Kapan Bayi Dapat Mengonsumsi Cokelat Dan Apakah Dapat Menyebabkan Masalah?

Ada baiknya untuk menunggu sampai bayi Anda berusia 24 bulan karena sistem pencernaan bayi mungkin belum cukup berkembang untuk memproses cokelat tanpa reaksi yang merugikan. Cokelat juga mengandung kafein dan theobromine, yang merupakan senyawa yang terkait dengan kafein.
Dipublish tanggal: Agu 30, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Tinjau pada Mar 27, 2020 Waktu baca: 3 menit
Kapan Bayi Dapat Mengonsumsi Cokelat Dan Apakah Dapat Menyebabkan Masalah?

Setiap orang tentunya menyukai cokelat. Dan anak-anak yang selalu tertarik pada cokelat, jadi, penting untuk mengetahui seberapa cepat bayi Anda bisa mengonsumsi cokelat. Artikel ini akan memberi tahu Anda kapan bayi Anda bisa mencicipi cokelat, dan memberi informasi mengenai cokelat untuk bayi.

Kapan bayi bisa makan cokelat?

Ada baiknya untuk menunggu sampai bayi Anda berusia 1 tahun karena sistem pencernaan bayi mungkin belum cukup berkembang untuk memproses cokelat tanpa reaksi yang merugikan. Cokelat juga mengandung kafein dan theobromine, yang merupakan senyawa yang terkait dengan kafein.

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Alergi via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 11

Theobromine hanya memiliki sepersepuluh efek dari kafein dan merupakan stimulan yang lemah. Tapi kandungan kafein yang terkandung dalam cokelat yang sering menjadi perhatian, bahkan untuk bayi yang berusia lebih dari enam bulan dan mampu makan makanan padat lainnya.

Namun, alasan tersebut tidak seharusnya menghentikan Anda dari memberikan cokelat kepada bayi Anda setelah 1 tahun, karena cokelat ternyata memiliki beberapa manfaat kesehatan.

Apakah cokelat baik untuk bayi Anda?

Betul! Cokelat dapat bermanfaat bagi bayi Anda dengan lebih dari satu cara. Berikut adalah beberapa manfaatnya:

  • Mendukung fungsi otak: Senyawa yang disebut flavanol, yang ditemukan secara alami dalam cokelat, membantu meningkatkan fungsi memori sekaligus meningkatkan kemampuan kognitif umum. 
  • Bermanfaat untuk sistem peredaran darah: Konsumsi cokelat secara teratur telah terbukti meningkatkan kinerja jantung dan pembuluh darah. Flavanol yang ditemukan dalam cokelat juga mencegah pembekuan darah dan meningkatkan sirkulasi darah.
  • Membantu mengurangi kerusakan sel: Cokelat kaya akan antioksidan, yang juga ditemukan di beberapa buah dan sayuran. Antioksidan ini meminimalkan kerusakan sel alami dan meningkatkan efisiensi berbagai fungsi sel.
  • Dapat meningkatkan suasana hati: Cokelat merangsang produksi neurotransmiter yang disebut endorfin, yang dikenal dapat menciptakan perasaan bahagia pada seseorang. Senyawa lain yang disebut serotonin, diketahui berkontribusi perasaan kesejahteraan dan kebahagiaan, juga secara alami ditemukan dalam cokelat.
  • Mengurangi kadar kolesterol jahat: Anda mungkin tidak khawatir dengan kolesterol pada bayi! Mengonsumsi cokelat dapat mengurangi kadar kolesterol LDL (kolesterol "jahat") dan meningkatkan kolesterol HDL (kolesterol "baik"). 

Apa cara terbaik untuk memperkenalkan coklat ke bayi?

Pakar kesehatan anak merekomendasikan susu cokelat, yang mungkin merupakan bentuk cokelat paling aman untuk bayi, daripada bentuk cokelat lainnya.

Alasannya adalah bahwa rata-rata, susu coklat kemasan hanya mengandung 5 mg kafein per 226 g dibandingkan dengan 160 mg yang ditemukan dalam cokelat hitam dengan berat yang sama. 

