Doctor men
Ditulis oleh
HONESTDOCS EDITORIAL TEAM

Kenali Penyakit ​Demam Kelenjar Penyebab,Gejala,dan Pengobatannya

Update terakhir: SEP 18, 2019 Waktu baca: 4 menit
Telah dibaca 1.308.908 orang

Demam Kelenjar - Penyebab, Gejala dan Pengobatan

Apa itu Demam Kelenjar?

Demam Kelenjar atau dapat disebut juga dengan Mononucleosis, merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh infeksi dari virus. Virus yang berperan dalam terjadinya penyakit ini adalah Epstein-Barr Virus (EBV). Biasanya, setelah terpapar dengan virus ini, virus akan memasuki tubuh dan mulailah periode inkubasi yang berlangsung dalam waktu 6 minggu hingga penderita akhirnya menunjukkan suatu gejala yang dapat di awali dengan demam dan kelelahan. 

Penyakit ini juga dikenal sebagai The Kissing Disease. Sesuai dengan sebutannya, virus ini dapat ditularkan melalui kontak langsung pada air liur dengan cara berciuman. Selain itu, virus ini juga dapat ditularkan melalui air liur yang terdapat pada gelas atau peralatan makan milik si penderita, bisa juga melalui droplets yang keluar saat bersinbersin.

Penyebab Penyakit Demam Kelenjar 

Penyebab dari kondisi Demam Kelenjar adalah Epstein-Barr Virus (EBV), namun tidak menutup kemungkinan juga bahwa ada beberapa virus lain yang bisa menyebabkan suatu demam kelenjar. Ditularkan melalui kontak langsung, selanjutnya virus ini akan mengakibatkan suatu infeksi pada sel – sel yang melapisi bagiangt;tenggorokan. 

Kemudian, infeksi dapat menyebar dalam sel darah putih melalui sistem limfatik pada tubuh manusia. Penyakit ini tidak memandang jenis kelamin dalam penyebarannya, jadi risiko terjadinya kasus ini pada laki – laki ataupun perempuan adalah sama. Pada kebanyakan kasus, orang dewasa yang terkena paparan Epstein-Barr Virus (EBV) akan membangun suatu antibodi paska infeksi ini seumur hidupnya, sehingga penderita tidak akan mengalami penyakit yang sama bila dirinya benar – benar telah sembuh dari penyakit ini.

Tanda dan gejala dari Penyakit Demam Kelenjar 

Perlu diketahui, tanda dan gejala yang dapat timbul antara lain, seperti:

  • Nyeri pada tenggorokan, terkadang kebal pada suatu pemberian antibiotik
  • Tubuh terasa lemas
  • Demam
  • Nyeri pada kepala
  • Nyeri otot
  • Ruam kulit
  • Kulit menguning
  • Penurunan nafsu makan
  • Amandel dapat mengalami pembengkakan 
  • Limpa dapat membengkak atau membesar
  • Kelenjar getah bening area ketiak maupun leher membesar
  • Jika untuk anak kecil, penyakit ini jarang menimbulkan dan memunculkan suatu gejala yang nyata, sehingga seringkali infeksi tidak dikenali

Pada sebagian besar kasus dewasa, penderita demam kelenjar umumnya dapat pulih dalam kurun waktu 2 – 3 minggu setelah gejala muncul. Hanya saja pada beberapa kasus, dapat pula terjadi dalam setahun, dengan tanda dan gejala yang muncul kambuh sesekali waktu. 

Berbagai tanda dan gejala bisa saja muncul bilamana mengalami kondisi ini, namun terkadang antara satu individu dengan lainnya tidak sama persis, karena dipengaruhi oleh sejauh manakah tingkat keparahan gejala, usia individu, jenis kelamin, pola hidup seseorang, faktor kebiasaan, genetik, dan asupan nutrisi

Tanda dan gejala yang dirasakan merupakan suatu pemeriksaan yang masuk dalam anamnesa. Pemeriksaan anamnesa sendiri bersifat subjektif, yaitu hanya pasien yang dapat merasakannya. Sehingga, dalam penegakkan suatu diagnosa tetap memerlukan pemeriksaan bersifat objektif, yaitu berdasarkan hasil pemeriksaan dan bukti nyata keterkaitan tanda gejala dengan penilaian dokter, adalah dengan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang terkait.

