Doctor men
Ditulis oleh
HONESTDOCS EDITORIAL TEAM
Doctor men
Ditinjau oleh
DR SCIENTIA INU KIRANA ENWA SIWI

Difteri - Penyebab, Gejala dan, Pengobatan

Update terakhir: SEP 13, 2019 Tinjau pada SEP 13, 2019 Waktu baca: 5 menit
Telah dibaca 1.483.867 orang

Difteri adalah infeksi bakteri serius yang mempengaruhi selaput lendir tenggorokan dan hidung. Difteria biasanya menyebabkan sakit tenggorokan, demam,gt;bengkakan kelenjar dan lemas. 

Yang menjadi ciri khusus penyakit yang satu ini adalah adanya lapisan dinding rongga mulut yang tebal dan berwarna abu-abu yang menutupi bagian belakang tenggorokan Anda, yang bisa menghalangi jalangt;napas Anda, sehingga menyebabkan Anda kesulitan untuk bernapas. 

Meski mudah menyebar dari satu orang ke orang lain, difteri dapat dicegah melalui penggunaan vaksin.

Difteri termasuk penyakit yang berbahaya jika tidak diobati, karena bisa menyebabkan kerusakan parah pada ginjal, sistem saraf, dan jantung Anda. Pada 3% kasus. Difteri menyebabkan kematian.

Penyebaran wabah difteri sudah sedemikian meluas secara cepat di Indonesia.Pemerintah pun telah menyebut wabah tersebut sebagai kejadian Luar Biasa (KLB) karena menyebar di 142 kabupaten/kota di 28 Provinsi.

Jumlah korban meninggal pun kini telah bertambah menjadi 38 orang, sedangkan korban yang dirawat sebanyak 600 pasien. Dalam rentang waktu dari Januari hingga Desember 2017, kasus KLB difteri di Indonesia terhitung yang terbesar di dunia.

Difteria adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh toksin yang dikeluarkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae. Nama penyakit ini berasal dari diphthera Yunani, artinya “kulit bersembunyi”. 

Penyakit ini dijelaskan pada abad ke-5 Sebelum masehi oleh Hippocrates, dan penyebarannya dijelaskan di Abad ke 6 Masehi oleh Aetius. 

Bakteri pertama kali ditemukan oleh Klebs pada tahun 1883 dan dibudidayakan oleh Löffler pada tahun 1884. Antitoksin ditemukan pada akhir abad 19 dan toxoid dikembangkan pada tahun 1920an.

Apa Saja Gejalanya ?

Tanda dan gejala difteri biasanya mulai tampak dua sampai lima hari setelah seseorang terinfeksi oleh bakteri difteria. Berikut adalah gejala-gejalnya :

  • Lapisan tebal berwarna abu-abu menutupi tenggorokan dan amandel Anda
  • Sakit tenggorokan dan suara serak
  • Kelenjar bengkak (pembesaran kelenjar getah bening) di leher Anda
  • Kesulitan bernapas atau bernapas cepat
  • Produksi lendir hidung berlebih
  • Demam
  • Lemah dan Letih

Pada beberapa orang, infeksi difteri hanya menyebabkan penyakit ringan - atau tidak ada tanda dan gejala yang jelas sama sekali. 

Orang yang terinfeksi namun tidak mengetahui bahwa mereka terjangkit bakteri ini dan tidak menunjukan gejala klinis apapun dikenal sebagai Difteri Carrier ataun “pembawa difteri”, karena mereka bisa menyebarkan penyakit ini tanpa mereka sadari.

Dari lokasi tempat terjadinya infeksi bakteri Corynebacterium diphtheriae, Difteri bisa dikelompokan menjadi 4 jenis, yaitu:

  • Difteri pada hidung depan
  • Difteri pada amandel dan faring
  • Difteri bagian laring
  • Difteri pada kulit

Pada bagian ini, difteri sulit dibedakan dengan pilek biasa, karena gejalanya yang mirip seperti produksi lendir yang berlebih dan kepala yang terasa berat

Situs yang paling umum dari infeksi difteri adalah pada faring dan amandel. Inilah jenis difteri yang paling mudah dikenali karena memiliki ciri-ciri lapisan abu pada pangkal mulut.

Difteria laring dapat biasanya merupakan perpanjangan difteri dari difteri pada faring karena letaknya yang berdekatan.

difteri dapat mempengaruhi kulit, menyebabkan rasa nyeri yang khas, kemerahan dan pembengkakan yang terkait dengan infeksi kulit bakteri lainnya. Ulkus yang ditutupi oleh membran kelabu juga dapat diidentifikasi sebagai difteri kulit.

Meskipun lebih sering terjadi di daerah beriklim tropis, difteri kulit juga terjadi di Amerika Serikat, terutama di kalangan orang-orang dengan kebersihan buruk yang tinggal di dalam kondisi padat.

