Benarkah Lari “Nyeker” Lebih Sehat Daripada Pakai Sepatu?

Dipublish tanggal: Agu 8, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Waktu baca: 3 menit
Benarkah Lari “Nyeker” Lebih Sehat Daripada Pakai Sepatu?

Beberapa kebudayaan meyakini bahwa berlari tanpa alas kaki adalah salah satu gaya hidup yang sehat. Beberapa orang mengklaim bahwa berlari tanpa alas kaki dapat meningkatkan biomekanik kaki dan mengurangi resiko terjadinya cedera. 

Sebuah penelitian juga telah menemukan bahwa efisiensi berlari meningkat sebesar 4% saat berlari tanpa alas kaki, walaupun masih ada kekurangan penelitian yang dirancang dengan baik membandingkan kejadian cedera pada pelari yang mengenakan sepatu dengan mereka yang berlari tanpa alas kaki.

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Langung Dikirim!

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads sept20

Pro dan kontra mengenai berlari tanpa alas kaki

Beberapa ahli setuju dengan pelari tanpa alas kaki, karena mereka meyakini bahwa memakai sepatu dapat melemahkan otot-otot kecil di kaki sehingga mencegah tendon, ligamen, dan mengurangi fungsi alami kelengkungan alami pada kaki. 

Beberapa ahli percaya bahwa penggunaan penggunaan sepatu dapat memperburuk biomekanik kaki dan meningkatkan risiko cedera tungkai, kaki, dan lutut.

Sedangkan beberapa ahli lain berpendapat bahwa dengan memilih sepatu yang tepat, pada kenyataannya dapat memperbaiki masalah biomekanik dan membantu mengurangi resiko terjadinya cedera. 

Beberapa orang juga berpendapat bahwa mengatasi nyeri kaki dapat dilakukan dengan berjalan bertelanjang kaki. Berjalan bertelanjang kaki direkomendasikan untuk mengatasi nyeri kaki sebagai solusi sederhana. 

Namun belum ada data penelitian yang dapat membuktikan keduanya, sulit untuk mengatakan apakah sepatu bermanfaat atau berbahaya bagi kesehatan kaki Anda. 

Kembali lagi pada individu masing-masing, lakukanlah apa yang nyaman menurut Anda.

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Langung Dikirim!

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads sept20

Manfaat berlari bertelanjang kaki

Meskipun tidak semua klaim mengenai manfaat bertelanjang kaki 100% benar, berikut adalah beberapa argumen yang sangat menarik untuk berlari tanpa mengenakan alas kaki :

  • Anda dapat mengembangkan gaya berjalan yang lebih alami dan memperkuat otot, tendon, dan ligamen kaki.
  • Tidak menggunakan penyangga tumit seperti yang terdapat pada sebagian besar sepatu dapat membantu tendon Achilles dan otot betis meregang dan memanjang, sehingga dapat mengurangi cedera, seperti kram betis atau Achilles tendinitis yang disebabkan oleh penggunaan sepatu.
  • Pelari akan belajar mendarat menggunakan telapak kaki bagian tengah dan depan daripada tumit. Saat menggunakan sepatu, biasanya seseorang akan cenderung mendarat menggunakan tumit, karena adanya bantalan yang berlebihan pada sepatu lari, dan penelitian menunjukkan hal ini bukan merupakan gerakan lari yang alami dan efektif. Mendarat dengan tumit pada dasarnya memberikan delay pada setiap langkah. Seorang pelari paling efisien mendarat dengan telapak kaki bagian tengah. Mendarat dengan telapak kaki bagian depan juga memungkinkan lengkungan kaki bertindak sebagai peredam kejut yang alami.
  • Anda dapat meningkatkan keseimbangan dan proprioception. Berlari tanpa mengenakan sepatu, dapat membantu Anda mengaktifkan otot-otot kecil di kaki, pergelangan kaki, tungkai, dan pinggul yang bertanggung jawab untuk keseimbangan dan koordinasi yang lebih baik.
  • Anda mungkin merasa lebih membumi. Bertelanjang kaki membantu Anda meningkatkan keseimbangan, tetapi juga membantu Anda tetap terhubung ke bumi dan terhubung dengan lingkungan Anda. 

Apakah lari bertelanjang kaki aman dilakukan oleh siapa saja?

Jika Anda memiliki riwayat masalah pada kaki, konsultasikan dengan dokter Anda sebelum memulai rutinitas lari bertelanjang kaki. 

Jika Anda memutuskan untuk membuang sepatu lari Anda, ada beberapa hal yang harus Anda ketahui:

  • Mulai dengan lambat. Anda lebih cenderung mengalami cedera jika otot kaki dan tungkai Anda tidak dikondisikan dengan benar untuk berlari tanpa alas kaki. Mulailah dengan interval berjalan-joging, berjalan selama 9 menit, berlari selama 1 menit, dan ulangi, kemudian lakukan hingga jarak yang lebih jauh. Anda juga membutuhkan waktu agar kulit di kaki Anda menebal agar terbiasa berjalan tanpa alas kaki.
  • Berpikir dua kali. Anda perlu mempertimbangkan lingkungan tempat Anda lari. Apakah lingkungan tempat Anda lari cocok untuk berlari tanpa alas kaki atau tidak. Karena berlari tanpa alas kaki pada lingkungan yang tidak Anda ketahui dapat meningkatkan resiko menginjak kaca atau kerikil.
  • Tahu kapan harus berkata tidak. Jika Anda menderita diabetes, atau memiliki masalah pada kaki, Anda harus memakai sepatu lari saat berlari.

Banyak ahli termasuk American Academy of Sports Medicine dan American Podiatric Medical Association percaya bahwa penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memeriksa risiko atau manfaat dari berjalan tanpa alas kaki. 

Mereka merekomendasikan untuk berkonsultasi dengan ahli penyakit kaki yang memiliki banyak pengalaman dengan pengobatan olahraga sebelum menjalani rutinitas berlari tanpa alas kaki.

5 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Rothschild, Carey. (2012). Running Barefoot or in Minimalist Shoes. Strength and Conditioning Journal. 34. 8-17. 10.1519/SSC.0b013e318241b15e. ResearchGate. (https://www.researchgate.net/publication/272032297_Running_Barefoot_or_in_Minimalist_Shoes)
Running in a minimalist and lightweight shoe is not the same as running barefoot: a biomechanical study. British Journal of Sports Medicine (BJSM). (https://bjsm.bmj.com/content/47/6/387)
The Risks and Benefits of Running Barefoot or in Minimalist Shoes. National Center for Biotechnology Information. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4212355/)

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app