Perubahan Perilaku Akibat Stroke

Dipublish tanggal: Jun 9, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Waktu baca: 3 menit
Perubahan Perilaku Akibat Stroke

Stroke dapat menyebabkan banyak perubahan yang membingungkan dalam emosi dan perilaku seseorang. Seseorang yang mengalami stroke bisa tampak seperti orang yang sama sekali berbeda dari sebelum stroke. 

Saat seseorang mengalami stroke, terjadi kerusakan pada sel saraf yang terjadi di otak. Otak merupakan organ vital yang memiliki banyak fungsi, salah satunya adalah mengatur perilaku dan emosi. 

Oleh karena itu perubahan perilaku dan emosi yang terjadi kemungkinan besar dapat disebabkan oleh kerusakan otak pasca stroke.

Serangan stroke yang sebelumnya terjadi juga dapat menyebabkan gangguan emosional seperti depresi, kemarahan, dan frustasi. Pasien stroke dan anggota keluarga mungkin akan mengalami tahap-tahap kesedihan (penolakan, kemarahan, tawar-menawar, depresi, dan penerimaan). 

Anggota keluarga juga mungkin mengalami kesedihan karena hubungan mereka dengan pasien tidak dapat seperti sebelumnya.

Beberapa jenis perubahan perilaku akibat stroke dan cara mengatasinya

Memahami dan menangani perubahan perilaku akibat stroke sama pentingnya dengan menangani masalah fisik dalam proses rehabilitasi.

Walaupun perubahan perilaku biasanya disebabkan oleh kerusakan sel saraf otak, perubahan perilaku juga seringkali terjadi karena dampak emosional dari stroke. Stroke adalah peristiwa traumatis, dan dapat membuat seseorang mengalami depresi.

Seringkali, emosi dapat mereda begitu seseorang yang mengalami stroke dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan barunya. Selama fase penyesuaian, berikut adalah beberapa perubahan perilaku umum yang terjadi:

1. Perubahan suasana hati setelah Stroke

Penderita stroke, seringkali mengalami perubahan suasana hati dengan sangat cepat. Kadang-kadang, perubahan suasana hati yang begitu cepat merupakan respon dalam menghadapi tantangan dalam pemulihan stroke yang seringkali (sering intens). 

lain waktu, perubahan suasana hati dapat disebabkan oleh kerusakan pada pusat emosi otak, sehingga mengakibatkan kondisi yang dikenal sebagai emosi yang labil. Emosi yang labil dapat menyebabkan perubahan perilaku.

Cara untuk mengatasinya: Psikologi positif, meditasi, terapi bicara, pengobatan, istirahat yang cukup, dan nutrisi yang baik.

2. Perilaku tidak pantas atau tidak rasional setelah stroke

Biasanya orang-orang terdekat akan merasa khawatir ketika orang yang mereka kasihi bertindak tidak biasa atau tidak rasional setelah mengalami stroke. Perubahan ini kemungkinan disebabkan oleh gangguan pada bagian otak yang mengendalikan penalaran.

Pada sebagian besar kasus, kondisi ini akan membaik dengan sendirinya. Sedangkan pada beberapa kasus lainnya, kondisi ini tidak akan membaik dan membutuhkan pelatihan fungsi kognitif untuk melatih otak.

Perilaku yang tidak pantas yang berlangsung secara kronis dan bertambah parah merupakan tanda "stroke demensia." Kondisi ini dikenal sebagai demensia vaskular. Kondisi ini merusak fungsi kognitif yang meliputi : penalaran, perencanaan, penilaian, dan memori setelah stroke.

Penting untuk diketahui bahwa tidak semua gangguan kognitif adalah tanda demensia.

Cara untuk mengatasinya: Pelatihan kognitif, meditasi, pengobatan, dan diet sehat untuk pasien stroke

3. Perilaku aneh setelah stroke

Terkadang, perilaku aneh terjadi karena pemulihan stroke membutuhkan upaya yang sangat melelahkan. Para penderita stroke membutuhkan tenaga dan upaya yang lebih untuk menjalani kegiatan “normal” yang merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. 

Hari normal bisa terasa sangat melelahkan, dan ini bisa menyebabkan timbulnya perilaku aneh. 

Sangat penting untuk memiliki empati terhadap penderita stroke selama pemulihan. Ingatlah bahwa hal-hal yang “normal” bagi Anda (jika Anda seorang pengasuh) sebenarnya melelahkan bagi seseorang yang mencoba untuk memulihkan otak.

Cara untuk mengatasinya: Pelatihan kognitif, istirahat yang cukup, meditasi, dan terapi bicara

4. Pelupa dan cuek

Terkadang stroke mempengaruhi daya ingat dan perhatian, sehingga dapat menyebabkan penderita stroke menjadi pelupa atau cuek. Kelupaan seringkali merupakan akibat dari gangguan fungsi kognitif setelah stroke. Kondisi ini dapat membaik dengan waktu dan latihan.

Sikap cuek bisa menjadi tanda hemineglect setelah stroke, di mana penderita stroke tidak melihat hal-hal di lingkungan mereka di sisi yang terkena. Misalnya, jika Anda mendekati seseorang yang mengalami stroke otak kanan di sisi kiri mereka, mereka mungkin bahkan tidak memperhatikan Anda. Kondisi ini juga bisa hilang seiring waktu dan latihan.

Cara untuk mengatasinya: pelatihan daya ingat, pelatihan perhatian, dan meditasi

5. Kemarahan, depresi, dan kecemasan

Terakhir, emosi negatif seperti kemarahan, depresi, dan kecemasan sangat umum terjadi setelah stroke. Emosi ini sering terjadi ketika penderita stroke berusaha untuk menyesuaikan dengan kehidupan baru mereka.

Ketika Anda menempatkan diri pada posisi penderita stroke, mudah untuk melihat mengapa emosi negatif bisa meluap. Anda pada dasarnya mempelajari kembali bagaimana melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari seolah-olah untuk pertama kalinya, dan itu bisa sangat membuat frustasi.

Cara untuk mengatasinya: Psikologi positif, perhatian, meditasi, dan pengobatan


2 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Personality Changes Caused by a Stroke. Verywell Health. (https://www.verywellhealth.com/personality-changes-caused-by-a-stroke-4112351)

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Buka di app