Penyebaran Bakteri Difteri

Bakteri Corynebacterium diphtheriae menyebabkan difteri. Biasanya C. diphtheriae berkembang biak atau tumbuh di dekat permukaan selaput lendir tenggorokan. C. diphtheriae menyebar melalui 2 rute:

  • Udara
  • Secara Langsung
  • Tidak melakukan vaksinasi lanjutan mereka.
  • Mengunjungi negara yang tidak memberikan imunisasi.
  • Memiliki gangguan sistem kekebalan tubuh, seperti orang denga HIV/AIDS.
  • Tinggal dalam lingkungan yang sangat padat.
  • Masalah pernapasan. 
  • Kerusakan jantung. 
  • Kerusakan saraf. 
  • Difteri hipertoksik. 

Penyebaran C. difteri yang paling umum adalah melalui udara, ketika seseorang yang terinfeksi, bersin atau batuk mereka akan melepaskan droplet yang terkontaminasi ke udara, dan meningkatkan kemungkinan orang-orang di dekatnya untuk menghirup C. diphtheriae.

Orang-orang terkadang terinfek difteri secara langsung dengan cara menyentuh bekas barang-barang orang yang terinfeksi, minum dari gelas orang yang terinfeksi atau melakukan kontak serupa dengan barang-barang seperti handuk atau mainan

Siapa Saja yang Beresiko Tertular Difteri?

Difteri masih cukup umum terjadi di negara berkembang dimana tingkat imunisasi rendah. Di negara-negara ini, anak-anak di bawah usia 5 tahun dan orang-orang berusia di atas 60 tahun berisiko terkena difteri.

Orang juga berisiko terjangkit difteri jika mereka:

Pengobatan Difteri

Difteri merupakan kondisi yang serius, maka dokter akan memberikan terapi dengan cepat dan agresif. Langkah pertama terapi adalah injeksi antitoksin. Injeksi antitoksin ini akan melawan toksin yang dihasilkan bakteri di dalam tubuh. 

Pastikan beritahu dokter jika Anda memiliki alergi terhadap obat tertentu.  Jika memang ada suatu alergi, maka dokter akan berhati-hati dalam pemberian antitoksin, dimulai dari dosis yang sedikit lalu meningkat sedikit demi sedikit. 

Dokter juga dapat meresepkan antibiotik seperti penisilin dan eritromisin, untuk membantu memberantas infeksi dalam tubuh. Untuk pencegahannya tersedia vaksin difteri yang diberikan bersamaan dengan tuberculosis,pertusis(batuk rejan).

Selama pengobatan, dokter juga dapat menyarankan untuk pasien opnam di rumah sakit di ruang isolasi sehingga pasien tidak akan berpotensi menularkan infeksi ke orang lain.

Komplikasi Difteria

Walaupun pengobatan dan vaksinasi sudah tersedia, jika tidak diobati, difteria bisa menjadi penyakit yang sangat berbahaya, karena jika tidak diobati dalam jangka waktu tertentu, difteria dapat menyebabkan berbagai macam komplikasi seperti :

Sel-sel yang mati akibat toksin yang diproduksi bakteri difteri akan membentuk membran abu-abu yang dapat menghambat pernapasan. Partikel-partikel membran juga dapat luruh dan masuk ke paru-paru. 

Hal ini berpotensi memicu reaksi peradangan pada paru-paru sehingga fungsinya akan menurun secara drastis dan menyebabkan gagal napas.

Selain paru-paru, toksin difteri berpotensi masuk ke jantung dan menyebabkan peradangan otot jantung atau miokarditis. 

Komplikasi ini dapat menyebabkan masalah, seperti detak jantung yang tidak teratur, gagal jantung, dan kematian mendadak.

Toksin dapat menyebabkan penderita mengalami masalah sulit menelan, masalah saluran kemih, paralisis atau kelumpuhan pada diafragma, serta pembengkakan saraf tangan dan kaki. 

Paralisis pada diafragma akan membuat pasien tidak bisa bernapas sehingga membutuhkan alat bantu pernapasan atau respirator. 

Paralisis diagfragma dapat terjadi secara tiba-tiba pada awal muncul gejala atau berminggu-minggu setelah infeksi sembuh. 

Karena itu, penderita difteri anak-anak yang mengalami komplikasi umumnya dianjurkan untuk tetap di rumah sakit hingga 1,5 bulan.

Komplikasi ini adalah bentuk difteria yang sangat parah. Selain gejala yang sama dengan difteri biasa, difteri hipertoksik akan memicu pendarahan yang parah dan gagal ginjal.

 

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Punya pertanyaan? Tanyakan kepada dokter di bawah ini

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.
Submit