Doctor men
Ditulis oleh
HONESTDOCS EDITORIAL TEAM

Skizofrenia - Penyebab, Gejala, dan Pengobatan

Update terakhir: DEC 9, 2019 Waktu baca: 4 menit
Telah dibaca 1.266.152 orang

Skizofrenia adalah suatu gangguan kejiwaan yang paling sering terjadi pada seseorang yang berusia di antara 16 hingga 30 tahun. Skizofrenia pada laki-laki, lebih sering terjadi pada usia yang sedikit lebih muda daripada perempuan. 

Dalam kebanyakan kasus, skizofrenia berkembang sangat lambat sehingga biasanya seseorang tidak menyadari jika mereka mengalami skizofrenia selama bertahun-tahun. Namun, dalam kasus lain, skizofrenia bisa terjadi secara tiba-tiba dan berkembang dengan cepat.

Iklan dari HonestDocs
Mau Pesan Obat? Beli Aja via HonestDocs!

Klik di sini dan beli obat via HonestDocs, langsung dapat GRATIS ongkir* ke seluruh wilayah Indonesia!

Iklan obat

Skizofrenia mempengaruhi sekitar 1 persen dari semua orang dewasa, secara global. Para ahli mengatakan skizofrenia mungkin sulit dibedakan dengan penyakit dengan gejala yang serupa.

Apa Penyebab Seseorang Mengalami Skizofrenia?

Para ahli percaya ada beberapa faktor umum yang dapat berkontribusi terhadap timbulnya skizofrenia. Beberapa bukti menunjukkan bahwa skizofrenia dipengaruhi oleh faktor genetik dan faktor lingkungan. Di bawah ini adalah faktor-faktor yang dianggap berkontribusi terhadap timbulnya skizofrenia:

  • Genetik
  • Ketidakseimbangan zat kimia di otak
  • Faktor lingkungan
  • Skizofrenia yang diinduksi obat

Tanda dan Gejala Skizofrenia

Gejala dan tanda-tanda skizofrenia akan bervariasi, tergantung pada masing-masing individu. Gejala skizofrenia diklasifikasikan menjadi empat kategori:

  • Gejala positif - juga dikenal sebagai gejala psikotik. Misalnya, delusi dan halusinasi.
  • Gejala negatif - Misalnya, tidak adanya ekspresi wajah atau kurangnya motivasi.
  • Gejala kognitif - hal ini mempengaruhi proses berpikir. Seseorang dengan gejala kognitif, mungkin memiliki gejala positif atau negatif, misalnya, konsentrasi yang buruk adalah gejala negatif.
  • Gejala emosional - ini biasanya gejala negatif, seperti emosi tumpul.

Di bawah ini adalah daftar gejala utama skizofrenia:

  • Delusi - delusi atau waham adalah keyakinan salah, yang dapat muncul dalam banyak bentuk, seperti delusi penganiayaan, atau delusi keagungan. Mereka mungkin merasa orang lain berusaha mengendalikan mereka dari jarak jauh. Atau, mereka mungkin berpikir mereka memiliki kekuatan dan kemampuan luar biasa.
  • Halusinasi - halusinasi dapat muncul dalam bentuk pendengaran, penglihatan, merasakan, atau mencium hal-hal yang tidak ada, namun, orang dengan skizofrenia mungkin mengalami berbagai macam halusinasi.
  • Gangguan pikiran - orang tersebut dapat melompat dari satu subjek ke subjek lainnya tanpa alasan yang logis. Seseorang dengan gangguan isi pikir, mungkin sulit untuk diikuti atau dimengerti.

Gejala lain mungkin termasuk:

  • Kurangnya motivasi (avolition) - pasien kehilangan motivasi untuk menjalani kehidupan sehari-hari, seperti mencuci dan memasak.
  • Ekspresi emosi yang buruk - respons terhadap peristiwa bahagia atau sedih mungkin berkurang, atau tidak tepat.
  • Penarikan sosial - ketika seorang pasien dengan skizofrenia menarik diri secara sosial, seringkali mereka percaya jika seseorang akan membahayakan mereka.
  • Ketidaksadaran jika mereka menderita penyakit - karena halusinasi dan delusi tampak begitu nyata bagi pasien, banyak dari mereka mungkin tidak percaya bahwa mereka sakit. Mereka mungkin menolak minum obat karena takut efek samping, atau takut obat itu beracun.
  • Gangguan kognitif - kemampuan pasien untuk berkonsentrasi, mengingat hal-hal, merencanakan ke depan, dan mengatur kehidupan mereka menjadi terganggu, sehingga menyebabkan komunikasi menjadi lebih sulit.

