 120 1

Penyakit yang datang ini bukan hanya membahayakan sang penimbun, tetapi juga semua penghuni rumah. 

Jangan main-main dengan menimbun barang, karena ini juga bisa berakibat fatal sampai pada terjadi konflik keluarga, perceraian, menghambat perkembangan anak dan tidak mendapatkan hak asuh anak. 

Tanda-tanda seseorang yang suka nmenimbun barang, perilakunya akan:

  • Susah membuang benda yang sebenarnya tidak dibutuhkan.
  • Gelisah dan sampai bisa marah jika barang yang sudah ditimbun itu dibuang atau dirapikan. 
  • Berburuk sangka kepada orang lain kalau menyentuh barangnya.
  • Selalu membeli barang bekas yang tidak penting dan menyimpannya, walaupun rumah sudah sempit. 
  • Selalu ingin sempurna, susah mengambil keputusan, susah mengatur dan merencanakan sesuatu, menghindar dan suka menunda-nunda. 

Mengapa orang menimbun barang?

Alasan kenapa orang suka menimbun sebenarnya belum diketahui. 

Tetapi beberapa kasus mengatakan orang yang suka menyimpan barang adalah orang yang pernah merasakan ditinggalkan oleh orang yang paling disayang, mengalami trauma dan memang mempunyai saudara yang suka menimbun. 

Kebiasaan ini juga berhubungan juga dengan seseorang yang tidak peduli akan diri sendiri, yaitu orang dengan keadaan tertentu contohnya tidak memiliki teman hidup, mempunyai masa kecil yang suram, atau seseorang yang dibesarkan dilingkungan berantakan. 

Iklan dari HonestDocs
Beli BLACKMORES CELERY 7000 via HonestDocs

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Blackmores celery 7000 120 1

Menimbun barang menurut mereka adalah salah satu cara agar merasa tenang dan aman. 

Selain itu, suka menimbun juga merupakan hal buruk karena berkaitan dengan kecanduan belanja. Fungsi otak terganggu dan kelainan genetik juga mejadi salah satu faktor penyebab.

Menimbun barang juga berhubungan dengan keadaan-keadaan ini:

  • Demensia,
  • Obsessive compulsive disorder (OCD),
  • Depresi
  • Perhatian terganggu dan terlalu aktif, atau attention deficit/hyperactivity disorder (ADHD)
  • Psikosis.

Cara mengatasi perilaku menimbun barang

Orang yang suka menimbun barang termasuk dalam kelainan yang biasa disebut hoarding disorder. Ini biasanya berawal dari masa remaja atau dewasa muda dan akan semakin parah setelah suka menimbun sampai pada usia lanjut.

Meskipun tidak mengganggu, tidak banyak orang yang menyadari kalau ini adalah kelainan. 

Ada yang sadar, tetapi  tidak ingin berkonsultasi dengan dokter atau psikiater, biasanya karena tidak ingin orang tahu dan merasa aneh dengan diri sendiri dan bertanya-tanya apakah benar ada kelainan seperti itu. 

Walaupun belum diketahui cara menyembuhkannya, tetapi beberapa penanganan bisa membantu untuk mengurangi stress dan mengurangi kebiasaan penderita untuk menimbun. 

Ini juga bisa membantu penderita untuk bisa mengatur dan memilih barang mana yang dibutuhkan dan mana yang tidak. Cara mengobati yang lain adalah dengan psikoterapi, terapi perilaku kognitif bisa juga dengan obat-obat antidepresi.

Fungsi dari terapi perilaku kognitif dapat membantu:

  • Berlatih untuk bisa memilih barang dan mengambil keputusan sendiri tentang apa yang ingin dilakukan.
  • Membuat penderita sadar dan mengetahui apa alasannya mereka menimbun barang. Perlu diketahui terapis ini tidak akan membantu membuang barang yang ditimbun, tetapi melatih penderita untuk membuangnnya sendiri sebagai tanda terapi berhasil.
  • Melatih agar penderita tidak menimbun lebih banyak barang lagi di rumah. 

Satu hal yang paling penting bagi penderita ini adalah dukungan dari orang-orang tercintanya untuk mendampingi dan memberi semangat agar penderita bisa berubah. 

Karena mungkin penderita selama ini merasakan kesepian dan merasa sendiri, sehingga dia meluapkan kesendiriannya dengan menimbun barang sebanyak mungkin. 


22 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Morris SH, et al. Hoarding in children and adolescents: A review. Child Psychiatry and Human Development. 2016;47:740.
Ale CM, et al. Family-based behavioral treatment of pediatric compulsive hoarding: A case example. Clinical Case Studies. 2014;13:9.
Tolin DF, et al. Cognitive behavioral therapy for hoarding disorder: A meta-analysis. Depression and Anxiety. 2015;32:158.

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app