Bahkan cokelat susu mengandung sekitar 48 mg kafein dalam 226 g. Oleh karena itu, bayi akan memiliki asupan kafein yang lebih rendah saat mengonsumsi susu cokelat daripada cokelat asli. 

Iklan dari HonestDocs
Beli IMBOOST FORCE 10TAB 1 STRIP via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Imboost force tablet 4

Anda juga dapat mempertimbangkan untuk memilih susu formula cokelat, yang mengandung nutrisi formula dengan rasa cokelat. Saat memilih susu cokelat kemasan untuk bayi, pilih susu dengan gula rendah, tanpa pengawet, dan diperkaya dengan nutrisi.

Bisakah bayi mengonsumsi dessert cokelat?

Para ahli menyatakan bahwa tidak apa-apa bagi bayi untuk sesekali mengonsumsi makanan penutup atau dessert seperti cokelat hitam, kue cokelat, dan puding cokelat. Beberapa gigitan tidak mengandung cukup kafein yang dapat membahayakan bayi.

Apakah coklat buruk untuk bayi Anda?

Tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan efek negatif dari mengonsumsi cokelat. Mungkin satu-satunya risiko mengonsumsi cokelat terkait dengan tambahan gula dan kafein. Minum susu cokelat yang sarat gula dapat membuat bayi kelebihan berat badan atau obesitas

Anda dapat menghindarinya dengan memilih minuman cokelat rendah gula atau tanpa gula.

Sementara kandungan kafein dalam cokelat tetap menjadi perhatian, memberikannya dalam jumlah terbatas akan memastikan bahwa bayi menikmati cokelat tanpa risiko. 

Tidak ada batasan standar tentang jumlah cokelat yang bisa dimiliki bayi dalam sehari, tetapi para ahli merekomendasikan tidak lebih dari 45 mg kafein sehari untuk anak prasekolah.

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Alergi via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 11

Bisakah seorang bayi terkena alergi cokelat?

Ya, bayi bisa alergi terhadap cokelat. Cokelat dibuat dari biji tanaman Kakao, yang berpotensi menyebabkan reaksi alergi. 

Indikator alergi cokelat mirip dengan alergi makanan lainnya. Waspadai gejala seperti gatal-gatal kulit (ruam), kram perut, muntah, mual, pembengkakan wajah, dan kelesuan.

Kapan menghindari cokelat untuk bayi?

Jarang ada efek buruk dari mengonsumsi cokelat dalam jumlah moderat di kalangan bayi. Namun, sebaiknya hindari cokelat dalam beberapa situasi:

  • Sebelum tidur: Bahkan sedikit kafein sebelum tidur dapat membuat bayi lebih sulit tertidur. Jadi, hindari memberikan susu cokelat atau produk cokelat lainnya kepada bayi beberapa jam sebelum tidur.
  • Irritable bowel syndrome: Irritable bowel syndrome (IBS) adalah suatu kondisi akut yang ditandai dengan kembung perut kronis, kram perut dan perubahan tiba-tiba dalam kebiasaan buang air besar. Cokelat adalah salah satu makanan utama yang dapat memicu gejala IBS dan tidak boleh diberikan kepada bayi yang didiagnosis dengan masalah ini.
  • Gastroesophageal reflux (GERD): Cokelat bisa bersifat asam, dan memicu refluks asam pada bayi dengan GERD.

11 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Zeratsky, K. (2014, December 6). Can chocolate be good for my health? Retrieved from (http://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/nutrition-and-healthy-eating/expert-answers/healthy-chocolate/faq-20058044)
What FDA learned about dark chocolate and milk allergies. (2015, May 21).Retrieved from (http://www.fda.gov/ForConsumers/ConsumerUpdates/ucm433555.htm)
Murphy, M. M., Douglass, J. S., Johnson, R. K., Spence, L. A. (2008, April). Drinking flavored or plain Milk is positively associated with nutrient intake and is not associated with adverse effects on weight status in US children and adolescents. [Abstract]. Journal of the Academy of Nutrition and Dietetics, 108(4), 631-639.Retrieved from (http://www.andjrnl.org/article/S0002-8223(08)00005-9/abstract)

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app