Mitos dan Fakta Seputar Ciri-Ciri dan Gejala Darah Tinggi

Dipublish tanggal: Feb 22, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Tinjau pada Jun 8, 2019 Waktu baca: 3 menit
Mitos dan Fakta Seputar Ciri-Ciri dan Gejala Darah Tinggi

Ada kesalahpahaman yang sudah sangat menyebar dalam masyarakat, bahwa penderita hipertensi pasti akan mengalami gejala seperti kegelisahan, berkeringat, sulit tidur, atau kemerahan pada wajah (facial flushing). Padahal, anggapan gejala darah tinggi tersebut mungkin saja menyesatkan dan hanya menakut-nakuti. 

Faktanya, sebagian besar darah tinggi justru berlangsung tanpa gejala. Jika Anda mengabaikan tekanan darah Anda dengan tidak memeriksakannya secara rutin hanya karena Anda merasa sehat, maka itu salah besar! Lantas, apa saja mitos dan fakta seputar gejala darah tinggi?

Mitos: sakit kepala adalah gejala darah tinggi

Faktanya, tekanan darah tinggi tidak menyebabkan sakit kepala. Hal ini terkecuali pada kasus krisis hipertensi, di mana tekanan darah sistolik (angka atas) lebih tinggi dari 180 ATAU diastolik (angka bawah) lebih tinggi dari 110.

Melalui sebuah peneltitian pada awal 1900-an, diasumsikan bahwa sakit kepala lebih sering dialami oleh orang dengan tekanan darah tinggi. Namun, penelitian subjek berikutnya tidak mendukung hal ini. Menurut penelitian, orang dengan tekanan darah tinggi yang mengalami sakit kepala justru lebih sedikit daripada populasi secara umum.

Pada sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Neurology, orang dengan tekanan darah sistolik yang lebih tinggi tenyata mengalami sakit kepala lebih rendah (hingga 40%) dibandingkan dengan orang yang memiliki tekanan darah normal.

Para peneliti juga mengamati pengukuran lain yang disebut tekanan nadi, yaitu pengukuran yang menggambarkan perubahan tekanan darah saat jantung berkontraksi. Tekanan nadi dihitung dengan rumus sistol - diastol. Hasilnya, ditemukan bahwa mereka yang memiliki tekanan nadi lebih tinggi mengalami lebih sedikit sakit kepala, bahkan penurunannya hingga 50%.

Dari berbagai penjelasan tersebut, sakit kepala bukanlah indikator yang dapat menggambarkan seberapa buruk tekanan darah Anda. Dengan kata lain, sakit kepala bukanlah gejala darah tinggi alias hipertensi yang perlu Anda percaya.

Mitos: mimisan adalah gejala darah tinggi

Kecuali pada kasus krisis hipertensi, mimisan juga bukan termasuk tanda atau ciri-ciri darah tinggi. Sebuah studi menyebutkan ada 17 persen orang yang mengalami krisis tekanan darah tinggi mengalami mimisan. Namun, sebanyak 83% lainnya dilaporkan tidak mengalami gejala seperti itu.

Mimisan dapat disebabkan oleh berbagai faktor, tapi lebih seringnya karena udara kering. Lapisan hidung mengandung banyak pembuluh darah kecil yang mudah berdarah. Ketika cuaca sedang terik atau berada di dalam ruangan yang panas, membran hidung akan menjadi kering dan membuat hidung lebih rentan terhadap perdarahan.

Penyebab mimisan juga bisa karena hal lain, seperti penyakit alergi, pilek, sinusitis atau septum menyimpang, hingga efek samping dari beberapa obat antikoagulan seperti warfarin (Coumadin®) atau aspirin.

Lebih lanjut baca: Penyebab Mimisan

Lantas, apa gejala darah tinggi yang benar?

Anda tidak bisa hanya mengandalkan gejala darah tinggi hanya dari tanda-tanda dalamt ubuh. Hal ini bisa berbahaya karena seperti yang dijelaskan sebelumnya, darah tinggi tidak memiliki gejala spesifik dan sulit diketahui tanpa pengukuran.

Ya, satu-satunya cara untuk mengetahui tekanan darah tinggi atau rendah adalah dengan cara melakukan pemeriksaan tekanan darah secara rutin. Terutama bagi Anda yang memiliki riwayat keluarga dengan hipertensi, jantung atau, stroke.

Baca Juga: Faktor Risiko Darah Tinggi.

Jika tekanan darah sangat tinggi (krisis hipertensi), baru akan muncul gejala berupa: 

  • Sakit kepala parah
  • Kegelisahan atau kebingungan
  • Gangguan penglihatan
  • Nyeri dada dan dada berdebar
  • Sesak napas atau napas pendek
  • Denyut jantung tidak teratur
  • Darah dalam urin
  • Mual dan muntah
  • Kejang
  • Kebingungan hingga pingsan

Jika Anda mengalami beberapa gejala darah tinggi (krisis hipertensi) tersebut, segeralah periksa ke dokter atau ke Unit Gawat Darurat (UG). Sebab bila dibiarkan terus-menerus, krisis hipertensi dapat menyebabkan serangan jantung atau stroke.

Hipertensi yang tidak segera diobati juga dapat menyebabkan penyakit serius, termasuk stroke, penyakit jantung, gagal ginjal, dan masalah mata. Oleh karena itu, diperlukan pemeriksaan rutin guna menegakkan diganosis dini dan menentukan perawatan yang tepat sesuai kondisi Anda.


45 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Goldman L, et al., eds. Alzheimer disease and other dementias. In: Goldman-Cecil Medicine. 25th ed. Philadelphia, Pa.: Saunders Elsevier; 2016. https://www.clinicalkey.com.
Natural medicines in the clinical management of hypertension. Natural Medicines. https://naturalmedicines.therapeuticresearch.com.
Cernes R, et al. Role of paced breathing for treatment of hypertension. Current Hypertension Reports. 2017;19:45.

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Buka di app