Apakah Skizofrenia Dapat Dicegah?

Skizofrenia dipengaruhi oleh berbagai faktor, yang mana salah satu faktornya adalah genetik, sehingga membuat kondisi ini sulit untuk dicegah. Anda dapat mengurangi risiko terjadinya skizofrenia dengan menghindari kejadian-kejadian yang bersifat traumatik atau menghindari penyalahgunaan obat-obatan dan alkohol.

Bagaimana Skizofrenia Ditangani?

Kriteria diagnosis skizofrenia

Jika Anda menemukan diri Anda atau orang terdekat menunjukan gejala-gejala seperti di atas, segera periksa ke dokter atau dokter spesialis kejiwaan. Dokter dapat mengidentifikasi jika seseorang menderita skizofrenia berdasarkan dengan kriteria dari DSM 5. 

Seseorang yang diduga menderita skizofrenia harus memenuhi kriteria yang diuraikan dalam DSM 5 (Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental). Ini adalah panduan Asosiasi Psikiatri Amerika yang digunakan oleh para profesional kesehatan untuk mendiagnosis penyakit dan kondisi mental.

Dokter perlu menyingkirkan kemungkinan gangguan kesehatan mental lainnya, seperti gangguan bipolar atau gangguan skizoafektif. Selain itu juga penting untuk memastikan bahwa tanda dan gejala yang muncul tidak disebabkan oleh, gangguan mental organik seperti IQ rendah atau penyalahgunaan obat-obatan.

Iklan dari HonestDocs
Mau Pesan Obat? Beli Aja via HonestDocs!

Klik di sini dan beli obat via HonestDocs, langsung dapat GRATIS ongkir* ke seluruh wilayah Indonesia!

Iklan obat

Pasien harus:

Memiliki setidaknya dua dari gejala khas berikut:

  • delusi
  • perilaku tidak teratur atau katatonik
  • ucapan yang tidak jelas
  • halusinasi
  • gejala negatif yang muncul selama 4 minggu terakhir
  • Mengalami gangguan untuk menjalani tugas atau pekerjaan sehari-hari.
  • Memiliki gejala yang bertahan selama 6 bulan atau lebih.

Pengobatan

Skizofrenia tidak dapat disembuhkan Pengobatan skizofrenia dapat membantu meringankan banyak gejala skizofrenia. Namun, sebagian besar pasien dengan gangguan tersebut harus mengatasi gejala seumur hidup mereka.

Psikiater mengatakan pengobatan yang paling efektif untuk pasien skizofrenia biasanya terdiri dari kombinasi:

  • obat
  • Konseling Psikologi

Obat-obatan

Penggunaan obat-obatan adalah salah satu metode yang paling ampuh dan paling banyak digunakan hingga saat ini. Obat-obatan antipsikotik dapat digunakan untuk mengatasi skizofrenia. Secara garis besar, obat-obatan antipsikotik dibagi menjadi dua golongan, antipsikotik tipikal dan antipsikotik atipikal.

Obat Antipsikotik tipikal: Haloperidol dan Chlorpromazine. Obat antipsikotik tipikal lebih sering digunakan pada pasien dengan gejala positif yang lebih dominan, karena memiliki efek sedasi yang lebih kuat. Namun obat ini memiliki efek samping yang lebih banyak dibandingkan dengan obat antipsikotik atipikal.

Obat Antipsikotik atipikal:

  1. Risperidone
  2. Olanzapine
  3. Quetiapine
  4. Ziprasidone
  5. Clozapine

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Pertanyaan dan jawaban lain tentang kondisi ini

Punya pertanyaan? Tanyakan kepada dokter di bawah ini

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.
Submit