Pemeriksaan bagi pengidap Penyakit Demam Kelenjar

Penyakit demam kelenjar sendiri merupakan penyakit yang harus diperiksakan secara langsung ke dokter untuk dapat memastikan apakah sumber penyebab penyakit yang mendasarinya. Biasanya jika sumber permasalahan dasar kondisi yang menyebabkan keluhan sudah dilakukan, maka keluhan – keluhan demam kelenjar seiring dapat berkurang. Berikut adalah beberapa pemeriksaan yang mungkin dapat dilakukan seorang dokter bila Anda mengalami kondisi demam kelenjar ini, yaitu:

  • Pemeriksaan fisik. Pemeriksaan fisik yang biasa dilakukan adalah tanda – tanda vital, termasuk juga pemeriksaan kelenjar, hati, serta limpa yang bertujuan untuk menilai ada atau tidaknya pembengkakan
  • Pemeriksaan laboratorium darah. Bertujuan untuk menyingkirkan diagnosa banding seperti campak, cytomegalovirus, rubella, atau toksoplasmosis

Biasanya, dokter akan merekomendasikan salah satu atau beberapa pemeriksaan yang terkait dengan kondisi pasien. Tentunya juga disesuaikan dengan kebutuhan pasien itu sendiri.

Pengobatan yang bisa dilakukan bagi pengidap Penyakit Demam Kelenjar 

Pengobatan kondisi demam kelenjar sebaiknya dapat dilakukan sesegera mungkin bila diagnosa sudah ditegakkan. Pada umumnya, terapi yang diberikan berupa terapi suportif, karena perlu diketahui bahwa penyakit ini dapat pulih dengan sendirinya. 

Ada beberapa cara yang dapat dicoba untuk pengendalian bila mengalami kondisi ini, yaitu:

  • Menjaga kebutuhan asupan cairan guna mencegah terjadinya kondisi dehidrasi. Anda disarankan dapat banyak mengkonsumsi air putih
  • Hindari konsumsi alkohol. Sebaiknya tidak konsumsi minuman beralkohol pada saat sedang sakit, karena dapat saja memperberat kondisi sakit yang sudah ada
  • Istirahat yang cukup. Hindari berolahraga ataupun pekerjaan yang berat paling tidak dalam sebulan pertama paparan
  • Bila mengalami demam maka dapat konsumsi paracetamol. Jangan lupa untuk ukur suhu tubuh terlebih dahulu guna memastikan demam atau tidaknya
  • Cegah penyebaran penyakit ini. Hindari berciuman dulu, gunakan masker supaya saat bersin tidak menulari orang lain, dan hindari berbagi barang dengan orang lain
  • Kumur dengan air hangat dan juga garam. Tujuannya sebagai pereda nyeri area tenggorokan
  • Perhatikan setiap komplikasi yang mungkin saja dapat terjadi. Misalnya seperti limpa yang membengkak hingga pecah, sel darah putih menurun, terjadi anemia, kelelahan kronis, infeksi sekunder, hingga gangguan sistem saraf

Pencegahan yang dapat dilakukan agar terhindar dari Demam Kelenjar 

Penyakit ini dapat ditularkan dengan mudahnya, sehingga penting untuk kita mengetahui bagaimana kondisi seseorang bila mengarah kepada penyakit ini. Jagalah kebersihan diri Anda, mulai dari hal yang sederhana yaitu dengan mencuci tangan sebelum dan sesudah berkontak dengan orang lain. 

Hindari berciuman dengan penderita, menggunakan alat makan atau alat mandi si penderita, dan dapat menggunakan masker untuk perlindungan diri dari orang yang bersin – bersin di sekitar lingkungan Anda.


Referensi

Australian Government Department of Health. Health Direct. Glandular Fever.

Jain, N. et al. (2011). Epstein-Barr Virus and Associated Head and Neck Manifestations. Annals of Nigerian Medicine, 5(2), pp. 38041

Knott, L. Patient (2016). Glandular Fever.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Pertanyaan dan jawaban lain tentang kondisi ini

Punya pertanyaan? Tanyakan kepada dokter di bawah ini

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.
Submit